Menilik Para Pejuang Moderasi Beragama

Kemarin malam, temenku Miftah datang ke rumah. Dia bercerita sedang membantu atasannya untuk membuat produk yang bisa menceritakan para guru agama Islam yang dikirim oleh direktorat tempatnya bekerja (Direktorat PAI) ke daerah-daerah terpencil.

Miftah ini adalah anggota tim yang bertugas memproduksi konten publikasi. Kepadanya lalu saya tanyakan, apakah konten yang akan diproduksi itu akan menceritakan para guru yang dikirim ke daerah pedalaman beberapa tahun yang lalu? Iya, katanya.

Mendengar jawaban itu, saya lalu teringat peristiwa dua tahun yang lalu, 2019. Saat itu saya pernah dua hari ditugasi Direktorat PAI untuk mewawancarai para guru agama Islam (PAI) yang akan dikirim ke daerah-daerah pelosok, atau istilahnya pemerintah daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdalam).

Ada misi yang dibebankan kepada saya sebagai pewawancara (dan juga tim pewawancara lain tentunya), yaitu untuk memastikan bahwa guru-guru yang nanti dikirim adalah mereka yang benar-benar memiliki kemampuan membaca al-Qur'an bagus, wawasan keagamaan luas, dan memiliki pandangan keagamaan yang moderat dan toleran. Kepada mereka yang nanti dikirim, Kementerian Agama ingin memastikan bahwa karena guru-guru itu adalah "corong" dan kepanjangan tangan dari pemerintah, maka mereka harus menjaga keberlangsungan negara. 

Sebagai yang bertugas mewawancarai, saya tahu bahwa misi ini berat. Bagaimana seandainya yang lolos dari wawancara ini adalah mereka yang memiliki pandangan kurang toleran, melihat Indonesia sebagai thaghut, melihat Pancasila bukan lagi sebagai dasar Negara? Duh..., beragam bayangan berkecamuk dalam pikiran.

Tapi saya senang dengan pilihan kebijakan Kementerian Agama ini. Ini adalah langkah maju, maju karena kalau yang dinilai hanya portofolionya, berkasnya, biasanya sering dapat guru yang kurang pas. Di portofolio bagus, banyak sertifikat, ternyata kemampuan sesungguhnya kurang bagus. Pendeknya, ini adalah langkah antisipatif jangan sampai pemerintah "kecolongan" mengirim guru-guru yang justru memiliki pandangan yang merongrong pemerintah dan mengancam keberlangsungan bangsa.

Selepas makan siang dengan menu Iwak Manuk Kuntul yang sangat empuk dan uwenak, tugas mewawancarai dimulai. Satu persatu mereka saya wawancarai, lebih tepatnya saya dengarkan cerita dan pendapat mereka. Mulai dari motivasinya ikut program, rencana yang akan mereka kerjakan di daerah seandainya nanti mereka diterima, beragam kemungkinan yang akan mereka temui di lapangan dan bagaimana mengatasinya, komitmen kebangsaannya, kemampuan membaca al-Qur’an-nya, sampai pada  keterampilan yang dimilikinya.

Ada tiga belas guru yang datang langsung selama dua hari itu. Sisanya, sebanyak 11 guru harus saya wawancarai via telpon karena jarak mereka yang sangat jauh dari lokasi wawancara. Dari 13 yang datang langsung, 7 di antaranya adalah peserta lama. Mereka sudah sejak setahun lalu dikirim ke daerah-daerah 3 T tersebut.

Terutama kepada mereka yang sudah pernah bertugas, saya biarkan mereka cerita tentag aktivitas mereka selama setahun di sana. Sebagai orang yang belum pernah ke daerah-daerah terpencil, meskipun saya terlahir dari keluarga petani di pedesaaan, saya sungguh terharu mendengar cerita mereka. 

Peserta yang ditugaskan di pedalaman Mentawai Sumatera Barat misalnya, dia menceritakan bahwa selama setahun di sana, hanya ada lima sampai tujuh orang yang mau berjamaah salat di masjid. Itupun yang dua adalah petugas kesehatan yang juga dikirim oleh Kementerian Kesehatan seperti dirinya. “KTP nya mayoritas Islam pak, tapi mau salat di masjid menurut saya adalah keistimewaan,” ceritanya. “Lalu ada jumatan tidak?” Tanyaku. “Ada pak, tapi ya hanya 7 orang itu saja. Bahkan sering hanya bertiga saja pak, saya dan dua petugas kesehatan itu,” tuturnya.

