Mengurai Esensi dan Pesan Ibadah Qurban: Memperkokoh Solidaritas Kemanusiaan Pascapandemi

الخطبة الأولى
لعيد الأضحى العظيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر الله أكبر الله أكبر  X3   لاإله إلاّ الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات الذي هدانا لهذا وما كنّا لنهتدي لولا أن هدانا الله. أشهد أن لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له الذي خصّنا بخير كتاب أنزل وأكرمنا بخير نبىّ أرسل وأتمّ علينا النعمة بأعظم دين شرع دين الإسلام, اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلم دينا, وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله الذي أدّى الأمانة وبلّغ الرّسالة ونصح للأمّة وجاهد في الله حقّ جهاده وتركنا على المحجّة البيضاء ليلها كنهارها لايزيغ عنها إلاّ هالك, فمن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ومن يعص الله ورسوله فقد ضلّ ضلالا مبينا. اللهم صلّ وسلّم وبارك على هذا النبيّ الكريم وعلى آله وصحابته المجاهدين الطّاهرين أجمعين. أمّا بعد,

فيا عباد الله ! اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون, واعلموا أن يومكم هذا يوم عظيم عظيم وعيد كريم, قال عزّ وجلّ : إنّا أعطيناك الكوثر فصلّ لربّك وانحر إنّ شانئك هو الأبتر. وعن أَنَسِ بنِ مَالِكٍ  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ }  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ ,وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: { بِسْمِ اللَّهِ. وَاللَّهُ أَكْبَرُ .

صدق الله العظيم وصدق رسوله النبيّ الكريم ونحن على ذالك من الشاهدين والشّاكرين.  

 

Hadirin dan hadirat, Jama’ah Shalat Idul Adlha Rahimakumullah,

Dalam suasana pagi yang khidmat berselimut rahmat dan keagungan ini, marilah kita senantiasa menghaturkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas curahan ni’mat dan rahmat-Nya kita berkesempatan menunaikan sholat ‘Idul Adlha dengan khusyu’, tertib dan dalam keadaan sehat walafiat.

Pada hari yang agung ini, kalimat takbir dan tahmid berkumandang di seluruh penjuru dunia, memuji dan mengagungkan asma Allah SWT. Gema takbir yang disuarakan oleh lebih dari dua milyar umat manusia, menyeruak di setiap sudut kehidupan, di masjid, di surau, di kampung-kampung, di gunung-gunung, dan di seluruh pelosok negeri di berbagai belahan dunia. Pekik suara takbir itu juga kita kumandangkan di sini, di tempat kita bersujud dan bersimpuh ke hadirat-Nya. Iramanya memenuhi ruang kehidupan, disambut riuh rendah tasbih malaikat nan khusyu’ dalam penghambaan diri kepada Allah SWT. Getarkan qalbu mukmin yang tengah dzikrullah, penuh mahabbah, penuh ridha dan penuh harap akan hari perjumpaannya dengan Sang Khaliq, Allah ‘Azza wa Jalla di kehidupan akhirat kelak.

Hadirin dan hadirat, Jama’ah Sholat ‘Idul Adlha, Rahimakumullah

Dalam suasana hari raya ‘Idul Adlha atau yang disebut juga dengan Idul Qurban yang agung dan istimewa ini, marilah kita berupaya menghayati dan mengaktualisasikan makna esensi dan pesan-pesan luhur ibadah qurban dalam Islam, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai Khalifatullah, baik sebagai umat maupun warga bangsa yang tidak terlepas dari misi agama untuk menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi sesama.  

Sebagaimana kita fahami, bahwa ibadah qurban yang diajarkan syariat Islam, sesungguhnya tidak terlepas dari peristiwa historis kenabian Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam yang sangat monumental. Karenanya, suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabatnya mengenai apa makna penting dari ibadah udlhiyah (penyembelihan qurban) dalam Islam, beliau menjawab dengan tegas,   هذه سنّة أبيكم إبراهيم  (ibadah udlhiyah ini adalah ajaran bapak kalian, Ibrahim AS).

Nabi Ibrahim AS hidup pada abad 18 SM, suatu masa yang dikenal dalam sejarah manusia sebagai era terjadinya persimpangan jalan pikiran tentang maraknya praktek qurban manusia yang dipersembahkan kepada dewa-dewa atau tuhan-tuhan mereka. Sementara perintah Allah Swt. kepada kholilullah Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail lantaran diilhami dari suatu ru’yah (mimpi kenabian) yang diterima dari Allah, sebagaimana dikisahkan dengan penuh hikmah dalam Al-Quran surat As-Shaaffat : 102 :

فلمّا بلغ معه السعي قال يا بنيّ إنّي أرى في المنام أنّي أذبحك فانظر ماذا ترى قال يآبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شآء الله من الصبرين.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkan apa pendapatmu !” Ia (Ismail) menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar”.

