Mengambil Inisiatif

Syalom. Umat Kristen di Indonesia. Baru saja kita melewati minggu minggu Paskah. Kita menyadari di Alkitab tercatat begitu banyak kejadian seputar kebangkitan Kristus. Bahkan sampai menjelang kenaikanNya dan gereja mula-mula yang hari ini bukan hanya kita bisa pelajari, tapi kita bisa hidupi hingga zaman sekarang.

Refleksi Minggu ini akan membahas Injil Lukas pasal 24 ayat 1 sampai 12 sebagai berikut: 1) Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. 2) Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, 3) dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. 4) Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.

5) Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? 6) Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, 7) yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”

8) Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. 9) Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. 10) Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.

11) Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. 12) Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

Hari ini, kita belajar sesuatu dari firman Tuhan seputar kebangkitan Kristus. Kita belajar berita kebangkitan pertama kali, uniknya ditulis dalam Alkitab terutama di Injil Lukas kepada perempuan-perempuan terlebih dahulu. Di mana begitu banyak murid Yesus yang sebagian besar adalah pria. Mereka memilih untuk mungkin bersedih, berpikir keras, berkumpul dalam sebuah tempat. Perempuan-perempuan ini mengambil inisiatif untuk mengunjungi kubur Yesus.

Saya percaya perempuan-perempuan ini datang dalam keadaan berduka. Mereka tahu bahwa jenazah Yesus dikuburkan dengan suasana yang sangat cepat sekali karena menjelang Sabat. Tidak banyak waktu yang mereka bisa kerjakan menjelang Sabat untuk bisa merawat jenazah Yesus. Mereka mengambil inisiatif untuk datang ke kubur Tuhan. Untuk melakukan apapun yang bisa mereka lakukan dengan membawa rempah-rempah, mungkin untuk memperbaiki hal yang mungkin kurang mereka bisa kerjakan menjelang penguburan Yesus. Tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka datang dalam situasi yang sudah berbeda, bahwa Yesus tidak ada lagi di kubur tersebut tetapi setelah bangkit dari antara orang mati.

Yang saya ingin garisbawahi di sini adalah kata mengambil inisiatif. Saya tidak melihat, kita tidak bisa membaca bahwa mereka disuruh untuk melakukan hal tersebut. Mereka didorong untuk pergi ke kubur Yesus. Mereka dibujuk untuk membawa rempah-rempah. Tetapi mereka memilih untuk mengambil inisiatif.

Inisiatif adalah sesuatu kata yang sangat positif sekali. Kalau memang tujuannya juga positif. Inisiatif adalah keinginan, niat untuk bangkit dan kemudian melakukan sesuatu. Inisiatif adalah sebuah kerinduan untuk tidak hanya berdiam diri saja menunggu hal yang baik terjadi. Inisiatif adalah bukannya sebuah keadaan di mana seseorang tidak lagi mau tahu, tidak lagi mau melakukan apapun yang baik dan menunggu nunggu saja sampai musim berubah, sampai keadaan lebih menguntungkan baru dia mau melakukan sesuatu. Inisiatif seringkali diperlukan justru ketika keadaan penuh dengan tantangan.

Hari-hari ini, saya juga melihat dan salut dengan wanita-wanita di Indonesia. Karena pandemi, banyak orang yang mengalami tantangan kesusahan, terutama di bidang finansial. Banyak rumah tangga yang menerima kabar kurang mengenakkan. Secara ekonomi, seluruh belahan dunia mengalami kemerosotan. Banyak juga kepala keluarga yang mengalami pemotongan gaji atau pengurangan jam kerja atau bahkan mengalami pemecatan.

Tetapi, saya melihat banyak wanita bergerak, mengambil inisiatif untuk membantu situasi keluarga yang sedang sulit. Banyak wanita mengambil inisiatif, di saat anak-anak mereka sekolah secara online. Ibu-ibu mengambil peran luar biasa. Bukan hanya melakukan sesuatu untuk menambah penghasilan keluarga, tetapi juga sambil mengawasi anak-anak memastikan bahwa mereka belajar.