Cerita menarik tidak hanya sampai di situ. Untuk sampai ke masjid, dia harus berjalan kaki antara 10 sampai 15 menit. “Saya ini takut anjing pak. Tapi untuk ke masjid, saya harus melewati banyak anjing dan babi pak,” ceritanya. 

Sampai di sini saya sejenak tertegun, teringat masa kecil saat kelas 6 MI di tahun 1988 pernah sebulan penuh di bulan Ramadan diajak mas-ku di Semarang. Saat itu, selepas jamaah subuh saya dan cucunya bapak kos masku, selalu jalan-jalan. Sebagai orang desa, tentu itu pengalaman indah. Ditunjukin rumah-rumah bagus, juga mobil-mobil bagus adalah sesuatu banget. 

Saat sedang cerita ngalor-ngidul, tiba-tiba seekor anjing menggonggong di samping kami. Sontak kami kaget, lalu lari sekencang-kencangnya. Anjing berlari mengejar kami, kami berlari semakin kencang, hingga akhirnya sandalku yang baru terlepas. Selepas anjing tidak lagi mengejar, kami berdua duduk. Dengan nafas tersengal, kami berdua duduk di pinggir jalan. Kira-kira setengah jam kemudian, aku ajak cucunya bapak kos masku itu untuk kembali. “Sandalku jatuh saat lari, kita cari ya, karena itu sandal baru dibelikan masku kemarin sore,” pintaku.

Daarr..., hah terlalu lama saya ingat waktu kecil. Lalu bagaimana caramu mengatasi ketakutan itu? Tanyaku. “Saya beranikan aja pak, jalan pelan-pelan, menunduk, dan tidak menoleh-noleh,” terangnya. Dalam hati saya bergumam, hebat sekali guru ini. Setahun orang-orang yang mau salat di masjid tidak bertambah, dan untuk sampai masjid dia harus mengalahkan ketakutannya. Kalau saya, mungkin sudah menyerah, gak berani lagi melewati anjing dan babi yang berkeliaran bebas itu.

Cerita menarik juga disampaikan guru yang tahun kemarin ditugaskan di pedalaman toli-toli. Guru muda ini bercerita bahwa lokasi yang ditempati itu belum ada listrik. Dalam sehari semalam hanya ada aliran listrik selama lima jam dari genset desa, selebihnya adalah gelap. Untuk menjalankan “misi” dari Kementerian Agama dia harus membaur sebaur-baurnya dengan masyarakat. 

“Demi bisa dekat dan mempengaruhi mereka, saya bahkan sampai bisa main gitar pak,” terangnya. “Wow, keren sekali,” apresiasi saya. “Ya karena kalau saya tidak membaur dengan mereka, mereka tidak mau menerima saya, Pak. Dan itu berarti misi saya, misi Kementerian Agama tidak berhasil,” sambungnya. “Lalu apa hasilnya,” tanyaku gak sabar. “Belum banyak pak. Tapi saya telah berusaha mengabarkan kepada mereka bahwa hidup rukun harus selalu dipelihara. Di akhir tugas saya, banyak pemuda yang mau ikut mengaji dan shalat di masjid pak,” ceritanya.

Mendengar cerita para guru agama ini saya berpikir, sungguh hebat sekali mereka yang mau berjuang di pedalaman, di wilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan, dan bahkan mungkin tidak ada di peta. He he he. Saya yang sehari-hari hidup di ibukota, berdampingan dengan internet, hanya menghabiskan waktu dengan berdebat tentang hal-hal yang kurang bermanfaat bagi masyarakat, hanya sebatas melampiaskan nafsu agar dianggap paham agama. Padahal di pedalaman sana, banyak masyarakat yang belum terlayani, belum ada yang mengajarkan ngaji, mengajarkan salat, apalagi mengajak salat berjamaah di masjid atau musalla.

Dua hari kemarin, sungguh saya senang bisa mendengarkan cerita dari para pejuang moderasi beragama. Pejuang yang tidak peduli dengan hingar bingar publikasi, pejuang yang benar-benar ingin melayani masyarakat. Diam-diam saya tergerak, suatu hari saya mau berjuang seperti mereka. []

 

Muhtadin AR (ASN Pusdiklat Kemenag)