Mengalahkan Rasa Takut

Salam sejahtera. Saudara yang terkasih, Mimbar Kristen Minggu ini akan membahas  ayat-ayat Firman Tuhan tentang bagaimana mengatasi rasa takut, dari mana datangnya rasa takut, dan bagaimana kita bisa mengubah situasi yang menakutkan mejadi situasi yang berbeda. Kita akan belajar dari situasi yang tercatat dalam Injil, bagaimana perjalanan murid-murid Tuhan bersama dengan Yesus saat menghadapi situasi yang menakutkan serta bagaimana mengatasi rasa takut itu dan penyebab rasa takut itu. 

Saya mengajak kita semua untuk membaca Matius 8:23-24 yang berbunyi sebagai berikut: “Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.”

Ini situasi yang sudah kita baca dan mungkin sudah kita kenal yang digambarkan dalam Injil Matius. Murid-murid Tuhan itu mengikut Yesus. Ternyata sebagai pengikut Kristus, mereka juga tidak luput dari situasi-situasi yang membawanya kepada rasa takut. 

Dikatakan di dalam ayat yang ke 23: “Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.” Kita sebagai pengikut Kristus sering merasakan kenapa mengikut Yesus masih ada dalam situasi yang membawa kita ke dalam rasa takut itu? Dijelaskan pada ayat ke 24: “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.” Inilah penyebab rasa takut. Kenapa kita menjadi takut? Sebab situasi keadaan berubah sekonyong-konyong atau dengan tiba-tiba. Kita tidak memiliki persiapan, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi, ini yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak siap dan tidak mampu membuat kita masuk dalam situasi yang menakutkan. 

Murid-murid ini hampir setiap hari berada di lingkungan ini. Mereka setiap harinya mencari ikan di danau itu atau menyeberangi danau itu untuk menuju ke daerah-daerah yang lain. Tetapi sekenal-kenalnya mereka dengan keadaan mereka, mereka tidak bisa menduga, atau memperhitungkan atau memperkirakan dengan tepat apa yang bakal terjadi. Sehingga, pada saat terjadi angin ribut, mereka menjadi takut. 

Kemudian dikatakan sehingga perahu itu ditimbus gelombang tetapi Yesus tidur. Penyebab takut yang kedua selain kita tidak bisa menduga situasi yang tiba-tiba berubah, sering kita menganggap Yesus tidak peduli. Yesus tidur. Yesus bukan tidak peduli tetapi Yesus tidak takut dengan situasi yang sedang berubah. Ini yang harus kita pahami sebagai anak-anak Tuhan. Sebagai anak Tuhan jangan sampai kita tidak peduli. Tetapi sebagai anak Tuhan juga, jangan sampai kita menjadi takut oleh perubahan situasi yang sekonyong-konyong atau tiba-tiba datang.

Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi rasa takut itu? Dan mengatasi keadaan yang sekonyong-konyong berubah itu? Kita lanjutkan pembacaannya di dalam Matius 8:25-27 yang berbunyi sebagai berikut:

“Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Dari pembacaan ayat ini, kita belajar rasa takut itu mudah datang karena keadaan yang berubah, sekonyong-konyong atau dengan tiba-tiba. Bagaimana mengatasi situasi ini dan rasa takut ini? Sebagai anak-anak Tuhan sikap kita sangat sederhana, jangan ragu untuk meminta tolong kepada Yesus. 

Di ayat yang ke 25 dikatakan: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Menghadapi ketakutan karena situasi yang sekonyong-konyong berubah, datanglah kepada Yesus. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus melakukan langkah yang sederhana yaitu datang kepada Yesus sebab Yesus tidak pernah takut menghadapi situasi yang tiba-tiba berubah. Bukan tidur dalam konteks tidak peduli melainkan karena Ia tahu bagaimana menghadapi situasi itu. 

Dijelaskan di ayat yang ke 26, berbunyi sebagai berikut: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Ini penyebab rasa takut yang ketiga, kurang percaya. Percaya kepada siapa? Kepada Tuhan. Kita sering lebih percaya kepada situasi yang kita lihat, dibanding percaya kepada Tuhan yang kita sembah. 

Saya mengajak kita semua, situasi memang sebuah kenyataan yang kita lihat dan kita dengar dan itu menakutkan. Sebab sewaktu-waktu bisa berubah secara drastic. Tetapi kita punya Tuhan. Saat kita mengalami rasa takut itu, jangan hilang percaya, percaya kepada Dia. 

