Menjadi Insan yang Berbudi

Vācānurakkhī manasā susaṃvuto, Kāyena ca nākusalaṃ kayirā. Ete tayo kammapathe visodhaye, Ārādhaye maggamisippaveditaṃ. Hendaknya ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini, memenangkan ‘Jalan’ yang telah dibabarkan oleh Para Suci. (Dhammapada, Syair 281)

Perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan digitalisasi semakin pesat, sehingga kemudahan mengakses semua informasi, ibarat dua sisi mata pisau. Pemanfaatan yang benar dan bijak akan sangat berguna dan mampu meningkatkan kompetensi bagi pengguna. Sebaliknya, jika salah menggunakan, maka akan menyebabkan kerugian bagi si pengguna.

Salah satu kerugian yang diterima akibat kesalahan penggunaan perkembangan teknologi yang serba digital itu adalah dapat menyebabkan degradasi moral. Degradasi moral yang menjangkiti manusia dapat menyebabkan kehidupan manusia semakin jauh dari insan yang berbudi.

Pendidikan agama, budi pekerti, akhlak, dan moral menjadi hal yang sangat krusial untuk membangkitkan jatidiri manusia agar menjadi manusia yang lebih berbudi. Akan lebih bermanfaat lagi jika pendidikan agama, budi pekerti, akhlak, dan moral mulai ditanamkan sejak usia dini.

Pendidikan Agama memiliki peran strategis dalam mendidik manusia menjadi insan yang berbudi karena pada dasarnya agama mengajarkan kebaikan bagi umatnya. Menjadi insan yang berbudi semestinya dimulai dari diri sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melatih pengendalian diri (samvara) dimulai dari mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani.

Membina diri atau memperbaiki kualitas diri merupakan kewajiban setiap umat manusia. Manusia harus menyadari bahwa kehidupan terus berputar dan berganti, waktu untuk berbuat kebaikan sangat terbatas, karena usia kehidupan tidak dapat ditentukan. Hal penting yang harus dilakukan adalah senantiasa menjaga pikiran dengan penuh kewaspadaan agar apa yang dikerjakan tidak menuruti emosi, menjaga ucapan agar dapat berkomunikasi dengan kesantunan, dan menjaga perbuatan agar tindakan yang dilakukan bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dalam agama Buddha, pikiran menjadi faktor utama dalam membentuk kualitas diri manusia. Jika pikirannya baik dan lurus, maka ucapan maupun perbuatannya akan baik dan lurus, begitu pula sebaliknya. 

Guru Agung Buddha secara spesifik menjelaskan dalam kitab Dhammapada Bab I Syair 1: “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”. Syair tersebut menjelaskan secara tegas bahwa pikiran menjadi penentu arah atas perbuatan manusia. Manusia akan menjadi insan yang berbudi atau tidak diawali oleh pikiran manusia itu sendiri.

Ukuran standar moral bagi umat Buddha telah disampaikan oleh Guru Agung Buddha Gotama sejak 2500 tahun yang lalu. Beliau menyampaikan aturan moral yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia yang dikenal dengan Pancasila Buddhis. Melalui Pancasila Buddhis atau lima aturan moral, Guru Agung Buddha menganjurkan kepada para siswanya untuk melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan, melakukan tindakan asusila, berbohong, makan dan minum yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

Dalam standar moralitas yang lebih tinggi lagi, untuk meraih kesempurnaan hidup, seseorang perlu mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang, memiliki mata pencaharian benar, memiliki rasa puas terhadap apa yang kita miliki, jujur, dan selalu giat dan waspada. Jika standar moralitas yang diajarkan Guru Agung Buddha tersebut dilaksanakan dengan baik, maka harapan untuk menjadi insan yang berbudi akan dapat terwujud.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia