Minggu Komunikasi Sedunia

Hari Minggu, 29 Mei 2022, adalah Minggu Paskah VII. Minggu ini kita merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56. Hari Komunikasi Sosial Sedunia ditetapkan oleh Paus Paulus VI tahun 1967 sebagai perayaan tahunan yang mendorong umat manusia untuk merefleksikan peluang dan tantangan yang diberikan oleh sarana komunikasi sosial modern kepada Gereja untuk mengomunikasikan pesan Injil. 

Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini adalah “Mendengarkan dengan Telinga Hati”. Setelah setahun sebelumnya mengambil tema “Datang dan Melihat”, tahun ini Bapa Suci mengajak kita untuk mendengarkan dan lebih peka terhadap segala perkembangan zaman. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini teknologi berkembang begitu pesat, salah satunya internet yang diikuti semakin canggihnya alat komunikasi. Dahulu untuk membaca buku kita harus membeli buku atau pergi ke perpustakaan, namun saat ini dengan smartphone  atau tablet, kita dengan mudah menemukan bacaan/literatur dari mana pun dan kapan pun. Dan untuk berkomunikasi dengan seseorang atau bahkan beberapa orang sekaligus, kita bisa melakukannya dengan satu sentuhan saja di gadget kita. 

Namun tanpa disadari, segala kemudahan itu dapat membuat kita “memenjarakan” diri kita dari kehidupan sosial. Kita malah sering mengisolasi diri sendiri dan asik dengan dunia kita sendiri karena keterikatan kita pada gadget/smartphone. Jangankan mendengarkan orang lain, untuk  “datang dan melihat” atau  bersosialisasi dengan orang lain saja begitu sulit. Tidak jarang kita melihat di ruang publik, transportasi umum, bahkan di rumah sendiri, walaupun sedang berkumpul, orang-orang sibuk dengan gadget-nya masing-masing tanpa menyadari keberadaan orang lain dan apa yang terjadi di sekitarnya. 

Saat ini kita seperti berada dalam krisis kepekaan, krisis kepedulian. Kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang membutuhkan bantuan/kehadiran kita. Minimnya komunikasi membuat kita terpisah secara batin walaupun kita hadir secara fisik. 

Dalam Injil Minggu ini Yesus bersabda: “...supaya mereka semua menjadi satu,  sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. (Yoh 17:21). Ayat ini menggambarkan adanya persekutuan/persatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya. Dalam pesannya, Paus Fransiskus mengatakan “Tuhanlah yang berinisiatif, Ia berbicara kepada kita, dan kita menjawab dengan mendengarkan-Nya. Pada akhirnya, pendengaran ini pun berasal dari rahmat-Nya, sama seperti anak baru lahir yang menanggapi tatapan dan suara ibu dan ayahnya”. Inkarnasi Yesus adalah bentuk komunikasi Allah pada manusia, komunikasi yang dibangun untuk persatuan komunal.

Dalam hubungannya dengan berbangsa dan bernegara, penggunaan media komunikasi yang tidak bijak, seperti menyebarkan hoax, dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Sering kita dengar, ada oknum (biasa disebut Buzzer) yang  dengan sengaja, menyuarakan suatu kepentingan, menggiring opini publik dengan menyebarkan hoax atau isu SARA untuk menimbulkan perpecahan guna mengganggu stabilitas nasional demi kepentingan dan keuntungan pribadinya. Padahal media komunikasi seharusnya menjadi sarana untuk mempersatukan. 

Di sinilah peran kita untuk “mendengarkan dengan telinga hati” seperti pesan Paus Fransiskus lewat tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini. Dengan mendengarkan kita memberikan ruang bagi Tuhan mewahyukan diri-Nya, dan berbicara dalam hati kita. “Mendengarkan, dalam komunikasi adalah keterbukaan hati yang memungkinkan kedekatan yang tanpanya perjumpaan rohani tidak akan terjadi.” (lih. Evangelii Gaudium art. 171). Tuhan memberkati.

FX. Rudy Andrianto (Kasubdit Kelembagaan)