Tuhan Yesus menegur: “Mengapa kamu takut?” Kalau Yesus bisa bertanya mengapa kamu takut, maka di dalam Yesus tidak ada ketakutan, Dia bukan tidak peduli, tetapi Dia tidak takut. Mengapa Dia tidak takut? Sebab Dia mampu mengatasi situasi yang berubah ini. 

Caranya seperti apa? “Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” Dunia boleh sekonyong-konyong berubah keadaannya dan membuat kita takut, tetapi kita punya Tuhan yang juga mampu bertindak untuk membuat keadaan sekonyong-konyong berubah,bukan untuk membuat kita menjadi takut tetapi membuat kita memiliki damai sejahtera.

Sekarang kita lihat point berikutnya di ayat yang ke 27, mengapa murid-murid itu menjadi takut sementara mereka satu perahu dengan Yesus: “Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" Mengapa kita menjadi takut padahal kita dekat sekali dengan Yesus? Karena kita belum mengenal siapa Yesus yang sesungguhnya. Kalau kita kenal Yesus, kenal pribadi-Nya , kenal kuasa-Nya maka kita tidak akan takut. Sebab kita tahu Dia mempedulikan kita. Dia mau menjawab di saat kita datang mendekat kepada-Nya dan meminta tolong kepada-Nya. Kita tahu, kita kenal kuasa-Nya. Dia mampu mengubah semua keadaan dengan kuasa-Nya untuk kebaikan kita. Maka kita tidak akan takut. 

Saya ajak semuanya. Kita sudah menjadi orang-orang yang percaya kepada Tuhan tetapi ayo kita bangun terus percaya kita kepada Tuhan dengan cara mengenal siapa Dia, baik pribadinya, baik karya-Nya, baik kuasa-Nya sehingga kehidupan kita tidak sekonyong-konyong berubah dari damai sejahtera masuk ke dalam ketakutan, kemudian ada damai lagi lalu masuk lagi ke dalam ketakutan, tetapi damai sejahtera itu tetap ada di kehidupan kita.

Saya ajak saudara untuk membandingkan situasi yang terjadi di tempat yang sama, di danau yang sama, dengan murid-murid Yesus bersama dengan Yesus. Di dalam Matius 14:24-26, dikatakan bahwa:

“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!"

Di sini kita lihat situasinya di tempat yang sama, di danau yang sama, danau Galilea. Murid-murid itu kembali menyebrangi danau itu dengan perahu, kita kenal mereka sangat-sangat hafal dengan danau itu, tetapi tidak bisa memperkirakan dengan tepat apa yang akan terjadi. Ternyata saat menyebrangi danau terjadi kembali badai yang dahsyat. 

Ayat ke 24: “Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Mereka tidak menduga dan mereka tidak mampu mengatasi situasi itu sebab mereka tepat ada di tengah-tengah danau, sudut manapun yang akan mereka tuju adalah perjalanan yang cukup jauh di tengah badai itu.

Lalu kita akan lihat apa yang dikerjakan oleh Yesus bagi kita semua, bagi murid-murid-Nya, ayat 25: Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ini bukti Yesus bukan tidak peduli, tetapi Dia justru sangat peduli kepada keadaan murid-murid-Nya, terhadap keadaan kita. Buktinya, walaupun di tengah kegelapan, Yesus datang, ini bukti bahwa Yesus bukannya tidak peduli tetapi Ia tidak takut, di tengah badaipun Ia datang. 

Mengapa Ia tidak takut? Sebab Ia mampu mengatasi keadaan itu, buktinya di mana?  Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Yesus peduli dan Yesus tidak takut, sebab Ia tahu apa yang terjadi dan Ia mampu mengatasi apa yang terjadi, Ia berjalan di atas air mendatangi murid-muridNya. 

Dalam keadaan seperti ini, kita menganggap beres sudah rasa takutnya, ternyata tidak. Kita lihat di ayat berikutnya, ayat yang ke 26: Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!” Inilah keadaan yang sering kita alami, kita sering dalam keadaan yang membawa kita dalam ketakutan, Yesus datang kepada kita tetapi ketakutan kita bukannya reda tetapi makin bertambah. 

