Menghayati Cinta Kasih Merangkai Kehidupan Santhi di Zaman Kali

Om Swastyastu. Om Awighinam Astu Namo Sidham, Om anubhadrah kartayo yantu visvatah ya namah svaha.

Di kehidupan saat ini kita menemui berbagai jenis agama dengan sistem peribadatanya masing – masing. Meskipun memiliki teologi dan cara peribadatan yang berbeda – beda tetapi semua agama mengajarkan suatu hal yang sama, yaitu kedamaian. 

Hindu dengan tegas mengajarkan perdamaian melalui penanaman nilai “Vasudaiava kutumbakam dan Tattvam Asi”. Islam mendefiniskan dirinya sebagai “ al hanafiah as –samhah “ yang artinya agama yang mengedepankan toleransi dan perdamaian. Begitu pula Agama Kristen Katolik mengatakan “Shalom aleichem” yang artinya semoga kedamaian selalu menyertaimu.  Kitab Dammapada mengatakan “kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci Inilah satu hukum abadi”. Secara jelas agama Buddha juga mengajarkan perdamaian. Agama Khonghucu mengajarkan “Chung yung”, yaitu sikap selalu di tengah-tengah antara hidup berlebih-lebihan dan kekurangan yang dapat memberikan keseimbangan terhadap kehidupan. Beberapa ajaran tadi sangat jelas bahwa semua agama mengajarkan kedamaian.

Secara faktual bagaimana kondisi perdamaian di dunia ini? Kasus kekerasan dan permusuhan dari tahun – tahun tidak pernah reda. Indeks perdamaian global tahun 2020 menunjukkan bahwa tingkat perdamaian global memburuk dengan skor rata-rata negara turun 0,34 persen. Bahkan di negara kita masih terasa akan adanya kekerasan, kriminal, permusuhan. Kita di internal agama Hindu juga terkadang masih ada percekcokan.

Pertanyaannya, mengapa kesenjangan ini bisa terjadi? Perdamaian sangat sulit dicapai karena kita saat ini berada di zaman Kaliyuga. Pada zaman Kaliyuga, tingkat moralitas yang tersisa hanya seperempat dari yang ada pada zaman Satyayuga. Sehingga, lembu dharma hanya berdiri dengan satu kaki saja.

Dalam kitab Wisnupurana dituturkan: “Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot..... Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.”

Yang tertuang di dalam Wisnupurana sangat real dan dapat kita rasakan betapa kejamnya kehidupan di zaman Kaliyuga. Tetapi yang perlu diingat masih ada 25% orang di zaman Kaliyuga ini yang akan masih tetap berada di jalan dharma. Untuk itu, yang manjadi harapan, mari umat Hindu mulat sarira dan berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari 25 % orang itu.

Lalu bagaimana untuk merangkai kehidupan yang santhi di zaman Kaliyuga ini? Dalam Bhagavat Githa II.70 disebutkan: Apuryamanam acalya prasistam. Samudram apah prawicanti yadwat. Tadwat kama yan prawicanti sarwe. Sa santim apnoti na kama-kami

Artinya: “Hanya orang-orang yang tidak terpengaruh oleh arus keinginan, yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai kedalam lautan, yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang untuk mencapai kedamaian bukan orang-orang yang berusaha mengisi keinginan itu yang dapat mencapi kedamaian”.

Sloka di atas dengan jelas mengajarkan bahwa terbelenggu akan keinginan menyebabkan kedamaian sulit terwujud. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya terbelenggu akan Kama (Nafsu) modal utama muncul Sad ripu yang ada dalam diri manusia. Sloka tersebut juga mengajak kita untuk selalu mengisi diri, pertanyaanya diisi dengan apa diri kita agar mampu memperoleh kehidupan yang santhi. Cinta Kasih yang lascarya adalah sifat yang harus tertanam dalam diri kita untuk merangkai kehidupan yang santhi.

Dalam diri kita sudah ada bibit kasih sayang dan kedamaiaan, perjalanan latihan bergerak semakin sempurna. Ketika manusia dalam kesehariannya rajin menyirami bibit kasih sayang dan kedamaiaan, serta berhenti menyirami bibit kebencian dan kemarahan. Satu-satunya jalan adalah dengan mempraktikkan akan damainya sebuah “Cinta Kasih”. Dia bisa seteguh karang dan semenyentuh embun pagi yang sejuk dan menyegarkan. Berangkat dari sentuhan-sentuhan hangat kasih sayang, tidak seharusnya kita saling membenci, dan tidak mesti ada persaingan dengan menyakiti yang lainnya. Bila bibit kasih yang kita tanam kemudiaan diairi dengan siraman keikhlasan, serta dipupuk dengan keheningan, maka suatu saat akan mekar bunga-bunga kebahagiaan sejati (Sat cit Ananda) selanjutnya akan bermunculan buah-buah kebebasan tanpa keterikatan.

“Selain Tuhan tiada orang yang memiliki kemampuan untuk berdiam di dalam dirimu”. Mungkin terdapat segelintir orang yang mengatakan bahwa mereka adalah teman atau sahabat sejatimu, namun cobalah renungkan, “Apakah mereka bisa “tinggal” di dalam dirimu?” Ketahuilah bahwa sahabat-sahabat duniawi bersifat eksternal. Sedangkan sahabat sejatimu ada di dalam dirimu, dan dia adalah perwujudan Tuhan, yaitu Cinta Kasih. Batin yang dilandasi Cinta Kasih terhadap Sang Hyang Widhi tidak akan terpengaruh oleh gelombang pasang surut kehidupan ini, persis seperti seorang pasien yang telah di bius tidak akan merasakan sakit akibat sayatan pisau ahli bedah, Cinta Kasih seperti ini akan mencapai kedamaian.

Kepada siapa kita harus menyurahkan cinta kita? Tri Hita karana lah jawabanya. Kita harus memberikan cinta kita ke tiga objek ini, yaitu: parahyanagan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan, untuk menyalurkan cinta kasih kita kepada Tuhan, kita mulai dengan cara yang sederhana, yaitu bersembahyang dan lebih dalamnya dengan menerapkan ajaran Nawa Vidha Bhakti. 

Pawongan, untuk menyalurkan cinta kasih kita kepada sesama manusia, maka kita harus menerapkan nilai-nilai “Vasudaiva Kutumbakam dan Tat Tvam Asi”. Aplikatifnya, dengan saling menghargai, saling menolong, saling memberi tanpa memandang dan membedakan apa jubahnya. 

Palemahan, Hindu tidak hanya mengajarkan mencintai Tuhan dan manusia, tetapi juga alam yang ada. Mengapa demikian, sesungguhnya alam tumbuh-tumbuhan adalah makhluk pertama yang diciptakan di dunia ini. Sehingga, tumbuhan adalah bagian dari leluhur kita yang perlu kita kasihi. Bagaimana wujudnya, yaitu dengan menjaga keasrian lingkungan dengan membuang samapah pada tempatnya dan tidak merusak tumbuhan dan hewan.

Ketika kita mampu memberikan cinta kasih lascarya kita kepada Tuhan, manusia, dan alam, maka “Om santhi santhi santhi om”, yang artinya semoga selamat dan semoga damai di hati, damai di bumi dan damai selalu, tidak hanya menjadi selogan tetapi mampu diciptakan. Dengan cinta kasih yang ,lascarya saya yakin umat Hindu mampu merangkai kehidupan santhi di zaman Kali.

Om Santhi Santhi Santih Om

Ganies Esa Manura (Mahasiswa Hindu)
 


TERKAIT