Pembiasaan Baca Al-Kahfi dan Tanam Cabai, Catatan Pendampingan Inovasi di MIN 3 Simeuleu

Mentari beranjak, menghantar sinar yang mulai menghangat, saat para siswa MIN 3 Simeuleu melantukan QS Al-Kahfi. Jumat, 13 Agustus 2021, jam 07.00 WIB, mereka sudah duduk rapih untuk membaca surat Al-Kahfi.

Kegiatan ini rutin dilakukan selama 30 menit setiap Jumat pagi, atau selama 15 menit setiap hari. Mereka membaca Surat Al-Kahfi setiap pagi, sebelum memulai pembelajaran.

Selain pembiasaan membaca Al-Quran, MIN 3 Simeuleu juga melatih siswanya bercocok tanam cabai. Pembiasaan dalam kelas dan latihan di luar kelas ini menjadi bagian dari Inovasi Madrasah yang dikembangkan MIN 3 Simeuleu.

Pendampingan
MIN Simeleu adalah salah satu peserta program pendampingan inovasi madrasah yang digulirkan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. Program ini bertujuan untuk memastikan berjalannya tindak lanjut pelatihan inovasi madrasah dengan sebuah proses observasi, telaah dokumen, dan wawancara. 

Dari proses tersebut, terjadi proses dialog antara petugas pendamping, alumni pelatihan, sekaligus pihak Kantor Kementerian Agama setempat dalam rangka memecahkan masalah yang ditemukan. Dialog juga mampu menggali potensi, peluang, hambatan, dan tantangan yang dihadapi dalam rangka meningkatkan mutu madrasah.

Inovasi dalam program ini mengacu pada penanaman karakter sebagai siswa yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan berwawasan global.  Karakter tanggung jawab ditunjukan dengan konsistensi menjaga amanah dari guru dan kepala sekolah. Bersama-sama dengan temannya saling peduli untuk menjaga lingkungan dan memanfaatkan lahan yang ada. 

Penuh dedikasi menggambarkan ketulusan yang muncul dari masing-masing pribadi siswa. Ini menjadi modal awal untuk melahirkan siswa yang membanggakan dan dapat memberikan hal terbaik bagi madrasahnya. Berwawasan global adalah cermin sikap yang mampu membuka hati dan pikirannya, serta berkontribusi positif bagi pengembangan madrasah.

Madrasah Kepulauan
Sesuai namanya, MIN 3 Simeuleu berlokasi di Kabupaten Simeuleu. 
Kabupaten ini merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari 41 pulau besar dan kecil. Kepulauan ini terletak di Samudra Indonesia, 105 mil laut (194,46km) dari Meulaboh, Aceh.

Jika diukur dari Tapak Tuan, jarak Simeulue 85 mil laut (157,42 km). Pulau Simeulue merupakan pulau terbesar dari 41 pulau di kawasan itu. Luas Pulau ini hingga 100,2 km dan lebarnya 8 sampai dengan 28 km. Luas Pulau Simeulue mencapai 199.502 Ha.

Untuk sampai lokasi, perjalanan dari Jakarta ditempuh dengan pesawat terbang menuju Kualanamu Medan. Perjalaan dilanjutkan ke Kab Simeulue dengan pesawat kecil berpenumpang 11 orang. Saat pulang dari Simeulue, transportasi yang digunakan adalah kapal Ferry tujuan Labuhan Haji dan langsung ke Medan. Ini juga sangat tergantung cuaca. Jika ombak tinggi, terpaksa perjalanan harus ditunda. Dari Medan baru lanjut ke Jakarta.

Kab Simeulue merupakan destinasi wisata yang hening. Suasana sedang sepi karena dampak pandemi. Hotel tempat kami menginap juga sepi. Deru dan debur ombak laut yang membiru menjadi hiburan tersendiri.

Kamis, 12 Agustus 2021, kami tiba di MIN 3 Kab. Simeulue. Para siswa MIN menyambut dengan Tari Ranup Lampuan.

Program Inovasi
Kami selanjutnya berdiskusi membahas inovasi. Hadir, Kasubag TU dan Kasi Penmad Kankemenag Kab Simeleu, pengawas madrasah, dan sejumlah guru madrasah swasta. Kemi berdiskusi untuk menggali kekuatan, peluang, hambatan, tantangan dalam pengembangan program inovasi.

Alhamdulillah, hasil diklat mulai nampak. Gerakan inovasi yang digagas oleh tim work MIN 3 Simeulue tampak berjalan. Ada program pembiasaan membaca Surat Al-Kahfi selama 30 menit setiap Jum’at pagi, sebelum pembelajaran. Juga pembiasaan membaca Al-Quran setiap pagi selama 15 menit.

Selain itu, siswa juga dilatih menanam dan merawat cabai. Setiap siswa diberi tugas merawat satu polibage besar yang diharapkan akan menghadilkan cabai dalam jumlah banyak. Ini sebagai ikhtiar membentuk tanggung jawab mereka terhadap tugas yang diberikan.

Program penanaman cabai ini disambut masyarakat sekitar. Mereka  siap membeli hasil agribisnis siswa MIN 3 Simeuleu. Kami beri tantangan, agar madrasah ini bisa menghasilkan 1-2 ton cabai dalam dua sampai lima tahun ke depan. Target ini cukup rasional, karena banyak lahan kosong di madrasah dan media tanamannya juga tersedia.

 

(Tim Pendamping: Dadang Baehaki dan Bayu Iman)