Saya melihat, bahwa inisiatif ini merupakan suatu semangat. Saya berdoa di hari ini, ketika kita membaca firman Tuhan, ketika kita melihat inisiatif itu ada dalam kehidupan setiap orang percaya, bahwa kita bukan hanya orang yang menunggu sampai situasi kembali menjadi baik. Tetapi kita adalah orang-orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa untuk membuat sesuatu sehingga situasi menjadi semakin baik.

Saya beberapa waktu yang lalu berbicara dengan seorang penjual makanan kecil, jajanan di pinggir jalan. “Sejak kapan Bapak melakukan ini?” Dia berkata kalau sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan dengan dengan posisi yang cukup baik. Tetapi perusahaan kewalahan karena tidak ada penjualan di tengah pandemi ini. Situasi ekonomi sangat merosot sehingga terpaksa dia ‘dirumahkan’.

Kemudian dia katakan bahwa, setelah itu saya mengambil inisiatif. Di pagi hari hingga siang hari, dia mengemudikan kendaraannya dan kemudian mengantar barang kurir secara online. Dia menerima pesanan, kemudian mengantarkan barang, mengambil barang dari sebuah tempat dan kemudian mengantarkannya ke tempat yang lain. Menjelang sore dia mengolah makanannya dan kemudian dari sore hari hingga malam dia berdagang.

Dan kemudian saya bertanya, “Apakah cukup?” Dia berkata,”Cukup, yang saya lakukan ini cukup dibanding tidak melakukan apa-apa.”

Sungguh hari ini Tuhan memanggil kita bukan hanya menjadi orang yang menunggu berita, tapi kita dipanggil sama Tuhan untuk menjadi orang-orang yang mengambil inisiatif. Kita belajar dari perempuan-perempuan ini, mereka mengambil inisiatif untuk melihat Yesus dan mereka pada saat itu tidak mengharapkan melihat Yesus yang telah bangkit. Mereka tidak tahu bahwa Yesus telah bangkit.

Tetapi kita pada zaman ini, marilah kita sebagai orang percaya kita mengambil inisiatif untuk bertemu dengan Yesus yang hidup. Yesus yang bisa kita ‘kunjungi’ kapan saja. Yesus yang bisa kita ajak bicara kapan saja lewat doa kita, lewat penyembahan kita, lewat permohonan kita, lewat kehidupan kita, lewat ibadah kita.

Dan hari ini, inisiatif yang paling besar yang bisa kita lakukan adalah, inisiatif untuk terus menjalin komunikasi dengan Tuhan. Karena saya rasa ini penting. Karena ada begitu banyak berita di sekeliling kita, begitu banyak orang mengatakan dia punya jawaban. Tetapi saya mau katakan, pandemi ini membuktikan, bahwa kuasa manusia itu sangat terbatas. Setiap dari anda dan saya membutuhkan Tuhan. Setiap dari anda dan saya membutuhkan rhema, suara dari Tuhan. Setiap dari kita membutuhkan tangan pertolongan dari Tuhan bukan?

Hari ini saya rasa inisiatif yang paling baik yang bisa kita lakukan adalah inisiatif untuk terus menjalin komunikasi dengan Tuhan yang hidup. Hari ini saya rasa Tuhan itu tidak terlalu jauh untuk bisa mendengarkan kita. Dia Tuhan yang mendengarkan kita. Bahkan Firman Tuhan berkata bahwa Dialah Imanuel, Tuhan yang melekat bersama-sama dengan kita, hidup di dalam kita.

