Orang-orang "Kubu" Mulai Masuk Islam dan Mengenal Budaya

Pikda, Jambi (25/10) - Orang-orang suku "Kubu" yang merupakan suku anak dalam (SAD) yang selama ini banyak tidak mengenal agama dan budaya sebagai suku terasing dan hidup berkelompok berpindah-pindah di dalam hutan Provinsi Jambi, kini mulai ada yang masuk agama Islam dan mengenal budaya luar. Direktur Eksekutif LSM Koordinator suku anak dalam (Kopsad) Jambi, Budi Vrihaspati, di Jambi, Selasa, membenarkan, melalui pembinaan-pembinaan termasuk dari LSM tersebut, sudah banyak suku "Kubu" yang mampu beradaptasi dengan masyarakat, mengenal agama dan mengenal tata cara kehidupan.

Seperti dalam bulan puasa ini, seorang remaja bernama Sebiyang (16) yang juga binaan Kopsad menyatakan diri memeluk agama Islam dan merupakan warga Kubu yang kesekian kalinya menganut agama Islam seteleh mendapat pembinaan lebih dulu. Pembinaan yang dilakukan Kopsad merupakan suatu upaya bagi LSM yang peduli dengan suku anak dalam itu untuk mengenalkan budaya dan tata cara kehidupan yang selama ini tidak dikenal warga suku rimba yang hidup berpindah pindah dari suatu hutan ke hutan lainnya. Kehidupan berpindah-pindah dari hutan kehutan lainnya yang dilakukan suku anak dalam Jambi atau Kubu itu membuat sebagian kelompok anak rimba itu tidak mengenal peradaban dunia modern selama ini, sehingga tertinggal terus merongrong keberadaan suku terasing itu, kata Budhi.

Dengan cara mengenalkan peradaban seperti, mengenal tulis, baca atau pendidikan, bercocok tanam dan tata cara kehidupan seperti masyarakat biasa yang hidup di pedesaan dan perkotaan, membuat satu persatu suku anak rimba itu mulai menganut agama dan dapat menentukan kehidupannya sendiri seperti masyarakat lainnya. Ketika ditanya berapa banyak suku anak dalam yang sudah masuk agama Islam dan mengenal peradaban, Budhi mengemukakan cukup banyak namun tidak merinci jumlahnya, namun pembinaan terhadap suku yang selama ini melanglang buana dalam hutan sudah dapat hidup mengikuti kehidupan masyarakat biasa. Namun Kopsad menyayangkan kurangnya perhatian dari berbagai kalangan terhadap pembinaan Kopsad dan terkadang suku anak dalam dijadikan objek untuk mencari keuntungan bagi masyarakat yang sudah mengenal peradaban, kata Budhi.

Ia mengakui, banyak warga SAD yang hanya menerima bantuan dari pemerintah daerah dan pusdat serta bantuan luar negeri sejak beberapa tahun yang silam, namun hingga kini kenyataan dan keberhasilan yang dibina belum menuai hasil yang menggembirakan seperti yang diharapkan. Ia beharap, para donor dan peyumbang dana untuk dapat memperhatikan kegiatan yang dilakukan untuk membina dan mengenalkan peradaban pada suku "kubu" atau orang rimba dan suku anak dalam yang terdapat di Provinsi Jambi.

"Bantuan terus mengalir, tetapi hasilnya masih belum didapatkan, ketertinggalan dan keberadaan suku terasing yang tidak mengenal peradaban tetap terjadi, akibat ulah dari orang yang sudah mengenal peradaban mempermainkan dana bantuan untuk kepentingan pribadi dan golongan", kata Budhi.(Ant)