Pendidikan Humanistik dalam Agama Khonghucu

Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam peradaban manusia. Tanpa proses belajar dan mengajar, sangat tidak mungkin suatu kebudayaan dapat berkembang dengan baik. Proses pendidikan juga harus didasari konsep dan teknik mendidik yang tepat. Teknik pendidikan yang tepat selanjutnya akan membuahkan cara belajar yang baik.

Pendidikan tidak selalu di sekolah dan bersifat formal. Pendidikan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Sejak bayi lahir, sudah mulai terjadi proses pendidikan. Sampai pada saat usia dini, remaja, hingga dewasa, manusia selalu mengalami, secara sengaja maupun tidak sengaja, proses-proses pendidikan dalam hidupnya. Apalagi, pada zaman modern ini, pendidikan formal menjadi kebutuhan setiap manusia.  

Macam-Macam Aliran Pendidikan
Sebelum kita memahami secara khusus tentang pendidikan humanistik yang ada dalam Ajaran Agama Khonghucu, marilah kita mencoba memahami beberapa aliran pendidikan sebagai pembanding. Berdasarkan materi pendidikan yang disampaikan, usia, budaya di suatu daerah, maka metode dan konsep pendidikan pun bermacam-macam. 

Menurut sudut pandang ilmu Psikologi, ada empat aliran pendidikan yang berkembang sampai saat ini, yaitu:

1. Aliran Psikoanalisis (Freudian)
Psikonaliasa adalah kekuatan pertama dalam aliran psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Aliran ini lebih mengutamakan pembinaan manusia sejak usia anak-anak. Menurut aliran ini, pembinaan yang baik sejak usia dini akan tertanam ke alam bawah sadar anak dan akan berpengaruh pada perilakunya di kala dewasa.

Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu: consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar), dan unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Freud mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu ide, ego, dan super ego.

2. Aliran Behavioristik
Aliran ini merupakan aliran psikologi (ilmu jiwa) yang tidak peduli dengan jiwa. Para psikolog kelompok ini hanya mempelajari perilaku yang nampak, dan karena itu dapat diukur. Psikologi adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati. Jiwa jika didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diamati, maka berarti berada di luar wilayah psikologi. Aliran ini terkenal dengan teori Conditioning dengan eksperimen pada seekor anjing yang dikondisikan untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi bel.

Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami pengembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Gunthrie. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (rewards), hukuman (punishment), atau penguatan (reinforcment) dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang sangat erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya. Aliran ini melihat dari sudut pandang yang dinyakininya rasional dan sangat empiris.

3. Aliran Humanistik
Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Sebagai sebuah aliran yang relatif masih muda, beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yang relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri (ekstensialisme), dan hal-hal yang bersifat positif tentang manusia. 

Aliran humanistik dan teori yang dikembangkan oleh tokoh-tokohnya yang relevan dengan pendidikan, sampai saat ini dinyakini adalah konsep yang tepat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

4. Aliran Psikologi Kognitif
Istilah "Cognitive" berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian luas dari cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). 

Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi. 

Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu, kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.

Penerapan Pendidikan Humanistik Saat Ini
Finlandia adalah negara yang terkenal dengan sistem pendidikannnya yang berhasil melahirkan generasi berkualitas dan unggul. Pendidikan di Finlandia menganut sistem Humanistik, yakni sistem belajar yang menekankan peserta didiknya untuk memadukan teori dan praktek serta menempatkan murid sebagai objek yang bebas, merdeka, namun diiringi rasa tanggung jawab. Pembelajarannya melakukan pendekatan dialogis, reflektif dan ekspresif, sehingga mereka mampu memecahkan problem solving. 

Berbeda dengan sistem pendidikan yang masih diterapkan di beberapa negara, termasuk Indoensia, yang bersifat Behavioristik sehingga lebih menekankan teori,  belajar dengan metode stimulus-respon, serta mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. 

