Moderasi Beragama dalam Kedamaian Tanpa Kekerasan

Om Swastyastu. Om awigenam astu namo sidham. Om sdihirastu tat astu swaha.

Umat sudharma yang berbahagia. Pesan dharma pekan ini mengangkat tema 'Moderasi Beragama dalam Kedamaian tanpa Kekerasan'.

Dewasa ini sedang hangat diperbincangkan mengenai moderasi beragama di tengah merosotnya kesadaran masyarakat dalam memaknai sebuah keberagaman. Moderasi beragama itu sendiri mengisyaratkan tentang cara pandang perilaku beragama yang moderat, toleran, menghargai perbedaan dan selalu mengejawantahkan kemaslahatan bersama.

Sebagai umat beragama, kita harus mampu memaknai esensi ajaran agama itu sendiri, salah satunya dengan menghargai kemanusiaan. Sebagai warga negara Indonesia kita harus mampu menerjemahkan agama sebagai basis yang merefleksikan kesejukan, perdamaian, dan menghindari konflik. Itulah yang sesungguhnya disebut dengan moderasi beragama.

Umat sudharma yang berbahagia. Salah satu indikator moderasi beragama adalah anti kekerasan. Dalam Hindu dijelaskan terkait dengan anti kekerasan disebut Ahimsa. “Ahimsa ya Paro dharma” yang artinya tidak menyakiti dan tidak membunuh adalah dharma yang tertinggi.

Maksud anti kekerasan atau tidak menyakiti dalam hal ini adalah tidak menyakiti dengan tindakan, tidak menyakiti dengan kata-kata, tidak menyakiti sejak dalam pikiran. Intinya adalah tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan rasa sakit yang akhirnya menimbulkan kebencian dan konflik.

Dalam konteks kehidupan beragama yang dimaksud anti kekerasan atau tidak menyakiti adalah tidak berpikir, berkata, dan berbuat tentang suatu hal yang dapat mengganggu kerukunan, kedamaian, dan kebebasan setiap orang dalam menjalankan aktifitas beragamanya. Misalnya, tidak malanggar hak setiap orang untuk beribadah sesuai keyakinannya, tidak melarang membangun tempat sucinya, tidak menghina kepercayaan lain, dan tidak berpikir untuk berkata dan berbuat yang menyakiti orang lain.

Umat sudharma yang berbahagia. Dalam upaya mewujudkan kehidupan yang moderat dengan tidak menyakiti, maka ada tiga hal penting yang harus dikendalikan. Pertama adalah pikiran. Dalam pustaka sarascamuscaya, seloka 80, dijelaskan “Yang disebut pikiran itu adalah sumber dari segala nafsu, pikiranlah yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan juga buruk”.

Dari kutipan seloka tersebut, dapat kita pahami bahwa pikiran inilah yang pertama kita kendalikan agar tidak terealisasi, baik dalam bentuk perkataan maupun tindakan yang dapat menyakiti orang lain.

Kedua, perkataan. Dalam Kekawin Nitisastra disebutkan, “Dengan kata-kata kita bisa menemukan kebahagiaan. Dengan kata-kata kita bisa menemukan kematian. Dengan kata-kata kita bisa menemukan kedukaan. Dan dengan kata-kata pula kita mendapatkan sahabat”.

Di sini, telah dengan jelas disebutkan bahwa dengan kata-kata kita bisa menemukan kebahagiaan dan penderitaan, bahkan kematian. Maka, senantiasalah berusaha untuk mengendalikan perkataan itu.

Ketiga adalah tindakan. Dalam falsafah Jawa disebutkan, “Ala ulah ala tinemu, yang artinya perbuatan buruk yang kita lakukan maka buruk pula hasil yang didapatkan”. “Ayu kinardi ayu pinanggih, yang artinya kebaikan yang dilakukan maka kebaikanlah yang akan didapatkan”.

Dari beberapa kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kita harus mampu mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan untuk mewujudkan kehidupan beragama yang rukun, harmonis dan damai.

Umat sudharma yang berbahagia. Makna sederhana yang dapat kita petik dalam penyampaian ini adalah bagaimana perilaku hidup tanpa kekerasan dengan pengendalian tiga hal penting, yaitu: pikiran, perkataan, dan perbuatan, merupakan dasar untuk mewujudkan kehidupan beragama yang moderat, rukun, harmonis, dan damai. Mari bersama-sama untuk menghindari perbuatan menyakiti. Sebab, hal itu adalah pemicu api kebencian yang akan berujung pada konflik dan mengakibatkan perpecahan. Mari kita sama-sama menerima, menghargai, dan menghormati perbedaan yang ada karena sesungguhnya berbeda itu indah.

Demikian dan terimakasih. Om santih santih santih om

 

I Ketut Suardana, S.Pd (Rohaniwan Hindu)