Saya berdoa setiap dari Anda mendapatkan kekuatan yang baru setiap kali anda mau untuk menjalin komunikasi dengan Tuhan. Dan apa yang bisa kita pelajari di Lukas pasal yang ke-24 yang baru saja kita baca. Mereka datang dengan membawa rempah-rempah sesuatu yang wangi, sesuatu yang membawa perasaan yang lebih baik, sesuatu dengan bau-bau yang menyenangkan.

Saudara-saudara hari hari ini ada begitu banyak hal yang kurang baik di sekeliling kita. Bukan hanya dengan kenyataan bahwa ada pandemi yang masih ada di sekeliling kita, tetapi ada begitu banyak kabar hoax, kabar buruk yang ada. Ada begitu banyak berita-berita yang tidak benar. Seringkali ketika saya mendapatkan berita tersebut di HP saya, maka ketika tidak jelas sumbernya darimana, tidak jelas beritanya apa, Saya memilih untuk mendelete dan tidak menyebarkannya kepada orang lain. Saya yakin sekali panggilan dari Tuhan dalam kehidupan orang percaya bukan hanya kita sekedar membawa diri kita ke mana pun kita pergi. Tetapi bukankah Firman Tuhan berkata bahwa, di mana pun kita berada kita harus jadi garam dan terang buat semua orang.

Dan di sini saya rasa ketika kita belajar dari Lukas 24, di manapun kita berada, Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu yang wangi. Sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak berbau busuk, sesuatu yang yang mendatangkan kelegaan bagi orang yang ada di sekeliling kita.

Bukankah kita senang ketika sekeliling kita ada banyak orang yang membawa wangi, sesuatu yang menyegarkan? Dibanding dengan kalau di sekeliling kita ada hal-hal yang ketika kita cium kurang menyenangkan?

Demikian juga dengan perempuan-perempuan itu, mereka datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa sesuatu yang wangi. Ada banyak hal yang mungkin bisa membuat kita risau, galau, dan mungkin membuat kita pahit di musim-musim ini. Baiklah kita tidak kehilangan sesuatu yang wangi dari diri kita. Jangan kehilangan sesuatu yang wangi dari jiwa kita. Jangan kehilangan sesuatu yang menyenangkan dari diri kita.

Mungkin kita ada persoalan, tetapi kita bisa menjadi orang Kristen Yang hidup di tengah tantangan, sekaligus menjadi pribadi yang menyenangkan, positif, membawa optimisme, serta tidak membuat orang lain terluka dan terpuruk hingga kemudian merasa keadaannya sangat buruk, tanpa jalan keluar.

Saya yakin sekali setiap dari kita, Alkitab sendiri yang mengatakan, bahwa mati dan hidup dikuasai oleh lidah. Hari ini apa yang keluar dari lidah kita, apa yang keluar dari hati kita, apa yang keluar dari pikiran kita, apa yang diperbuat oleh tangan kita, saya berdoa setiap dari anda dan saya, hari-hari ini mengalami Tuhan. Mengalami bahwa Dia mau bukan hanya kita sekedar hidup, tapi kita mau supaya hidup kita membawa sesuatu yang cerah buat orang lain.

Wanita-wanita ini ditegur oleh Malaikat, “Kenapa engkau tertunduk? Jangan engkau takut.” Seringkali keadaan seperti pandemi ini membuat kita tertunduk, seakan-akan layu dan patah semangat, serta membuat kita seakan-akan tidak tahu arah. Tetapi hari ini, Ayo! Sebagai umat Tuhan kita tegakkan kepala kita, kita naikkan permohonan dan jiwa kita kepada Tuhan.

Baiklah, kita memikirkan perkara-perkara yang di atas, di mana Firman Tuhan di dalam Alkitab mengatakan demikian. Pemazmur berkata bahwa aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Hari ini umat Tuhan jangan tundukan kepalamu, naikkan kepalamu. Bukannya kita sombong, tetapi kita menjadi orang-orang yang berharap-harap sama Tuhan.

