Orang Samaria yang Murah Hati 

Saudara-saudari seiman dalam Tuhan Yesus Kristus: menjadi sesama bagi semua orang. Dalam Injil Lukas 10: 25-37, ada beberapa pertanyaan yang muncul, antara lain: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Selanjutnya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawabannya jelas, yaitu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan.”

Kita tahu bahwa orang Samaria pada zaman Yesus bukanlah orang yang terpandang di mata bangsa Yahudi sebagaimana Imam dan Lewi. Namun dengan kisah yang disampaikan Yesus, jelas Ia mengajarkan kepada kita suatu hal yang amat mendasar dan semakin relevan dengan Penguatan Moderasi Beragama yang menjadi prioritas Kementerian Agama. Yaitu, sesama kita bukan hanya karena satu agama, satu suku, satu hubungan keluarga, satu kantor, satu level, satu sosialita – tapi setiap dan semua manusia adalah sesama, tanpa kecuali.

Moderasi Beragama di Indonesia hanya mungkin terlaksana ketika jauh di dasar lubuk hatinya, seseorang memandang orang lain yang tidak seagama di Republik Indonesia ini sebagai sesamanya; sama-sama orang/bangsa Indonesia, dengan keyakinan penuh bahwa semua keberagaman ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama Pancasila).

Kita, masyarakat Katolik Republik Indonesia dengan spirit 100 persen Katolik & 100 persen Indonesia, setidaknya pada tataran konsep sudah tidak ada masalah dengan pemahaman bahwa semua manusia adalah sesama kita. Dan semestinya semua masyarakat memahami sama seperti ini sebagai sesama – kita dapat berharap besar terhadap program prioritas Penguatan Moderasi Beragama untuk menjadikan semua bangsa Indonesia adalah sesama kita satu-sama lainnya. Agama menjadi pemersatu sesama dan bukan menjadi pembeda yang memisahkan, apalagi memusuhkan.

Oleh karena itu, kita, masyarakat Katolik, bersama masyarakat lainnya tidak boleh berhenti hanya moderat pada tataran konsep saja, namun harus sampai dalam praktik hidup bersama-sama sebagaimana ‘orang Samaria yang murah hati’ tersebut. Terutama dalam sama-sama menghadapi dampak pandemi Covid-19, yang sampai sekarang belum juga berlalu dari kita.

Saudara-saudari seiman dalam Tuhan Yesus Kristus: menjadi sesama bagi semua orang. Mengasihi sesama manusia sama seperti mengasihi diri sendiri  – sebagaimana diajarkan oleh Taurat, yang dicatat dalam Injil Lukas tersebut – itu sudah bagus. Namun sebagai murid Tuhan Yesus, ‘tolok ukur mengasihi sesama’ tidak hanya sebatas sama seperti mengasihi diri kita sendiri, tapi kita diperintahkan-Nya untuk mengasihi sesama sebagaimana Tuhan Yesus Kristus mengasihi kita.

Kasih Kristus kepada kita adalah kasih tanpa batas dan tanpa syarat, kasih Ilahi yang sempurna, supaya kita pun menjadi sempurna sama seperti Bapa, sempurna adanya. Amin. 

 

Aloysius Harmadi (Pembimas Katolik Provinsi Sumatera Selatan)