Teori Humanistik menekankan prilaku akibat efek dari belajar. "Humanistic motivasi berprestasi, bukan hanya kebiasaan atau reward – punishment. Skill dan proses. Mencari / mengembangkan potensi masing-masing  individu. Guru sering kali hanya facilitator."

Pendidikan Humanistik dalam Khonghucu
Ada  metode-metode belajar bersifat humanistik, yang selalu ditekankan oleh Nabi Kongzi di setiap kesempatan memberikan sabda, arahan, dan petunjuk kepada para muridnya, antara lain adalah dalam istilah "meneliti hakikat tiap perkara".  Meneliti hakikat tiap perkara dapat diartikan secara umum  dengan mempelajari semua hal, seluk beluk kehidupan di dunia ini. Kemampuan untuk  belajar tersebut tentu dibutuhkan dukungan kognisi dan afeksi yang baik, tidak hanya sekedar mengikuti atau meniru, tetapi meneliti dan mempelajari.

Meneliti hakikat tiap perkara adalah kemampuan seseorang untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Kepedulian ini membuat seseorang memperhatikan setiap hal yang dijumpainya. Perhatian / attention ini adalah bekal bagi kognisi untuk termotivasi mempelajari sesuatu hal lebih lanjut.

Untuk lebih lanjut kita dapat mengulas dua konsep yang diajarkan di Agama Khonghucu seperti tulisan dibawah ini.

1. Watak Sejati
Menurut Ajaran Agama Khonghucu, manusia dapat berbudi luhur jika mengembangkan "Watak Sejati" nya.  Watak Sejati merupakan anugrah Tuhan kepada manusia. Baik buruk perilaku seseorang tergantung dari bagaimana ia mengembangkan watak sejatinya. 

Pemahaman tentang Watak Sejati dijelaskan dalam Kitab Mengzi Bab VI A. 6 ayat ke 7: “Adapun rasa hati berbelas-kasihan itu menunjukkan adanya benih Cinta Kasih, rasa hati malu dan tidak suka itu menunjukkan adanya benih kesadaran menjunjung Kebenaran, rasa hati hormat dan mengindahkan itu menunjuk kan adanya benih Kesusilaan, dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan itu menunjukkan adanya benih Kebijaksanaan. Cinta kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan itu bukan hal-hal yang dimasukkan dari luar ke dalam diri, melainkan diri kita sudah mempunyainya. Tetapi sering kita tidak mau mawas diri. Maka di katakan ‘Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah dan engkau akan kehilangan”.

a. Cinta Kasih (Ren)
Cinta Kasih adalah kemampuan afeksi (perasaan). Cinta Kasih dapat berwujud berupa perasaan kasihan dan tidak tega terhadap sesama manusia dan bahkan mahluk lainnya.  

Cinta Kasih adalah kemampuan memberi dan menerima orang lain. Kemampuan memberi perhatian serta bantuan pada orang lain. Kemampuan menerima serta memahami orang lain. 

Cinta Kasih dapat dikatakan juga merupakan kemampuan empati yang harus terus di asah dan dikembangkan untuk dapat memahami orang lain dan lingkungan disekitarnya. Kemampuan ini tentu harus di asah dengan proses belajar yang juga melibatkan unsur kognitif.

Orang yang selalu berproses mengembangkan cinta kasih dalam dirinya akan memiliki karakter yang lebih bisa diterima orang lain, berpikir lebih positif dan harmonis dengan lingkungannya.

b. Menjunjung Tinggi Kebenaran / Keadilan (Yi)
Memahami mana pikiran dan tindakan yang benar, dan mana pikiran dan tindakan yang salah, akan membentuk pola pikir manusia untuk selalu melalui jalan yang benar. 