Ada banyak hal yang terjadi ketika orang percaya memilih untuk tidak menundukkan kepalanya dengan lesu, tetapi memilih untuk memandang Tuhan. Bukankah kita melihat di dalam Alkitab? Yesus pun melakukan demikian. Dikatakan ketika Dia rindu untuk memberi makan 5000 orang, Dia bertanya, “Apakah ada makanan bagimu?” Murid-murid berkata tidak ada, bahkan kita tidak punya cukup uang untuk bisa memberikan makanan kepada semuanya. Kampung-kampung, desa-desa sekeliling sini mungkin sudah mau tutup karena hari menjelang petang.

Kemudian kita tahu ceritanya 5 roti dan 2 ikan. Kemudian dikatakan, Yesus mengangkat, mengucap syukur atasnya dan kemudian Dia berdoa. Dia mengucap syukur dan kemudian dibagikan kepada mereka. Dipecah-pecah roti dan ikan itu dan kemudian 5000 orang bisa makan sampai kenyang. Bahkan sisanya ada 12 bakul.

Kita telah mengerti cerita itu sejak lama sekali. Ketika orang Kristen memilih untuk mengucap syukur, mengangkat kepalanya kepada Tuhan mukjizat terjadi, kreativitas terjadi, multiplikasi terjadi, sesuatu yang baru terjadi dan kehidupannya. Mari umat Tuhan, tetaplah wangi, tetaplah optimis, naikkan kepalamu, jangan tundukan kepalamu. Di situ Anda akan melihat pertolongan Tuhan.

Juga terjadi kita melihat, ketika itu Abraham, dia ragu akan janji Tuhan. Bahwa Tuhan akan memberikan kepada dia keturunan yang banyak. Dan kemudian Alkitab mengatakan di Kejadian bahwa dia ada dalam tenda, di dalam kemah dia. Dia lagi memikirkan kenapa ini belum terjadi. Dan kemudian Firman Tuhan sampai kepada Abraham dan berkata, "Keluar dari kemah, keluar dari tenda. Lihat ke atas.” Dan ketika dia lihat ke atas, firman Tuhan kepada Abraham berkata bahwa, lihat keturunan akan sebanyak bintang di langit. Ketika dia melihat ke atas, ada satu pengharapan yang baru, ada sukacita yang baru, ada iman yang baru.

Saya berdoa setiap dari anda dan saya, setiap dari kita, ketika kita mempunyai inisiatif untuk menghampiri Yesus. Ketika kita punya inisiatif untuk selalu wangi dihadapNya, Ketika kita punya inisiatif untuk belajar untuk mendongakkan kepala kita ke atas mengucap syukur, menyembah Dia, maka kita akan menjadi pembawa kabar baik.

Perempuan-perempuan ini datang kembali ke rasul-rasul. Rasul-rasul mungkin tidak percaya, tetapi ada yang percaya. Petrus pergi ke kubur. Mungkin dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi kita tahu pada hari Pentakosta, ketika itu Petrus berkhotbah dan kemudian ribuan orang menerima kabar keselamatan.

Kita dipanggil untuk menjadi pembawa kabar baik dan bukan menjadi pembawa kabar buruk. Marilah, kita mengambil inisiatif apa yang keluar dari mulut kita, apa yang keluar di tangan kita, apa yang keluar dari hati kita semuanya, kita mau ambil inisiatif. Apapun yang membawa Kemuliaan bagi Tuhan itulah yang akan saya lakukan.

Hari ini, semua dari Anda pemirsa yang saya cintai. Hari ini, setiap dari kita, marilah kita mengambil inisiatif untuk memuliakan Tuhan lewat apapun yang kita kerjakan. Dan saya berdoa lewat Firman Tuhan yang sederhana hari ini, bisa membawa kita untuk dengan iman dan keyakinan melihat kehidupan ke depan dengan penuh pengharapan. Amin

 

Pdt. Sam Hartanto