Menjaga Kesadaran, Tetap Pada Posisi Tengah

Di tengah-tengah ramainya kehidupan, beraneka ragam kepentingan keperluan kehidupan ragawi dan duniawi, Puji Tuhan Maha Rokh, yang telah mengutus Para Suci melalui ajaran-ajaran leluhur agar manusia tidak tersesat jalannya.

Hidup ini ada dua jalan, yang menuju positif atau negatif, jalan ke kiri atau kanan. Letak manusia ada di tengah-tengah antara kiri dan kanan, antara kebaikan dan keburukan. Kedua jalan tersebut tidak dapat dipisahkan, keduanya saling melengkapi, saling mendukung. Hidup ini saling mengisi dan memberi. 

Kebaikan yang takarannya berlebihan akan berdampak menjadi ketidak-baikan. Positif (baik) yang over dosis bisa berdampak menjadi negatif (tidak baik), akan berdampak lupa diri, angkuh merasa yang paling benar, paling super. Sebaliknya, negatif yang over dosis pun dapat berubah berdampak menjadi kebaikan positif.

Manusia pada titik tertentu ‘mentok’, akan memperoleh kesadaran, memahami apa yang salah dan yang benar. Hal tersebut sudah kodrat firman Tuhan YME, tidak bisa diubah. Kita manusia duduk berdiri di tengah ‘singgasana’ sifat Tuhan yang maha Rokh. ‘Singgasana sejati’ ada di tengah-tengah dua sisi jagat raya. 

Kitab suci Tiong Yong bab Utama:4 menjelaskan, “Gembira , marah, sedih, senang, sebelum timbul itu dinamai tengah, setelah timbul tetapi masih di dalam batas tengah, dinamai harmonis. Tengah itulah pokok besar daripada dunia, dan keharmonisan itulah cara menempuh jalan suci dunia.” 

Nabi Kongzi telah mengajarkan secara turun-temurun selama ribuan tahun ilmu sejati, yang tertuang di dalam ayat suci, terkandung penuh makna rahasia kehidupan spiritual sejati. 

Ajaran tentang kesadaran sejati amatlah sangat utama. Dengan kedudukan di ‘singgasana sejati’, manusia sadar bahwa hidup itu sesungguhnya damai dan bahagia, apabila mereka memahaminya.

Dari kitab suci tertulis: celaka atau bahagia tiada yang bukan dicari sendiri. Di dalam Kitab Sanjak tertulis: tekun hidup sesuai firman, memberkati dan banyak bahagia. Sementara dalam Kitab Bingcu IIA 4/6 tertulis: bahaya yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari. Ini kiranya memaksudkan hal itu. (Suking IV-5B).

Bila kita sadar saat ini kita duduk di ‘singgasana suci’, dengan amat jelas kita mampu melihat, mengamati, mengawasi, gerakan kanan dan kiri yang selalu berubah-ubah tidaklah tetap. Kewajiban kita sebagai manusia, selalu dalam kesadaran sejati, menjaga agar kita tetap pada posisi tengah tidak tergoyahkan. 

Sebesar apapun badai gempa menggoyang kita. Pertanyaannya, mampukah kita? Jawabnya, mampu! Asalkan kita ikuti ajaran luhur Nabi Kongzi. 

Dari awal sudahlah sangat jelas, bahwa syarat belajar ajaran spiritual Nabi Kongzi, adalah awali langkah tapak kakimu menuju pintu gerbang kebajikan. Ini sebagaimana tertulis di kitab Thai Hak bagian pengantar: Kitab Thai Hak.... adalah ajaran permulaan untuk masuk Pintu Gerbang Kebajikan.... (kitab suci Thai Hak ditulis oleh cucu Nabi yang bernama Zi Si).

Di kitab Bing Cu bab VIIB:32/2 tertulis: seorang kuncu/insan kamil selalu berusaha dengan membina diri dapat membawa damai bagi dunia. 

