Menghargai Perbedaan

Saya terlahir sebagai seorang laki-laki. Saya bangga ditakdirkan sebagai seorang laki-laki. Karena rasa bangga tersebut saya akan menjadi seorang laki-laki yang baik, yang bertanggung jawab terhadap istri, anak-anak dan keluarga saya. Maka dari itu saya terus belajar dan membina diri agar dapat menjadi laki-laki seutuhnya.

Isteri saya seorang perempuan. Dia bangga ditakdirkan sebagai seorang perempuan. Menjadi seorang ibu dengan empat orang puteri dilakoni dengan penuh tanggung jawab. Apalagi menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga dilakukan dengan sempurna.

Laki-laki dan perempuan ditakdirkan dengan keunikan masing-masing, punya kelebihan dan kekurangan. Siapa yang paling hebat? Laki-laki atau perempuan?. Ah..buat apa dijawab dan buat apa dipertentangkan? 

Yang paling penting kita harus saling menghormati, bertanggung jawab dan bangga akan takdir kita. Kita ditakdirkan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing sehingga bisa membina rumah tangga hingga ajal menjemput kita.

Bagaimana dengan agama? Agama diciptakan Tian dengan keunikan masing-masing. Buat apa dipertentangkan? Berarti mempertentangkan Tian yang menciptakannya.

Nabi Kongzi bersabda, "Berbeda Jalan Suci tidak usah saling berdebat." Sudah jelas agama Khonghucu sangat menghargai arti perbedaan agama. Kita harus menghormati orang yang berbeda agama. Kalaupun perbedaan tersebut terus digaungkan tidak akan pernah ada titik temu, kecuali menerima perbedaan sebagai keindahan hidup yang memang harus ada.

Saya seorang laki-laki yang beragama Khonghucu. Saya sangat bangga akan takdir yang Tian berikan, dan akan terus menjaganya.

Pagi hari makan bubur. Siang hari makan wajik. Sebelum nanti kita dikubur. Sudahkah kita berbuat bajik?

 

Etno Frandy (Rohaniwan Khonghucu)