Pembebasan Diri dari Samsara

Aññā hi labhūpanisa, aññā nibbānagāminī, evametaṁ abhiññāỵa. Bhikkhu buddhassa sāvako, sakkāraṁ nābhinandeyya, vivekamanubrūhaye. Ada jalan yang menuju pada keuntungan duniawi, dan ada jalan lain yang menuju ke Nibbana. Setelah menyadari hal ini dengan jelas, hendaklah seorang bhikkhu siswa Sang Buddha tidak bergembira dalam hal-hal duniawi, tetapi mengembangkan pembebasan diri. (Dhammapada, Syair 75)

Kelahiran kita sebagai manusia dan kehidupan yang kita jalani di dunia ini tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba. Tetapi merupakan konsekuensi dan hasil dari kumpulan perbuatan (kamma), baik melalui pikiran, ucapan, maupun perilaku yang telah kita lakukan pada kehidupan-kehidupan lalu. Kelahiran dan kehidupan kita ini sangat berkaitan erat dengan Hukum Kamma.  

Hukum Kamma merupakan hukum sebab dan akibat. Hukum yang menjelaskan sebab dan akibat dari perbuatan yang dilakukan. Perbuatan baik atau buruk akan menghasilkan akibat yang sesuai. Jika kita melakukan sebab perbuatan yang secara moral tidak baik, maka efeknya akan memunculkan penderitaan. Sebaliknya, jika kita melakukan sebab perbuatan yang secara moral baik, maka efeknya akan memunculkan kebahagiaan. Secara Hukum Kamma, kita adalah pencipta dari kehidupan kita sendiri. 

Hukum Kamma bekerja di dalam kehidupan dan berlaku di 31 alam kehidupan. Tiga puluh satu alam kehidupan ini disebut dengan istilah saṃsara. Yaitu: proses perpindahan makhluk dari satu kehidupan ke kehidupan lain atau siklus kelahiran dan kematian. Kelahiran akan diikuti kematian dan kematian akan diikuti pula kelahiran. Siklus ini berputar pada mereka yang masih saja terjebak pada Hukum Kamma dan belum mampu melampauinya.

Kehidupan kita saat ini bukanlah kehidupan kita yang terakhir. Kehidupan kita saat ini adalah kehidupan yang mungkin sudah tidak terhitung lagi. Di masa lalu kita sudah hidup untuk jangka waktu yang lama sekali dan sampai hari ini pun masih terus melakukan perbuatan baik dan buruk.

Guru Agung Buddha menjelaskan dalam kitab Samyutta Nikaya II: “Para Bhikkhu, saṃsara ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan. Titik pertama tidak terlihat oleh makhluk-makhluk yang berkelana dan mengembara, terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh keinginan. Akan tiba saatnya, para Bhikkhu, ketika samudera raya mengering dan menguap dan tidak ada lagi. Tetapi Aku mengatakan, tetap saja tidak mengakhiri penderitaan bagi makhluk yang berkelana dan mengembara, terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh keinginan.” 

Saṃsara merupakan siklus penderitaan yang terus terulang; di mana makhluk yang tetap terlahir kembali, berarti makhluk tersebut akan tetap terus terikat dengan Hukum Kamma. Samudera saṃsara tidak terhingga banyaknya dan tidak terhingga lamanya.

Selama seseorang masih terhalangi oleh kebodohan batin (moha) dan terbelenggu oleh keinginan (tanha) dan masih terus menerus melakukan perbuatan, maka selama itu pula siklus saṃsara akan terus berlangsung berulang-ulang. Dan siklus ini bisa saja tanpa akhir.

Bagi seseorang yang tidak mau belajar dan memahami Kebenaran Universal (Dhamma) dan tidak mau berlatih memberi (dana), moralitas (sila) dan konsentrasi (samadhi), maka perjalanan ini bisa saja tanpa akhir. Bahkan pada saat alam semesta ini hancur, perjalanan juga akan terus berlangsung. 

Ikutilah jalan para Arahat dan para Buddha yang sudah berhasil meraih kesucian secara sempurna, menghentikan siklus saṃsara ini. Mereka adalah orang yang telah mencapai Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana); sudah tidak ada lagi kelahiran dan kematian.

Kehidupan yang masih dicengkeram oleh kelahiran kembali adalah penderitaan. Karenanya, sebagai umat Buddha mari kita berjuang memutuskan roda samsara dalam kehidupan saat ini juga. Atau paling tidak berjuang semaksimal mungkin untuk mengakhiri penderitaan dalam kehidupan saat ini. 

Manfaatkanlah sebaik-baiknya kesempatan saat kita terlahir sebagai manusia untuk memiliki pandangan benar (samma ditthi) agar dapat memahami cara bekerja hukum-hukum alam (Dhamma Niyama) di dalam kehidupan ini, termasuk Hukum Kamma, serta mempelajari, mempraktikkan dan merealisasi Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, pada akhirnya kita dapat pula terbebas dari siklus samsara dan merealisasi Nibbana.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.