Para ahli tafsir menyatakan, perintah Allah kepada Ibrahim agar menyembelih putranya sebagaimana dikisahkan dalam ayat tersebut hendak menyampaikan pesan dan pelajaran kepada manusia, bahwa betapapun besarnya cinta seseorang kepada anak atau apapun yang dimilikinya, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berarti bila Allah telah menghendaki, karena pada hakikatnya apapun yang dimiliki dan dikuasai manusia sejatinya adalah sekedar titipan dari Allah Azza wa Jalla. Karenanya ridla dan mahabbah Allah yang sesungguhnya paling berarti dalam hidup dan kehidupan seorang muslim. Disebutkan juga dalam akhir kisah tersebut, Allah SWT memberikan pengganti seekor domba yang besar atas keberhasilan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam melaksanakan perintah dan ujian yang amat sangat berat itu, seperti diungkap Al-Quran (As-Shaaffat : 107):

 وفديناه بذبح غظيم

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. 

Peristiwa monumental ini juga mengandung ‘ibrah (pelajaran), bahwa Allah SWT sangat sayang dan menjunjung tinggi harkat, martabat dan jiwa manusia, sehingga Ia sama sekali tidak memperkenankan manusia dijadikan qurban penyembelihan (baca; pembantaian) atau sebagai tumbal untuk kepentingan apapun yang pada akhirnya mengakibatkan tercucurnya darah atau lenyapnya nyawa manusia. Bahkan Islam mengutuk keras perbuatan semacam itu dan menggolongkannya dalam prilaku kesyirikan dan dosa yang amat besar. Karena itu, ajaran Islam tidak pernah mentolerir terjadinya kekerasan, kebrutalan dan penindasan dalam bentuk apapun yang mengakibatkan tertumpahnya darah atau penderitaan umat manusia. Bahkan Islam dengan tegas mengharamkan dan mengutuk perbuatan  bunuh diri, membunuh sesama atau membuat kerusakan apapun di muka bumi ini, baik berupa kejahatan kemanusiaan maupun kerusakan lingkungan. Allah SWT berfirman:

.... من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا ومن أحيا ها فكأنما أحيا الناس جميعا (المائدة : 32)

Artinya “siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan akan dia telah membunuh selurunya”. (Al-Maidah:32)

Sejak kehadirannya, Islam telah memproklamirkan sebagai diinurrahmah (agama pembawa kasih sayang). Sebab itu, adalah paham yang sangat menyesatkan, bila ada yang mengaitkan ajaran Islam dengan aksi-aksi kekerasan, gerakan terorirme dan prilaku ekstrim dalam praktek keberagamaan karena ajaran semacam ini tidak memiliki landasan dan tempat sama sekali dalam syariat Islam. Justru sebaliknya, Islam sangat menjunjung tinggi kedamaian, kerukunan, keharmonian dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia, tanpa membedakan, suku, ras, bangsa dan agamanya.

Dengan menangkap pesan dan ‘ibrah dari peristiwa besar yang tidak ada duanya dan tidak akan terulang kedua kalinya dalam sejarah umat manusia itu, dapat disinyalir bahwa muslim sejati adalah yang memiliki kecintaan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT melebihi kecintaannya kepada siapapun dan apapun. Kecintaan manusia kepada siapa dan apa saja selalu didasari karena kecintaannya kepada Allah SWT. Perjuangan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS hendaknya dapat dijadikan wahana introspeksi diri atas ketaatan manusia dalam memegang teguh syariat Islam, untuk selanjutnya ritualitas qurban diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekelilingnya, sebagai manusia yang siap berkorban dan mengulurkan tangan untuk membantu dan meringankan penderitaan kepada sesama, terutama kepada umat yang lemah dan membutuhkan (kaum dlu’afa dan masakin).

Di tengah kondisi masyarakat dan bangsa yang telah dan sedang mengalami penderitaan dan krisis kemanusiaan yang berat seperti saat ini, baik krisis ekonomi maupun sosial karena dampak pandemic Covid-19 yang masih terus mengancam kehidupan masyarakat luas, baik secara regional, nasional maupun global, inilah sesungguhnya saat dan momentum yang paling tepat untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dan pesan inti ajaran ibadah qurban dalam realitas kehidupan umat manusia. Membumikan syariat qurban bukan sekedar ritual penyembelihan binatang akan tetapi merupakan pesan mendasar ajaran Islam untuk membentuk karakter kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial dalam menegakkan aksi-aksi kemanusiaan yang nyata demi terwujudnya kemaslahatan dan kesejahteraan. 

Ma’asyiral muslimin, sidang sholat ‘Idul Adlha yang berbahagia.

Dapat dipastikan, bahwa seluruh ibadah dalam syari’at Islam pasti mengandung dua dimensi sekaligus, ilahiyyah (ketuhanan) dan insaniyyah (kemanusiaan), ia laksana dua sisi mata uang logam yang tidak pernah dapat dipisahkan. Syar’iat qurban misalnya, secara harfiyah berarti “mendekatkan” dimaksudkan sebagai sarana pendekatan manusia kepada Allah melalui pendekatan dirinya dengan sesama umat manusia, terutama kaum dlu’afa (orang-orang lemah). Ketika baginda Rasulullah SAW mengatasnamakan ibadah qurban untuk diri, keluarga, dan semua umatnya yang tidak mampu (Naiyl Al-Awthar 5 : 197 – 200), maka sesungguhnya, ia telah menegaskan bahwa ibadah qurban adalah ibadah yang sarat dengan pesan sosial dan nilai kemanusiaan, ia bukan sekedar ritus persembahan untuk meningkatkan kualitas sepiritual seseorang, bukan juga kesempatan buat orang mampu untuk menunjukkan kesalehan individu dengan harta kekayaannya, akan tetapi ibadah qurban pada hakikatnya bertujuan memperkuat dan mempertajam kepekaan muslim terhadap kondisi dan keprihatinan masyarakat sekitarnya. Ibaratnya naik meraih rahmat langit dengan memakmurkan kehidupan di bumi. Inti ibadah qurban sesungguhnya terletak pada individu sebagai makhluk sosial, yaitu sebagai manifestasi dari tugas khalifatullah fil Ardl (pengelola bumi) dalam memakmurkan bumi dan meluhurkan kemanusiaan. Ibadah qurban telah mencerminkan pesan Islam: Kita hanya dapat dekat dengan Allah, apabila kita telah dekat dengan saudara-saudara kita, terutama yang lemah dan berkekurangan. Islam tidak pernah memerintahkan pemeluknya untuk membunuh hewan di altar pemujaan, di tepi lautan, di kawah gunung atau di tengah hamparan tanah lumpur, lalu sembelihan itu diserahkan kepada Tuhan agar dapat memberkatinya. Namun sebaliknya, Al Quran justru berseru kepada manusia:

. . . فكلوا منها وأطعموا البآئس الفقير

”lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lain) kepada orang fakir yang menderita hidupnya  (Al-Haj : 28).                                                      

Bila kita memiliki kenikmatan, kita diminta berbagi kenikmatan itu kepada sesama, bila ada orang lain menderita, kita diperintah menghilangkan atau setidaknya mengurangi penderitaannya, bila ada saudara kita sakit, kita disuruh turut mengobati dan berempati kepadanya. Bila ibadah puasa kita yang lalu mengajak kita merasakan lapar serta dahaga sebagaimana orang-orang miskin sering merasakannya, maka ibadah qurban saat ini mengajak saudara-saudara kita merasakan nikmatnya kenyang sebagamana kita sering mengalaminya.

Banyak orang mendekatkan diri kepada Allah SWT hanya sebatas mengisi ruang masjid atau rumah ibadah yang sunyi, padahal lain dari itu, Islam juga sangat menganjurkan umatnya mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut hambaNya yang kosong, memberikan asupan gizi kepada yang terkena busung lapar, memberi obat kepada mereka yang terpapar sakit, mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan dan menebarkan kebajikan serta kasih sayang kepada sesama. Bukankah ketika Nabi Musa AS bertanya kepada Tuhan “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?” Allah langsung menjawabnya: “carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya merana, di gerombolan orang-orang yang terzalimi nasibnya dan di bilik-bilik orang yang sengsara kehidupannya”. 

Diriwayatkan dalam hadist qudsi, bahwa nanti di hari qiyamat, Allah SWT mendakwa kepada hamba-hamba-Nya: “dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makan, dahulu Aku telanjang dan kalian tidak memberi-Ku busana, dahulu Aku sakit dan kalian tidak memberi-Ku obat”. Waktu itu yang didakwa menjawab: “Ya Allah bagimana mungkin aku memberi-Mu makan, pakaian dan obat, padahal Engkau Ghaniyyun ‘anil ‘alamin (Maha Kaya atas semesta alam), lalu Allah berfirman : “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang dan sakit. Seandainya waktu itu kamu mendatangi mereka yang susah, mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang dan memberi obat kepada mereka yang terkapar sakit, niscaya kamu mendapati Diriku di sisi mereka”. Karenanya, dengan spirit Ibadah qurban, mari kita selamatkan mereka yang terkorban, niscaya Allah membersamai kasih sayangNya kepada kita. 