Ajaran tersebut tidak membedakan tinggi rendahnya derajat manusia, sama-sama mengutamakan pembinaan diri. Yang ada di dalam hati suci/ rosho jati/ watak sejati, selalu menjaga hati (sejati).

Simaklah kitab suci Thai Hak bab VII:1,  untuk membina diri harus lebih dahulu meluruskan hati. Artinya pada diri yang diliputi geram dan marah, tidaklah dapat berbuat lurus; yang diliputi takut dan khawatir juga tidak dapat berbuat lurus, yang diliputi suka dan gemar pun tidak dapat berbuat lurus, dan yang diliputi sedih/ sesal juga tidak dapat berbuat lurus.

Kitab suci Thai Hak bab VII:  3, “maka dikatakan untuk membina diri, berpangkal pada meluruskan hati.”

Kitab suci Thai Hak bab IX:4, ... seorang Kuncu/Susilawan/Insan Kamil lebih dulu menuntut diri sendiri, barulah kemudian mengharap dari orang lain....bila diri sendiri belum dapat bersikap Tepasarira (tahu menimbang/ tenggang rasa), dan berharap dapat memperbaiki orang lain, itu belum pernah berhasil.

Kitab suci Thai Hak bab X:11, Firman itu tidak berlaku selamanya ...hanya yang berbuat baik akan mendapat dan yang berbuat tidak baik akan kehilangan.

Nabi mengajarkan agar kita memahami dan mengenali sifat bawaan manusia, sebagaimana peralatan perabot yang sudah disertakan sejak kita dilahirkan di planet bumi ini. Yang sering saya ulas di tulisan-tulisan yang lalu; yaitu 7 sifat kenafsuan, baik yang kasat mata, maupun yang tidak kasat mata, agar dapat dikendalikan selalu di batas-batas Tiong/ tengah. 

Kita harus mampu kembali ke pernafasan sejati. Kembali ke cara bernafas saat kita masih bayi. Hanya dengan kesadaran bernafas sejati itulah kita dapat menyelami hati suci, mengenali watak sejati dan mengenal Tuhan YME (mencapai puncak iman).

Hidup kita akan selalu terbimbing, bagaikan seorang malaikat mengetahui yang akan terjadi. Suka duka selalu diketahui lebih awal, karena kita yakin iman (Tiong Yong XXIV:2). Iman itulah firman Tuhan yang menyatu dalam hati suci, tanpa gerak, tanpa suara, namun ada, itulah Dia Sang Maha Gaib!”

Urip sama dengan urup, hidup menyala selalu, itulah yang disebut Sinar Illahi, Roh Kudus, Sheng Ling, Shang Hyang Widi, Hyang Wisesah, Gusti Baguse Ati, Ati Suci, Suci Putih, Ning Tan Keno Kinoyo Nopo, Adoh Tanpo Wangenan, Cedak Tanpo Senggolan!

‘Kong er bu kong’, artinya kosong tapi isi, isi tapi kosong.  Hanya bisa ada dengan Rosho, rosho nya rosho. Atas kehadiran nya di atas, dan di kanan kiri kita. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan keseriusan, sungguh-sungguh memperhatikan, konsentrasi ke pernafasan sejati, yang selama ini banyak diabaikan/dilupakan. 

Hal tersebut bisa terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan keinginan pikiran yang dikuasai gemerlapan isi duniawi sesaat yang tidak abadi. Kita belum memahami pribadi seutuhnya, selalu tergoyang saat mapan berdiri di singgasana tengah harmonis yang merupakan pokok besar dunia. Kebenaran dan kebajikan selalu berada di posisi tengah, tidak condong ke mana pun.

Semoga dengan tulisan singkat ini, yang masih jauh dari sempurna, walau sedikit, semoga dapat mampu mencerahkan kita. Mari kita terus belajar memahami diri pribadi, agar kita tidak kecewa kelak dikemudian hari.

Sheng ling bao hu, shanzai.

Haksu KRT Bingky Irawan (Rohaniwan Khonghucu)