Kebenaran adalah suatu hal yang dipelajari manusia sejak lahir. Mulai dari bayi kita diajarkan untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. Kita diajarkan oleh orang tua kita bagaimana cara makan yang benar, diajarkan berbicara yang benar, diajarkan menggunakan anggota badan dengan benar. Sampai kita dewasa semua pendidikan yang telah kita jalani adalah mencari mana yang benar dan menghindari hal mana yang salah. Kebenaran dipelajari oleh manusia untuk hidup dengan baik bersama sesamanya, lingkungannya dan juga Tuhan Yang Maha Esa.

Proses belajar kebenaran di sini tidak karena  proses reward dan punishment seperti dalam konsep pendidikan behaviorisme. Karena proses kebenaran yang dipelajari berlandaskan cinta kasih. Orang berpikir tentang kebenaran karena berdasar pertimbangan  cinta kasih.  Kebenaran yang diupayakan untuk mewujudkan cinta kasih.  

c. Kesusilaan (Li)
Menurut sudut pandang ilmu psikologi terdapat jenis perilaku yang tidak nampak dan perilaku yang nampak. Perilaku yang tidak nampak misalnya proses kognisi dan afeksi. Sedangkan perilaku yang nampak misalnya adalah perilaku susila. 

Contoh perilaku susila dalam Agama Khonghucu seperti menjalankan norma dan etika dengan baik, menjalankan tata ibadah dengan khidmat dan sebagainya.  Namun, perilaku susila harus dilandasi dengan hati yang tulus dan pikiran yang lurus. Hati yang tulus karena berlandaskan cinta kasih, dan pikiran yang lurus karena berlandaskan pada kebenaran.

Jadi dapat disimpulkan juga bahwa kesadaran seorang manusia untuk mengikuti dan mengembangkan tatanan kehidupan yang lebih baik, didasari oleh kemampuan orang tersebut menghayati rasa cinta kasih dan memahami kebenaran. Selanjutnya, dapat mengembangkan dan menerapkan etika dan tata krama yang positif di lingkungan sekitarnya.

Agama Khonghucu juga menggunakan ritual yang berupa tata ibadah untuk membentuk karakter manusia menjadi susila. Kesusilaan juga dilandasi oleh rasa hormat dan berkembang menjadi rasa bakti. Sehingga dapat dikatakan bahwa karakter manusia dibentuk dari dalam dan dari luar. Pembentukan dari dalam melalui penghayatan akan cinta kasih dan kebenaran. Sedangkan pembentukan dari luar melalui ritual ataupun penerapan kesusilaan secara lebih luas. 

Manusia yang berkesusilaan adalah manusia yang beradab. Karena manusia yang berkesusilaan akan harmonis dengan orang lain dan lingkungannya. 

Orang yang sampai pada tahap menyukai kesusilaan berarti menyukai keindahan, keteraturan, dan keharmonisan. Kesusilaan tumbuh dari dalam diri, bukan karena paksaan ataupun aturan. Seperti tercermin dalam Kitab Lun Yu Jilid VI : 19, Nabi Bersabda:  “Yang mengerti belum sebanding dengan yang menyukai, sedangkan yang menyukai belum sebanding dengan yang dapat merasa gembira di dalamnya“ 

d. Kebijaksanaan (Zhi)
Untuk memperoleh tahapan kebijaksanaan seseorang sudah harus memahami makna dari cinta kasih, menjunjung tinggi kebenaran, dan kesusilaan. Proses mengumpulkan informasi dengan membaca pengetahuan-pengetahuan akan membuat kebijaksanaan orang bertambah. Kebijaksanaan bukan sekedar menumpulkan informasi saja, tetapi lebih kepada analisa informasi yang ada. Analisa kebenaran-kebenaran yang diterima sesuai konteksnya.

Umat Khonghucu percaya bahwa watak sejati ini adalah benih yang sudah dimiliki seorang manusia sejak lahir atau bahkan sejak dalam kandungan. Jadi selain mengembangkan rasa cinta kasih, manusia juga harus melatih dan mengembangkan benih-benih kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan. Sehingga, dia bisa menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang sempurna (Junzi).