Hadirin dan hadirat, Jama’ah Sholat ‘Idul Adlha, Rahimakumullah

Idul Adlha lazim disebut juga dengan hari raya haji, karena pada hari-hari ini, selain kita mengenang kembali dan bertekad mengikuti sunah Nabi Ibrahim berupa ajaran qurban, kitapun juga menyaksikan jutaan saudara-saudara muslim dari seluruh penjuru dunia, sedang bermuktamar kolosal memenuhi seruan Allah di tanah suci Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan manasik haji sebagai rukun Islam kelima. Ibadah haji dalam pelaksanaannya juga penuh dengan menapak tilasi jejak kehidupan dan perjuangan khalilullah Ibrahim dan Ismail yang tentunya mengandung hikmah dan filosofi yang amat besar bagi umat manusia dalam mengarungi samudra kehidupan di alam dunia yang serba fana. Oleh karenanya, kita panjatkan do’a ke hadirat Allah SWT, kiranya senantiasa memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji sehingga dapat melaksanakan dengan khidmat dan pada saatnya kembali ke kampung halaman, berjumpa kembali dengan sanak dan handai taulan seraya menyandang predikat haji mabrur, haji yang diterima dan memberikan dampak kebajikan sebesar-besarnya bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan segenap umat manusia. 

Allahu Akbar - Allah Maha besar ! Ahirnya melauli mimbar khutbah ‘Idul Adlha 1443 H yang khidmat ini, marilah kita berdo’a dengan khusu’ dan penuh tadlarru’ ke hadirat Allah SWT, kiranya dengan kuasa dan keagunganNya segera memulihkan kehidupan manusia dari krisis wabah virus corona dengan segala penderitaan yang menyertainya, mencurahkan rahmat dan ma’unah-Nya kepada bangsa Indonesia dan umat manusia agar terhidar dari ujian dan beban kehidupan yang tak kuasa memikulnya, dan semoga momentum ‘Idul Adlha yang agung ini juga benar-benar mampu memperkuat tatanan kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai agama, akhlak karimah, kebersamaan, persaudaran dan kepedulian kepada sesama demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang berharkat dan bermartabat, sejahtera dan berperadapan dalam naungan ridla, maghfirah dan rahmat Allah SWT. Amin.  
     

الخطبة الثانية
لعيد الأضحى العظيم

الله أكبر  X7  الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. الحمد لله الذي أعاد العيد وكرّر نحمده سبحانه أن خلق وصوّر. أشهد أن لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له شهادة يثقل بها الميزان في المخشر وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله المبعوث إلى الأسود والأحمر. اللهمّ فصلّ وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى آله وأصحابه الشّرف الأفخر. أمّا بعد,

فيا أيّها المؤمنون ! اتقوالله فيما أمر وانتهوا عمّا نهى عنه وحذر, واعلموا أنّ الله تعالى صلّى على نبيّه قديما فقال تعالى : إنّ الله وملائكته يصلّون على النّبي يا أيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيّدنا خير الخلق صاحب الصدق الأمين وارض اللهمّ عن كلّ الصحابة أجمعين وعن التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ويا أرحم الرّاحمين, اللهمّ اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات وارفع لهم الدّرجات وضعّف لهم الحسنات وكفّر عنهم السيئآت ياربّ العالمين, اللهمّ أعزّ الإسلام والمسلمين وأهلك الكفرة والظالمين ودمّر أعدآءك أعدآء الدين وأعل كلماتك إلى يوم الدّين, اللهمّ انصر من نصر الين واخذل من خذل المسلمين واهدنا صراطك المستقيم, اللهمّ أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا  وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا واجعل الحياة لنا زيادة في كلّ خير واجعل الموت لنا راحة من كلّ شرّ يا مجيب السّآئلين, ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلاّ للذين آمنوا ربّنا إنك غفور رحيم, ربنا هب لنا من أزواجنا وذرّيّاتنا قرّة أعين واجعلنا للمتّقين إماما, ربنا لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهّاب,  ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار والحمد لله ربّ العالمين. آمين. 

Dr. H. Khoirul Huda Basyir Lc. M.Si (Pengasuh PPTQ. Al Kaukab Bojongnangka Gunungputri Bogor, Koordinator Kerjasama Luar Negeri Kementerian Agama RI dan Pengurus Pusat Lembaga Dakwah PBNU)