Moderasi Beragama di Tangan Gus Menteri Yaqut

Banyak kalangan yang tidak menduga bahwa Presiden Jokowi menunjuk Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), sebagai Menteri Agama. Sosoknya yang tegas merespon gerakan kelompok ekstrem selama ini justru dipercaya menggawangi Kementerian Agama. Sebuah kementerian yang lekat dengan area-area sensitif, khususnya yang berhubungan dengan agama dan keyakinan.

Muncul pertanyaan, bagaimana nasib Moderasi Beragama dan pembangunan bidang agama ke depan di tangan Gus Menteri Yaqut? Pertanyaan ini wajar mengemuka karena pendekatan perjuangan Gus Yaqut sebelumnya diasumsikan "agak" berbeda dibandingkan dengan spirit Moderasi Beragama yang tengah digencarkan oleh Kementerian Agama sebagai paradigma pembangunan nasional. Ciri khas Moderasi Beragama yang sebelumnya diinisiasi mantan Menag LHS terletak pada cara pikir, sikap, dan berperilaku moderat (jalan tengah) di antara dua titik ekstrem kanan dan kiri dalam beragama.

Di mana perbedaannya? Sebelum menjadi Menag, Gus Yaqut bersama GP Ansor berada di garda terdepan dalam menolak keras gerakan diskriminatif yang muncul di ranah politik tanah air. Ia juga rajin membangun kontra-narasi politisasi agama di media sosial. Jargon terkenal yang sering disebutnya adalah "NKRI Harga Mati!". Terma yang tergolong keras untuk melawan mereka yang memperjuangkan sistem khilafah dan konsepsi bernegara dalam bingkai Islam formil.

Melalui sikap tegas inilah, dalam porsi tertentu, Gus Yaqut disebut mewakili kelompok muda yang "tidak moderat", setidaknya kurang moderat dalam menyikapi fenomena keragaman cara beragama umat, di antaranya perjuangan Islam politik. Dalam arti, sikapnya yang sangat tegas terhadap kelompok kanan dengan cara yang offensif  menimbulkan "keresahan" di tengah kelompok kanan.

Sedangkan spirit Moderasi Beragama yang dibangun oleh Kementerian Agama selama ini mengarah pada konsep pelaksanaan "wasathiyat al-Din" (jalan tengah dalam beragama). Konsep ini mendorong pemeluk agama agar mengambil jarak tegas dalam garis tengah di antara titik ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Moderasi Beragama menafikan cara pikir, sikap, dan perilaku "ekstrem", baik untuk memperjuangkan maupun menolak terhadap cara beragama yang kaku, formil, sempit, simplistik, dan semacamnya.

Artikel ini akan mencermati beberapa "terobosan" Gus Menteri untuk menjawab pertanyaan di atas, sekaligus menerka arah pembangunan bidang agama yang diinginkannya.

Pertama, pidato awal Gus Yaqut saat diperkenalkan sebagai calon Menteri Agama oleh presiden Jokowi. Dalam kesempatan tersebut, Gus Yaqut menegaskan bahwa dirinya akan menjadikan agama sebagai inspirasi. Agama, menurutnya sebagai nilai (value), spirit, dan acuan makna yang dapat menumbuhkan sikap positif, khususnya dalam kaitannya dengan kehidupan yang majemuk. Dalam selorohnya di suatu kesempatan, ide besarnya tersebut jika ditulis dalam buku, bisa berjilid-jilid. 

Pemaknaan ide agama sebagai inspirasi sesungguhnya penegasan bahwa agama selayaknya menjadi "pijakan" moril bagi pemeluknya sehingga membentuk pribadi yang inklusif, empatik, toleran, dan bijak. Agama tidak seharusnya dijadikan tujuan yang sering menimbulkan gesekan sebagaimana yang terjadi pada abad-abad silam. Agama sejatinya "hanya" alat untuk meraih tujuan, yaitu dekat dengan Tuhan dan membentuk pribadi yang berakhlak mulia. 

Pesan-pesan inti di atas sering disampaikan Gus Menteri dalam banyak kesempatan, baik di ruang-ruang publik, maupun saat bertemu dengan para tokoh agama di kantor maupun di luar kantor. Arah pikiran Gus Menteri ini sejalan dengan para tokoh sebelumnya seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid (Cak Nur), Munawir Syadzali, dan lain-lain. Inti dari pemikiran ini adalah tidak membenturkan agama dengan negara. Juga tidak mempertentangkan agama dengan budaya. Keduanya bisa saling menguatkan dan saling mengisi dengan tujuan utamanya, yaitu kesejahteraan bagi umat manusia.

Kedua, afirmasi Gus Menteri atas pelindungan kelompok minoritas yang memiliki hak sama sebagai warga negara. Siapapun, apapun agama dan keyakinannya berhak mendapatkan pelindungan dari negara tanpa kecuali. Bagi Gus Menteri, hidup di negara plural di bawah naungan Pancasila harus rela mengendalikan ego-ego primordial terkait dengan suku, ras, agama, budaya, dan lain-lain sehingga akan terjalin ikatan persaudaraan yang kuat.

Kalimat hikmah Ali bin Abi Thalib yang sering disitir Gus Menteri adalah "Mereka yang bukan saudara dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan". Penegasan ini penting untuk membuktikan persaudaraan sesama warga bangsa. Faktanya, kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh atas perjuangan semua unsur dan kelompok agama. 

Menurut Gus Menteri, semua warga bangsa berhak memiliki negara ini sepenuhnya. Semua umat beragama, baik Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan semua agama serta keyakinan yang ada di Indonesia terlibat dalam pergolakan kemerdekaan bangsa ini. Sehingga perlu ditumbuhkan sikap agar tidak ada pihak manapun yang mengklaim merasa paling Indonesia dan klaim paling memiliki negara.

Pembuktian Gus Menteri pada poin kedua ini sudah sangat jelas, bahwa hak-hak warga bangsa, khususnya hak-hak menjalankan ibadah sesuai keyakinannya terus didorong. Satu isu menarik yang dikemukakan Gus Menteri adalah keinginannya menjadikan candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha, selain destinasi wisata sebagaimana sudah berjalan selama ini.

Gus Yaqut meyakini betul bahwa membuka candi Borobudur sebagai destinasi ritual umat Buddha akan memberi efek positif luar biasa bagi bangsa ini. Selain akan menjadi tujuan wisata spiritual umat Buddha sedunia, juga akan meningkatkan devisa negara, akulturasi budaya, dan dampak psiko-sosial bangsa ini di mata dunia. Ini juga akan menjadi salah satu media diplomasi Indonesia di mata dunia internasional melalui pendekatan "soft diplomacy".  

Ketiga, penegasan Gus Menteri dalam penguatan Moderasi Beragama yang selama ini telah berjalan. Konsep Moderasi Beragama yang dikembangkan Kementerian Agama inline dengan "main goal" Gus Menteri selama ini, meskipun sedikit memiliki style agak berbeda sebelum menjadi Menag. Namun, tujuan utama perjuangannya selama ini ingin membangun sistem sosial umat beragama yang berada di jalan tengah. Menjadi tugas Gus Yaqut untuk mengimplementasikan konsep Moderasi Beragama hingga terus membumi.

Ada satu paradigma yang saat ini telah dilontarkan oleh Gus Menteri bahwa kebijakan dirinya sebagai Menag ingin "menjauhi" terminologi sosial "toleran-intoleran" yang selama ini sering menjadi perebutan hegemoni politik yang kurang menguntungkan. Terma "toleran-intoleran" sangat rentan terhadap asumsi-asumsi politik yang menggiring pada wacana primordialisme "kami-mereka" yang sulit diberikan batasan, sehingga sering menimbulkan gesekan-gesekan seperti selama ini terjadi.

Untuk membuktikan perjuangan Gus Menteri senafas dengan ide besar Moderasi Beragama yang telah menjadi nadi pembangunan nasional, telah ditetapkan kebijakan berupa penguatan moderasi beragama. Salah satu penekanannya adalah pada penguatan literasi keagamaan, budaya non diskriminasi, dan nilai-nilai kebangsaan.

Jadi, menjawab pertanyaan di atas, maka Gus Yaqut jelas akan memberikan harapan baru yang lebih konkrit dan terarah terkait dengan pembangunan bidang agama. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah diperjuangkan abahnya, KH Cholil Bisri, dalam dakwah bidang politik yang tidak pernah mempertentangkan antara agama dan negara. 

Gus Yaqut yang terlahir dari trah ulama besar asli Rembang, dengan tradisi dan budaya NU yang sangat kental, akan memberi optimisme besar bagi arah penguatan Moderasi Beragama dan pembangunan bidang agama di masa yang akan datang. Semua kita patut menunggu gebrakan-gebrakan selanjutnya untuk Indonesia maju yang bebas dari sengkarut politisasi agama. Wallahu a'lam.

Thobib Al-Asyhar (Penulis buku, ASN Kementerian Agama)