Menghargai Kemanusiaan

Abhivādanasīlissa, niccaṁ vaḍḍhāpacāyino. Cattāro dhammā  vaḍḍhanti, āyu vaṇṇo sukhaṁ balaṁ. Seseorang yang selalu menghormati, dan menghargai mereka yang lebih tua dan lebih suci, maka akan memperoleh empat manfaat, umur panjang, keanggunan, kebahagiaan, dan kekuatan. (Dhammapada, Syair:109)

Manusia adalah makhluk sosial di mana dalam hidupnya tidak dapat terlepas dari kerjasama antar sesama manusia. Sejak berada di dalam kandungan, manusia sudah membutuhkan dukungan orang lain dalam mempertahankan hidupnya terutama dalam hal ini dari sosok seorang ibu. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan orang lain, pun demikian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Hakikat manusia sebagai makhluk sosial berlaku bagi semua manusia tanpa memandang kedudukan sosial, suku, agama, ras, maupun golongan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, adalah keniscayaan yang harus dilakukan untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan sesama tanpa dapat memilah dan memilih. Upaya untuk menjadikan diri sendiri menjadi manusia yang individualis, memisahkan diri dari orang lain, dan acuh tak acuh justru akan menimbulkan persoalan tersendiri. Persoalan dalam diri sendiri ataupun persoalan hubungan sosial kemasyarakatan, yang pada akhirnya akan melahirkan penderitaan dalam dirinya.

Menyadari adanya ketergantungan dengan orang lain, semestinya membuat manusia menjadi sadar bahwa dengan ketidakmampuan untuk dapat hidup sendirian, diperlukan adanya kesadaran untuk dapat saling memahami dan menghargai antar sesama. Kemampuan saling menghargai atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, sebagai bentuk hubungan timbal balik yang tulus yang berimbas pada kebaikan pada diri masing-masing pihak.

Berkaitan dengan perilaku menghargai kemanusiaan, Guru Agung Buddha Gotama memberikan wejangan dalam Ratana Sutta sebagai berikut “Maka itu, duhai para makhluk, perhatikanlah perlakukanlah umat manusia dengan cinta kasih, Lindungilah mereka dengan tekun, sebagaimana mereka mempersembahkan sesajian kepadamu siang dan malam”. Makna yang dapat dipetik dari nasehat tersebut, Guru Agung Buddha Gotama mengajarkan agar sesama umat untuk senantiasa saling menebar cinta kasih dan saling melindungi antar sesama manusia tanpa membedakan apapun.

Cinta kasih (metta) dan kasih sayang (karuna) menjadi faktor penting bagi manusia dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. praktik yang demikian tentu akan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, dengan demikian jargon menghargai kemanusiaan tentu akan terlaksana dengan baik. Lebih lanjut, Guru Agung Buddha Gotama memberikan penegasan dalam Karaniya Metta Sutta bagaimana hendaknya orang memperlakukan semua makhluk melalui syair berikut “Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya, melindungi anaknya yang tunggal, demikianlah terhadap semua makhluk, dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas”.

Menghargai kemanusiaan memerlukan kesadaran totalitas, bukan sekedar menahan diri dengan tidak mengganggu atau mengusik orang lain, atau hanya bersifat pasif semata. Menghargai kemanusiaan lebih ditekankan bagaimana manusia memperlakukan manusia lain melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan badan jasmani atas dasar nilai-nilai universal kemanusiaan. Dengan lain kata, menghargai kemanusiaan adalah sebagaimana manusia memanusiakan manusia itu sendiri.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.