Mengingat Tuhan di Setiap Lembar Uang Rupiah

Tanggal 30 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Oeang (Baca: Hari Uang). Sejarah mencatat dengan keluarnya "besluit"  Keputusan Menteri Keuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara tanggal 29 Oktober 1946, ditetapkan berlakunya ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00 WIB.

Uang Republik Indonesia dikeluarkan sebagai alat pembayaran, penukar dan pengukur harga menggantikan uang Jepang yang waktu itu masih berlaku. Pemerintah menarik semua uang Jepang dan uang Hindia Belanda secara berangsur-angsur dari peredaran dengan seminimal mungkin kerugian pada masyarakat.

Sjafruddin Prawiranegara, sebagaimana ditulis Ajib Rosidi dalam buku biografi Sjafruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah SWT (Jakarta: Inti Idayu Press, 1986) merupakan pencetus gagasan tentang pencetakan uang Republik Indonesia. Beliaulah yang meyakinkan Wakil Presiden Mohammad Hatta tentang pentingnya pembuatan uang sendiri. Semula ada kekhawatiran pemerintah bahwa dunia internasional akan menuduh Republik Indonesia sebagai pemalsu uang dan bisa ditangkap oleh pihak Belanda.

Menjelang diluncurkannya ORI, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyampaikan pidato pada 29 Oktober 1946 malam di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Bung Hatta menggelorakan semangat bangsa Indonesia sebagai negara berdaulat dengan diterbitkannya mata uang Republik Indonesia (mata uang rupiah).

Emisi pertama uang kertas ORI beredar mulai 30 Oktober 1946 ditanda-tangani oleh Mr. A.A Maramis yang menjabat sebagai Menteri Keuangan sebelum Sjafruddin Prawiranegara. Hemat saya sangat tepat apabila negara mengeluarkan mata uang kertas rupiah bergambar Pahlawan Nasional dan Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia Mr. Sjafruddin Prawiranegara, mengingat peran dan jasa beliau dalam proses lahirnya mata uang Republik Indonesia.

Sjafruddin Prawiranegara selaku Menteri Keuangan waktu itu menyampaikan pesan-pesan kepada rakyat dalam suasana revolusi mempertahankan kemerdekaan, antara lain; berhematlah sehemat-hematnya, jangan membeli apabila tak perlu sekali, tanyalah kepada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apa dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlah kelebihan itu kepada tetangga yang membutuhkan.

Oeang Republik Indonesia berfungsi bukan hanya sebagai alat pembayaran yang sah semata, tetapi sekaligus sebagai alat revolusi yang memungkinkan pemerintah Republik Indonesia untuk mengatur administrasinya, mengorganisir dan memperkuat tentara, memelihara keamanan dan ketertiban serta mengurus kesejahteraan rakyat. Mata uang melambangkan kedaulatan suatu negara, terutama di bidang  moneter dan fiskal.

Sebuah catatan kecil dalam rangka memperingati Hari Oeang, patut dikenang gagasan Drs. Achmad Subianto, MBA, Direktur Utama PT. Taspen (Persero) tahun 2000 - 2007 dan mantan Ketua Umum BAZNAS yang mengusulkan agar dalam setiap lembar uang rupiah dicantumkan kata Tuhan. Sebagaimana ditulis dalam buku biografi Jembatan Kehidupan ACHMAD SUBIANTO Jejak Pengabdian Seorang Abdi Negara karya  Yoyok Widoyoko dan Budut W. Andibya (Jakarta: Gibon Books, 2010). 

Achmad Subianto merasa heran negara sekuler seperti Amerika Serikat uang dollarnya bertuliskan kata-kata yang religius, In God We Trust. Kalau Saudi Arabia, jelas mencantumkan kata-kata Laa Ilaaha Illallah di setiap lembar uang real. Sementara mata uang Indonesia dibuat dengan cara mencurigai rakyat dengan mencantumkan kata-kata, Barangsiapa meniru, memalsukan uang kertas dan atau dengan sengaja menyimpan serta mengedarkan uang kertas tiruan atau uang kertas palsu diancam dengan hukuman penjara.

Hal itu menggugah pikiran Achmad Subianto sehingga berinisiatif mengusulkan agar negara Republik Indonesia mengingat keberkahan dan perlindungan Tuhan dalam setiap lembaran uang rupiah. Sarjana Ekonomi yang mengawali karir sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan itu secara pribadi menyampaikan masukan tertulis kepada Presiden, Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Beliau kemudian datang langsung menemui Direktur Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri).

Kesaksian Dr. Ir. Giri Suseno, mantan Menteri Perhubungan, di buku biografi Achmad Subianto, untuk mewujudkan idenya Pak Bianto melakukan berbagai cara, misalnya menemui dan berbicara langsung dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia. Pak Bianto tidak pernah putus asa, hingga setelah beberapa tahun kemudian, akhirnya membuahkan hasil. Kalau kita lihat uang rupiah sekarang ini, di mana pada salah satu muka lembarannya tertera tulisan, Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, itu berkat perjuangan Achmad Subianto, kenang Giri Suseno.

Kalimat “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia Mengeluarkan Rupiah Sebagai Alat Pembayaran Yang Sah Dengan Nilai…..” dalam setiap lembar uang kertas rupiah mengingatkan bangsa Indonesia agar senantiasa mengingat Tuhan Yang Maha Esa dalam semua transaksi (tunai dan nontunai). 

Pencantuman kata-kata "Rahmat Tuhan" dalam setiap lembar uang rupiah adalah pengingat agar menjauhi perbuatan korupsi dan segala bentuk transaksi yang tidak halal dan membawa kemudharatan karena hal itu pastilah tidak diridhai Tuhan Yang Maha Esa.

Sjafruddin Prawiranegara pernah mengutarakan kerisauan melihat gejala di tengah masyarakat, dimana sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa “diganti” dengan Keuangan yang berkuasa. Dalam salah satu bukunya, Gubernur Bank Indonesia pertama itu berpesan; orang yang tidak beragama, atau kurang kuat kesadaran agamanya akan binasa di bawah tekanan kekayaan atau kekuasaan. 

Selamat memperingati Hari Oeang yang Ke-75.

 

M. Fuad Nasar (Sesditjen Bimas Islam)