Pelimpahan Jasa 

Abhivādanasīlissa, niccaṁ vaddhāpacāyino, cattāro dhammā vaddhanti, āyu vaṇṇo sukhaṁ balaṁ. Ia yang selalu menghormati dan menghargai orang yang lebih tua, kelak akan memperoleh empat hal, yaitu: umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, dan kekuatan. (Dhammpada, Syair 109)
    
Tahun ini, puncak peringatan Cheng Beng jatuh pada tanggal 05 April 2022. Cheng Beng dalam bahasa Mandarin disebut Qing Ming yang berarti “cerah dan terang”. Cheng Beng adalah tradisi di Tiongkok untuk mengenang dan menghormati mendiang para leluhur.  

Cheng Beng menjadi tradisi penting masyarakat Tionghoa. Karena seluruh anggota keluarga berkumpul bersama melakukan ziarah ke makam orang tua dan para leluhur. Cheng Beng merupakan ritual tahunan masyarakat Tionghoa yang terus dilestarikan hingga saat ini. Termasuk oleh masyarakat Tionghoa yang memeluk agama Buddha.

Dalam Buddhis, wujud bakti kepada para leluhur dikenal sebagai Pattidana. Pattidana merupakan bagian dari sepuluh perbuatan baik (Dasa Puññakiriyavatthu). Pattidana dapat diterjemahkan mempersembahkan kebajikan atau persembahan jasa kepada leluhur. Secara umum Pattidana sering diartikan sebagai “pelimpahan jasa”. 

Pattidana merupakan ungkapan bentuk wujud dari rasa bakti dan hormat (katannukatavedi) kepada mendiang orang tua, para leluhur, dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia, baik di kehidupan sekarang atau kehidupan sebelumnya. 

Para mendiang memiliki hubungan karma (kammabandhu) serta memiliki jasa yang sangat berarti dalam hidup kita. Keberadaan kita saat ini tidak terlepas dari jasa-jasa kebajikan para leluhur, terutama orang tua. Orang tua dikatakan orang yang memberikan pertolongan sejati (pubbakari) dan memberi pertolongan (upakara) kepada anak-anaknya. 

Merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk melimpahkan jasa kepada para leluhur. Guru Agung Buddha di dalam Sigālovada Sutta, Digha Nikāya menjelaskan salah satu kewajiban anak kepada orangtua yang telah meninggal. Yaitu dengan melakukan kebajikan dan mempersembahkan jasa kebajikan tersebut kepada mendiang.

Pattidana merupakan ungkapan rasa bakti kepada para leluhur yang telah meninggal dunia. Dengan harapan agar mendiang mengetahui perbuatan baik yang dilakukan oleh sanak keluarganya yang masih hidup. Kemudian ikut berbahagia (mudita citta) atas kebajikan yang telah dilakukan itu. Karena dengan turut merasakan kebahagiaan, mendiang yang terlahir di alam menderita telah melakukan kebajikan mereka sendiri. Sehingga mengondisikan dapat terlahir kembali di alam yang lebih bahagia. 

Sebelum melakukan pelimpahan jasa, seseorang terlebih dahulu harus melakukan suatu kebajikan. Jasa kebajikan tersebut yang selanjutnya dilimpahkan kepada para mendiang dengan harapan: “semoga kebajikan yang saya lakukan ini dapat turut dirasakan dan dinikmati leluhur, keluarga dan semua makhluk yang memiliki hubungan karma di manapun mereka berada”. 

Pattidana kadang disalahartikan sebagai bertentangan dengan hukum karma. Padahal Pattidana bukanlah “mentransfer” jasa baik. Pattidana justru menambah nilai dari kebajikan yang telah dilakukan. Sebagaimana yang terdapat dalam Kalimat Perenungan Kerap Kali (Abhinhapaccavekkhana Patha), bahwa: perbuatan apa pun yang akan kulakukan, baik atau pun buruk, perbuatan itulah yang akan kuwarisi. 

Pattidana hanya mengondisikan agar mendiang turut berbahagia saat melihat sanak keluarganya berbuat kebajikan atas namanya. Itu pun jika mendiang yang karena perbuatannya sendiri terlahir kembali di alam setan kelaparan (peta). Sebagaimana tertuang dalam Tirokudda Sutta, Khuddakapatha dikatakan, “Sebagaimana air hujan yang turun di dataran tinggi mengalir ke tempat rendah; demikianlah persembahan jasa yang disampaikan oleh sanak keluarga dari alam manusia akan menuju ke para mendiang. Sebagaimana sungai yang meluap airnya akan mengalir memenuhi lautan; demikianlah persembahan jasa yang disampaikan oleh sanak keluarga dari alam manusia akan menuju ke para mendiang”. 

Pattidana adalah perbuatan mulia yang dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak terikat oleh waktu dan tempat. Mari jadikan setiap kesempatan dalam hidup ini untuk selalu berbuat kebajikan. Ingatlah untuk senantiasa mempersembahkan jasa kebajikan tersebut kepada para leluhur, usai kita melakukan suatu kebajikan. Karena Pattidana menjadi ungkapan nyata rasa bakti, penghormatan, cinta kasih dan kasih sayang kepada para leluhur, yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. 

Semoga semua makhluk berbahagia.