Mengawal Semangat Beribadah Ramadan

Ramadan sudah memasuki hari ke-10. Puji syukur selayaknya terus dipanjatkan kepada Allah SWT atas nikmat kesempatan beribadah Ramadah 1442H. Bulan ini penuh berkah dan membawa berbagai kabar gembira sehingga kehadirannya disambut bahagia.

Semangat ibadah membuncah. Itu setidaknya terlihat dari banyaknya jamaah Salat Tarawih, baik di masjid maupun langgar, mushalla, atau dan meunasah.

Jamaah salat fardu juga lebih ramai dari biasanya. Ramadan menjadikan umat Islam semakin betah beramal ibadah.

Semangat yang sama dirasa dalam menjalani puasa. Setiap orang berlatih untuk menjaga kualitas puasanya. Ada sikap kehati-hatian atas segala perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa. Umat Islam berusaha menjaga lisan dari kata-kata kotor, ghibah, bohong dan lainnya. Sebisa mungkin mereka menjauhi perbuatan zalim, serta terus berupaya menjaga persaudaraan sesama.

Semangat Ramadan ini semestinya terus dijaga, jangan sampai luntur dan berubah arah. Masih ada belasan hari ke depan yang menjadi ladang umat untuk beramal.

Semangat ini jangan sampai memudar. Sebab keutamaan Ramadan membentang dari hari pertama hingga saat menjemput kemenangan di Hari Raya. Umat Islam dituntut untuk tetap produktif dalam melaksanakan ibadah dan amal shalih, tetap memiliki semangat sehingga benar benar dapat menikmati keberkahan dan fadhilah Ramadan.

Bahwa semangat itu bisa berkurang dan bertambah adalah hal biasa. Karenanya, kita diharapkan dapat mengontrolnya, agar amalan yang kita lakukan tetap istiqamah.

Allah SWT sangat mencintai hambanya yang Istiqamah dalam mengerjakan amal kebaikan. Dalam Al-Qur’an surat Hudd ayat 112, Allah berfirman: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kalian kerjakan”.

Ayat tersebut mengandung perintah untuk tetap istiqamah, baik dalam hal akidah maupun hal amal shalih. Ayat tersebut juga merupakan ayat paling berat dilaksanakan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat tersebut. Oleh karena itu ketika beliau ditanya, betapa cepat engkau beruban, Rasulullah SAW berkata kepada sahabatnya, ‘yang membuatku beruban adalah surat Hudd dan surat-surat semisalnya.’ Karena di dalam ayat tersebut ada perintah untuk Istiqamah.

Untuk menjaga semangat beribadah Ramadan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, memperbaiki kembali niat, ikhlas semata mengharap rida Allah. Kedua, memperbanyak shalawat dan zikir. Ketiga, melanjutkan komitmen dan perencanaan awal, sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Keempat, tidak berlebihan sehingga ringan dalam melaksanakan. Misal,  karena ingin segera mengkhatam Al-Quran di bulan Ramadan, orang menargetkan tadarus tiap malam tiga juz. Tapi, hal itu ternyata tidak dijalankan secara istiqamah, lalu ditinggalkan karena berbagai hal.

Dalam kondisi seperti ini, lebih baik tidak memaksakan satu malam tiga juz, tapi cukup satu juz dan dikerjakan berkelanjutan. Ini hanya sebuah perumpamaan agar istiqamah itu hadir dalam setiap amalan kebaikan yang kita laksanakan.

Kelimq, memahami hikmah amal kebaikan. Di antara hal yang bisa memotivasi diri untuk istiqamah adalah mengetahui dan meyakini sepenuhnya, manfaat dan hikmah dari amalan tersebut.

Semoga tahun ini, kita tetap bisa istiqamah sampai akhir Ramadan. Keistiqamahan yang dilatih ini lalu bisa diterapkan pada 11 bulan berikutnya. Aamiin.