Kenapa murid-muridnya menjadi tambah takut? Pertama, takut menghadapi badai. Kedua, takut merasa melihat hantu. Karena murid-murid-Nya tidak mengenal Yesus. Inilah pelajaran bagi kita. Murid-murid Tuhan, marilah kita mengenal Dia dan percaya kepada-Nya. Kalau kita kenal dan percaya kepada-Nya, kita tidak takut menghadapi badai, sekalipun badainya belum reda. Kita tidak akan takut kalau kita mengenal Dia dan kita belajar dari Yesus bagaimana mengubah badai itu menjadi keadaan yang berbeda yaitu menjadi situasi yang teduh dan damai. 

Kita lanjutkan pembacaan kita di dalam Matius 14:27-32, yang berbunyi sebagai berikut: “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"   

Di sini kita lihat, murid-murid itu menjadi takut, justru di saat Yesus hendak memberikan pertolongan bagi mereka dengan merubah situasi yang menakutkan itu. Yesus kemudian berkata: Tenanglah! Aku ini, jangan takut! Yesus memperkenalkan diri, Aku ini. Apa artinya Aku ini? Aku yang mampu berjalan di atas air. Dan kalau kita mau mengenal Yesus, semakin mendalam kita mengenal Yesus, kita akan maju bahkan sebelum badai itu reda, rasa takut itu sudah hilang. 

Buktinya, salah satu murid, yaitu Petrus, berkata: Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Petrus tidak lagi menghiraukan badai yang membuat dia takut, kalau Dia mengenal Yesus, Yesus mampu berjalan di atas air, aku minta kepadamu, aku bisa berjalan di atas air. Sehingga aku tidak perlu takut lagi tenggelam sekalipun ada badai. Dan kita lihat Yesus tidak menolak permintaan Petrus ini.

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Badainya belum surut tetapi kita mampu melangkah ke depan, kita mampu menghilangkan rasa takut itu. Sebab, apa yang kita takutkan karena badai itu, yaitu tenggelam, kita mampu atasi, karena kita mampu berjalan di atas air. Inilah menjadi anak-anak Tuhan, mengenal Dia membuat kita mampu mengatasi rasa takut. 

Kalau kita mengenal Dia, kita mampu mengubah situasi yang membuat kita takut itu menjadi situasi yang penuh dengan kedamaian. Tetapi, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia. Inilah manusia, mudah menjadi takut, apalagi yang membuat manusia menjadi takut? Karena mendengar situasi, melihat situasi yang di sekitarnya. 

Seperti di awal tadi kita sudah bahas, apakah kita harus menjadi orang yang tidak peduli dengan sekitar kita? Bukan, tetapi jangan kita sampai tidak mempedulikan Tuhan dan lebih memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Pada saat Petrus mulai memperhatikan keadaan sekitarnya, mulai mendengar apa yang ada di sekitarnya, mulailah ia takut. Tetapi di saat ia takut dan mengalami situasi yang mencekam lagi-lagi pelajaran yang bisa kita tarik di sini ialah lalu berteriak Tuhan tolonglah aku, jangan ragu untuk berseru kepada Tuhan. Dan bukti Tuhan yang kita sembah selalu mempedulikan kita. Dia tahu apa yang kita takutkan dan di ayat 31 disebutkan: Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Mengapa kita ketakutan karena kita kurang percaya kepada Yesus dan lebih percaya kepada apa yang di sekitar kita, apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan di sekitar kita. Sekali lagi saya katakan, Tuhan tidak mengajarkan kita untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita tetapi jangan sampai kita mengabaikan Tuhan dan lebih mempedulikan sekeliling kita, keadaan di sekitar kita, bahkan keadaan kita. 

Percayalah kepada Dia. Kalau kita percaya kepada Dia, kita bukan hanya mampu melawan rasa takut itu. Kita bahkan mampu mengubah situasi yang menakutkan itu. Ia naik ke perahu itu dan angin pun redalah. Kita tahu sumber ketakutan. Kita tahu mengatasi rasa takut itu dan kita tahu cara mengubah situasi yang menakutkan itu ke dalam situasi  yang penuh dengan kedamaian. 

Caranya ada di mana? Ada di dalam Yesus. Kalau kita percaya kepada Dia, kita mengenal Dia, kita berseru kepada Dia, situasi sekarang yang kita dengar memang situasi yang menakutkan tetapi kita tidak tenggelam di dalam rasa takut itu. Kita mampu mengatasi rasa takut itu. Dan kita pasti mampu mengubah situasi yang menakutkan itu ke dalam situasi yang penuh dengan damai sejahtera. Amin. Tuhan memberkati kita semua

Pdt. Handoyo Santoso Santoso, D.Min., DD. (Sinode Gereja Kemah Tabernakel)