Menyoal Peran Madrasah di Tahun 2023

Tahun Baru 2023 membawa optimisme dan juga pesimisme bagi bangsa Indonesia. Apa yang akan terjadi di tahun ini masih menjadi misteri.  Apakah akan terjadi resesi ekonomi sebagaimana prediksi pakar ekonomi dunia? Bagaimana hal itu akan memengaruhi perkembangan dunia pendidikan tak terkecuali madrasah? 

Pertanyaan ini penting untuk memprediksi apa saja yang akan terjadi dan berdampak pada pendidikan madrasah dan apa yang harus dilakukan oleh stakeholder madrasah. Dan stakeholder madrasah musti menakar ini semua. 

Paska pandemi Covid-19 ini, dunia secara global dihantui oleh ancaman resesi ekonomi. Resesi ekonomi adalah kondisi di mana daya beli masyarakat menurun, yang berimbas pada penurunan pendapatan perusahaan dan tentu akan mengancam kas negara. Perusahaan juga akan memangkas biaya operasional dan menutup kantung-kantung bisnis yang tidak menguntungkan dan bisa-bisa bahkan sampai merumahkan pekerja-pekerjanya. 

Tentu, negara—dalam hal ini pemerintah—akan terbebani dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Banyak yang akan menuntut dibukanya lapangan pekerjaan. Akhirnya, ketidakstabilan nasional terjadi dan membuat kesenjangan sosial makin menjadi-jadi dan angka kriminalitas semakin tinggi. Na’udzu billahi min dzalik. Apa yang akan dilakukan oleh stakeholder madrasah dari pusat (Kementerian Agama) hingga satuan kerja di daerah-daerah?  

Kementerian Agama sebagai induk dari pendidikan madrasah sejak dini sudah berhati-hati dengan penggunaan anggaran negara di tahun 2023 ini. Pertama, adanya kebijakan penghematan, automatic adjustment dan refocusing akhirnya diterapkan. Automatic adjustment adalah pencadangan anggaran yang diambilkan dari penghematan-penghematan. Sedangkan refocusing adalah memusatkan atau memfokuskan kembali anggaran untuk kegiatan yang sebelumnya tidak dianggarkan melalui perubahan anggaran. 

Di Kementerian Agama khususnya pada Direktorat KSKK Madrasah ada sekitar 2,9 triliyun anggaran untuk Automatic Adjustment dan 36 milyar refucosing untuk mendukung 7 program unggulan Menteri Agama (penguatan moderasi beragama, transformasi digital, toleransi beragama, revitalisasi KUA, religiosity index, kemandirian pesantren dan cyber Islamic university).  Selain penghematan, automatic adjusment dan refocusing, dalam belanja barang di sektor pendidikan, Menteri Agama menekankan agar pengadaan barang dan jasa di Kementerian Agama memprioritaskan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Barang dan jasanya musti beli dari dalam negeri,  dari sector riil UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang ada di Indonesia. Dengan adanya pembelian, sector ini bisa menggeliatkan perekonomian dan hidup rakyat berpendapatan kecil. 

Kedua, tahun 2023 adalah tahun politik. Pemilihan umum yang akan digelar pada 2024 sudah terasa hangat suhunya di tahun ini. Suhu yang hangat ini sangat mungkin meningkat ke derajat yang panas. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan terjadinya social unrest, intoleransi, konflik identitas, pembelahan-pembelahan dan lain-lain. Pemilu-pemilu tahun lalu telah mengajarkan kepada kita agar tidak terjerumus lagi ke dalam hal-hal tersebut. 

Melihat kenyataan tersebut, madrasah musti berkontribusi dengan memberikan pendidikan politik kepada siswa-siswi yang memiliki hak pilih untuk berdemokrasi secara logis dan kritis terhadap program-program calon legislatif dan presiden. Selain itu, politik identitas yang biasanya menguat dalam kancah politik Indonesia menjelang pemilu musti dihadang dengan sikap-sikap yang cerdas, bijak dan moderat. Sikap moderat atau moderasi inilah yang senantiasa digaungkan di dalam pendidikan madrasah. Sikap moderasi inilah yang akan menghambat tirani mayoritas, intoleransi dan sikap-sikap menghalalkan segala cara. Bahkan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama berulangkali menyampaikan pesan sebagai berikut,” Kita menolak agama digunakan sebagai instrumen atau alat untuk berpolitik, termasuk tempat-tempat ibadah digunakan untuk berpolitik, kita juga tolak bersama-bersama.” 

Ketiga, isu penurunan gas emisi karbon. Gas emisi karbon yang dihasilan oleh aktivitas manusia yang mengakibatkan global warming juga masih menjadi perhatian banyak negara. Kini, seluruh warga negara sudah merasakan efek dari pemanasan global, salah satunya adalah perubahan iklim (climate change) dengan cuaca yang ekstrem. Penurunan gas emisi karbon menjadi agenda penting yang mendesak dilakukan salah satunya melalui perubahan gaya hidup. Dalam menghadapi ini, madrasah sudah menyiapkan beberapa skema di antaranya menggiatkan a) madrasah adiwiyata, yang di dalamnya gerakan Madrasah Go Green, b) madrasah sehat, yang mempromosikan gizi, makanan sehat, anti-stunting, serta lingkungan yang sehat c) pengolahan sampah sebagai langkah awal zero waste life, d) madrasah ramah anak. Madrasah ramah anak merupakan upaya bagiamana agar lingkungan pendidikan ini menjadi pilihan terbaik bagi tumbuh kembang anak dari berbagai sisi: fisik, psikologi, emosional dan spiritual. Empat skema di atas bertujuan untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik bagi manusia dan keturunannya. Keempat aspek tersebut merupakan bagian dari langkah kecil untuk menuju dunia yang lebih baik itu. Dan memulainya harus dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, masyarakat sekitar dan lembaga pendidikan. 

Outlook madrasah  dalam skala nasional dan internasional pada tahun ini adalah menjawab tantangan tantangan di atas. Lembaga pendidikan madrasah dengan ambience akademik intelektualnya memiliki tanggung jawab untuk terus menerus mencoba mengadvokasi masyarakatnya dan lingkungan hidupnya sejak dini. Kiranya, langkah sederhana dan kecil ini bisa menjadi step penting untuk mewujudkan social inclusion, proses peningkatan individu dan kelompok mengambil bagian dalam masyarakat untuk meningkatkan kemampuan, kesempatan, dan martabat mereka yang kurang beruntung berdasarkan identitas mereka. Mari kita mulai dari madrasah sebagai lembaga pendidikan terkecil menuju kemandirian bangsa yang berprestasi. Semoga. []

Moh. Isom (Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah)