Merawat Anak

Bālasangatacārī hi, dīghamaddhāna socati, dukkho bālehi saṁvāso. Amitteneva sabbadā, dhīro ca sukha saṁvāso, ñātīnaṁ va samāgamo

Seseorang yang sering bergaul dengan orang bodoh pasti akan meratap lama sekali. Karena bergaul dengan orang bodoh adalah penderitaan seperti tinggal bersama musuh. Tetapi, siapa yang tinggal bersama orang bijaksana akan berbahagia, sama seperti sanak keluarga yang kumpul bersama. (Dhammapada, Syair: 207)

Ajaran Buddha adalah tentang hidup berkesadaran. Umat Buddha diajarkan untuk menjalani hidup atau memilih apapun berdasarkan kesadaran diri. Apapun yang dijalani hendaknya dilakukan dengan kesadaran bukan ketidaksadaran, keterpaksaan atau kontrol orang lain (tekanan sosial). Dengan memilih secara sadar, seseorang akan tahu apa resikonya dan bagaimana menguranginya, apa hasil dari pilihannya dan bagaimana mendapatkannya. 

Demikian pula di dalam pilihan hidup apakah akan berkeluarga atau hidup menyendiri, semua itu adalah pilihan. Sekali lagi, memang dalam ajaran Buddha segalanya adalah pilihan. Umat Buddha boleh memilih berkeluarga atau tidak berkeluarga. Jika memilih hidup berkeluarga maka konsekuensinya adalah adanya keturunan. 

Bagi mereka yang memilih hidup berkeluarga dan berketurunan, maka mempunyai anak keturunan adalah hal membahagiakan tentunya. Walaupun kenyataannya banyak juga keluarga yang terbelenggu dengan berbagai masalah yang timbul dari anak keturunannya. Oleh karena itulah Sang Buddha dengan kebijaksanaannya memberikan tuntunan bagi mereka yang memilih berkeluarga dan berketurunan agar tidak timbul banyak masalah dari persoalan anak keturunan dan menjadi bahagia karena anak keturunannya. 

Sebagai pasangan yang secara sadar memilih mempunyai keturunan, ada beberapa tanggungjawab yang mesti dilakukan. Tanggungjawab ini muncul bukan karena perintah Sang Buddha, bukan untuk memperoleh hal sebaliknya ketika seseorang sudah renta kelak atau bukan juga karena tekanan masyarakat yang sudah menerima hal ini sebagai kelaziman. Tanggung jawab ini muncul karena sadar bahwa jika tidak dilakukan demikian akan dapat menimbulkan penderitaan baik bagi orang tuanya maupun bagi anak itu sendiri. Sebaliknya jika dilakukan, masalah-masalah yang mungkin ditimbulkan dan menyebabkan penderitaan tidak akan muncul. 

Merawat anak baik secara fisik, mental maupun moral spiritual adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha memberi petunjuk bagi orang tua dalam merawat anak. Orang tua hendaknya berusaha mencegah anak dari perbuatan-perbuatan jahat dan sebaliknya mengajak anak agar dekat dengan perbuatan baik. Ini merupakan cara orang tua merawat moral spiritualnya agar apapun yang dilakukan anak tidak menimbulkan penderitaan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Selanjutnya, memberikan pendidikan yang dapat menjadi bekal bagi anak dalam menjalani kehidupannya kelak. Disini Sang Buddha dengan sangat jeli melihat bahwa pendidikan merupakan unsur penting bagi kehidupan sebagai upaya merawat mental dan masa depan anak. Dua kewajiban selanjutnya berkenaan dengan material dan sosial yakni membagi warisan pada saat yang tepat dan mencarikan pasangan bagi anak pada saatnya.

Dalam konteks sekarang mencarikan pasangan yang tepat adalah dalam bentuk memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih pasangan. Sebab pada zaman ini sudah jarang orang tua ‘mencarikan’ jodoh bagi anak. Hal ini adalah bentuk tanggung jawab orang tua dalam merawat ketahanan ekonomi dan ketahanan keluarga bagi anak keturunannya.

Merawat anak bukan saja merawat tumbuh kembang secara fisiknya saja dari ancaman sakit dan kelaparan tetapi juga merawat perkembangan mental, moral, sosial dan spiritualnya. Oleh karena itu amatlah penting menjadi orang tua yang berkesadaran (mindful parenting), mengerti tugas dan tanggungjawabnya. Dengan demikian orang tua Buddhis benar-benar akan mampu merawat anak keturunan. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT

Tempat yang Mencerahkan

Puja Namaskara 

Pradakshina

Yadnya