MTQ Dengan Sentuhan Teknologi Komunikasi Dan Informasi

Agama adalah kepercayaan dan pola tingkah laku, yang digunakan oleh manusia untuk menghadapi apa yang mereka pandang sebagai masalah-masalah penting yang tidak dapat diselesaikan dengan cara menggunakan teknologi atau teknik organisasi yang mereka punya. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan ini, manusia beralih ke perbuatan memanipulasi makhluk dan kekuatan supernatural (Haviland 1996). Saat ini tentu apa yang disampaikan Haviland sudah berbeda zaman, teknologi menjadi sebuah cara dari keberagamaan. Acara keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an pun tidak luput dari penggunan teknologi. Dengan penggunaan teknologi, seremonial MTQ menjadi lebih meriah dan syiarnya lebih dirasakan masyarakat. 

MTQ sebagai sebuah syiar agama untuk mendekatkan umat dengan Al Qur’an di Indonesia pertama kali dicetuskan dan dilaksanakan oleh Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama pada tahun 1940. Pemerintah kemudian pertama kali mengadakan MTQ Nasional pertama kali di Makassar tahun 1968. MTQ kedua dilaksanakan di Banjarmasin pada tahun 1970 yang hari ini akan berlangsung MTQ ke XXIX di kota yang sama dari tanggal 10-19 Oktober 2022. Kalimantan Selatan adalah provinsi keempat yang mengadakan MTQ Nasional dua kali setelah 52 tahun selain Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Secara umum STQ/MTQ terlaksana sebagai agenda tahunan dimulai dari tingkat desa/kelurahan sampai nasional bahkan internasional. Bahkan beberapa lembaga/kementerian juga seperti KORPRI, TNI dan Polri menggelar MTQ untuk kalangan mereka sendiri.

Selama berjalan kurang lebih 54 tahun, STQ dan MTQ mengalami perkembangan baik dari segi cabang dan golongan yang dimusabaqahkan. Tentu dengan penambahan dan cabang dan golongan yang dilombakan membutuhkan sentuhan teknologi, meliputi juga syiarnya demi menjawab tantangan zaman. Di masa pandemi kemarin saja, beberapa daerah mengadakan musabaqah dengan menggunakan aplikasi zoom dalam rangka menghindari kerumunan guna memutus penyebaran Covid 19. Ini menandakan bahwa Covid 19 tidak membatasi untuk tetap melaksanakan MTQ, justru dengan sentuhan teknologi IT, syiar MTQ bisa tetap terlaksana. Boleh dikata, bahwa pandemi ini menyebabkan masa depan terlalu cepat. Tidak terbayangkan sebelumnya MTQ bisa dilakukan dengan aplikasi zoom. Bahkan pada seleksi awal, beberapa daerah peserta cukup mengirimkan video rekaman dan diupload di link google form. 

Saat ini ada tiga aplikasi yang dipakai di arena MTQ, yaitu: e-MTQ, e-Maqra, dan Musabaqah. Aplikasi e-MTQ resmi pertama kali dipakai pada MTQ Nasional XXVI tahun 2016 di provinsi Nusa Tenggara Barat. Aplikasi ini digunakan setelah 30 tahun pelaksanaan MTQ dalam rangka memudahkan pendaftaran peserta menjadi efektif dan efisien sehingga pendaftaran bisa dilakukan lebih awal dan administrasi peserta bisa segera diverifikasi. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan finger print atau alat sensor sidik jari untuk peserta ketika daftar ulang. Dengan verifikasi maka peserta yang akan mengikuti MTQ adalah peserta yang sah dari segi umur dan domisili. 

Aplikasi kedua adalah aplikasi e-Maqra, aplikasi ini pertama kali resmi digunakan di MTQ Nasional XXVII di Sumatera Utara. Tujuan pemakaian aplikasi ini adalah merespon beberapa negara sudah memakai sistem maqra untuk menghadirkan sistem MTQ yang kredibel, professional dan transparan. Sekaligus juga meminimalisir kebocoran maqra yang sangat rentan. 

Aplikasi ketiga yang dipakai adalah Musabaqah. Aplikasi ini digunakan bertujuan untuk mengoreksi dan memeriksa interval nilai dewan hakim secara otomatis. Selain itu peserta dan official dapat mengetahui nilai peserta yang sudah tampil serta peringkat terbaik setiap harinya di cabang dan golongan yang dilombakan. Bagi peserta, mengetahui nilai mereka sesudah tampil adalah untuk meningkatkan kemampuan mereka pada masa yang akan datang. Kekurangan pada bidang penilaian seperti tajwid, lagu atau fashahah memotivasi mereka untuk berlatih lebih giat. 

Penggunaan teknologi dalam MTQ di satu sisi semakin menambah kesan mudah, modern dan canggih. Bisa memangkas jarak, waktu dan menghemat biaya. Tapi di sisi lain teknologi yang memanjakan ini bisa juga menyebabkan syiar MTQ menjadi berkurang. Orang tak lagi berbondong-bondong ke venue lomba karena cukup menonton streaming via Youtube. Padahal MTQ akan semarak jika dipenuhi penonton. 

Di masa yang akan datang tentu ketiga aplikasi yang penulis sebutkan di atas perlu disatukan agar lebih simpel. Penulis juga memimpikan ada aplikasi yang bisa dipakai untuk mengambil maqra dari jarak jauh sehingga official tidak perlu datang ke sekretariat panitia. Juga perlu ada aplikasi yang dipakai dewan hakim memberikan nilai tanpa menggunakan kertas lagi sehingga ramah lingkungan. Aplikasi-aplikasi dalam MTQ ini hendaknya dimiliki oleh Kementerian Agama sebagai operator, dan perlu ada penyempurnaan untuk menutupi sejumlah kekurangannya. Setidaknya berbagai aplikasi ini menandakan bahwa MTQ bisa merespon perubahan zaman. Selamat bermusabaqah, semoga MTQ kali ini bisa terwujud sesuai tema “Dengan MTQ Nasional kita tingkatkan kualitas SDM yang unggul dan Qur'ani untuk mewujudkan Masyarakat yang Religius dan Moderat”.

Naif Adnan (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan)