Mengembangkan Diri

Attānameva paṭhamaṃ, Patirūpe nivesaye; Athaññamanusāseyya, Na kilisseyya paṇḍito. Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan diri sendiri dalam hal-hal yang patut, dan selanjutnya melatih orang lain. Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela. (Dhammapada, Syair: 158)

Keinginan untuk berkembang merupakan sebuah proses mendasar yang dimiliki oleh setiap individu terutama berkembang dalam hal-hal yang positif. Tidak ada satu orang pun manusia yang berharap dirinya terpuruk dan terjebak pada hal-hal yang negatif atau buruk. Akan tetapi kenyataannya banyak juga manusia yang terjebak pada hal-hal yang buruk meskipun hal tersebut sebenarnya bukan murni kemauan individu orang tersebut.

Bangkit dari keterpurukan menjadi jalan terbaik dalam menata kehidupan manusia. Jika kita hanya diam dan pasrah dengan apa yang kita alami, maka konsekuensi yang akan kita terima adalah kita tidak akan pernah maju dan berkembang. Menyadari bahwa setiap apa yang terjadi dalam diri kita adalah buah dari apa yang kita lakukan pada masa lalu, adalah penting. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan renungan dan pembelajaran. Akan tetapi kita semestinya memiliki tekad yang kuat dengan cara berjuang, belajar, dan berusaha untuk bangkit dan berkembang.

Upaya pengembangan diri seseorang tentu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berangkat dari tekad dan kemauan dari diri sendiri sedangkan faktor eksternal bisa terjadi karena tuntutan ataupun sebuah keharusan. Dalam dunia kerja, mengembangkan diri adalah sebuah tuntutan dan keharusan. Jika kita terlalu menikmati zona nyaman dengan posisi yang ditempati, konsekuensi logisnya adalah kita tidak akan berkembang dan akan ketinggalan zaman.

Upaya mengembangkan diri tentunya bukan hanya berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi saja. Jauh lebih penting jika kita mengembangkan diri dalam hal spiritual. 

Berkaitan dengan proses mengembangkan diri dalam spiritual, Guru Agung Buddha memberikan nasihat sebagaimana dalam Mahagopalaka Sutta. Dijelaskan bahwa jika seseorang akan berkembang dan menambah pengetahuannya tentang dhamma dan disiplin maka seseorang tersebut harus memiliki 11 (sebelas) Dhamma yaitu  (1) mempunyai kemampuan/pengetahuan; (2) ia mempunyai kepribadian; (3) ia dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk; (4) ia dapat menutupi kekurangannya; (5) ia dapat memadamkan nafsunya; (6) ia mengetahui ladang yang subur; (7) ia tahu apa yang diterimanya (8) ia tahu jalan yang benar; (9) ia mempunyai kemampuan untuk membimbing; (10) sebagai seorang pembimbing ia mempunyai pengetahuan yang cukup; dan yang ke-(11) ia dapat memberikan saran-saran kepada anggota-anggota sangha yang lebih tua yang merupakan pembimbingnya. Dengan cara-cara seperti itulah, seseorang dapat berkembang pengetahuan dan kepribadiannya.

Menyadari bahwa pengembangan diri adalah sebuah kebutuhan, maka sudah selayaknya jika kita sebagai umat yang berakal budi mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi arus perubahan. Setiap kita hendaklah senantiasa mampu menyesuaikan diri dan mampu bersaing dalam tatanan kehidupan yang semakin berkembang pesat. Ketidakmampuan mengembangkan diri hanya akan membuat diri kita seperti katak dalam tempurung. Pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki hanya sebatas apa yang ada di sekelilingnya.

Mari kita senantiasa mengembangkan diri dalam berbagai aspek kehidupan. Teruslah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas diri. Semoga kita senantiasa memperoleh berkah terluhur. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.