Seorang yang sudah memahami, menghayati dan melatih Cinta kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan akan mendapatkan kepercayaan (xin) dari Tuhan, orang lain, dan alam semesta. Dengan kata lain manusia tersebut sudah harmonis atau selaras dengan Tuhan, Manusia dan Alam Semesta.

Yang bisa disimpulkan bahwa cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan harus dikembangkan dan dilakukan secara komprehensif. Keempatnya tidak bisa dipisahkan dan saling mendasari satu sama lain.  Keempat unsur tersebut menjadi modal bagi manusia untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensinya sebagai manusia Junzi. Proses belajarnya tidak memerlukan cara-cara reward dan punishment. Semuanya dilakukan dengan ikhlas, tulus dan menjadi bagian dari Iman umat beragama Khonghucu.

2.  Delapan Program Pengembangan Diri
Jika mengembangkan empat watak sejati merupakan proses pengembangan diri secara individu, maka  delapan program pembinaan diri yang tertuang dalam Kitab Da Xue Bab utama ayat 4 – 5 adalah bersifat lebih luas. Adapun delapan program tersebut adalah

a. Meneliti Hakikat Perkara (Ge Wu) 
Pendidikan secara umum dimulai dari usia dini dengan mengenal berbagai macam nama-nama benda, dilanjutkan dengan memahami masalah-masalah dan fenomena yang ada disekitar kita. Untuk dapat mulai memahami masalah di sekitar kita, maka yang paling awal diperlukan adalah perhatian (attention). 

Orang yang memiliki perhatian yang besar, akan memotivasinya untuk ingin tahu lebih jauh lagi. Ini seperti yang disabdakan Nabi Kongzi dalam Kitab Lunyu Jilid VII : 8. Nabi bersabda, “Kepada yang tidak mau bersungguh-sungguh, tidak perlu diberi petunjuk. Kepada yang tidak mau berterus-terang, tidak perlu diberi nasehat. Kepada yang sudah diberi tahu tentang satu sudut, tetapi tidak mau berusaha mengetahui ketiga sudut yang lain, tidak perlu diberitahu lebih lanjut.”

Dari ayat tersebut, dapat disimpulkan untuk dapat mengetahui ketiga sudut yang lainnya, diperlukan kemampuan untuk meneliti hakikat tiap perkara.

b. Mencukupkan Pengetahuan (Zhi Zhi)
Kemampuan untuk meneliti hakikat tiap perkara akan diiringi dengan kemampuan untuk mencukupkan keingintahuan dengan mempelajari berbagai pengetahuan sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun informal. Sumber pengetahuan bisa berasal dari buku-buku, guru ataupun fenomena disekitar kita.

c. Mengimankan Tekad (Cheng Yi) 
Orang mempunyai  banyak pengetahuan, selalu mendapatkan banyak informasi, maka akan melihat banyak peluang dalam hidupnya. Peluang-peluang tersebut akan menjadi tujuan dari hidupnya. 

Misalnya, ketika ingin berwisata ke suatu kota, maka kita harus memiliki informasi yang cukup tentang tempat wisata tersebut. Kita tahu tujuannya ke mana saja, jika kita sudah berada di kota tersebut.

Begitu juga dengan arti mengimankan tekad. Orang memiliki tekad yang kuat karena memiliki tujuan yang jelas. Tujuannya tentu sesuai dengan kebajikan, tujuan yang positif. Tujuan tersebut selanjutnya di jalani dengan tekad yang kuat. Tekad yang penuh iman.

d. Meluruskan Hati (Zheng Xin)  
Tekad yang kuat itu harus dilandasi dengan hati dan pikiran yang suci. Maka untuk dapat bertekad mencapai cita-cita yang sesuai dengan kebajikan, manusia harus dapat mengendalikan emosinya, serta senantiasa dapat merefleksi diri, instropeksi diri dan tepasarira.

e. Membina Diri (Xiu Shen) 
Ajaran Agama Khonghucu mewajibkan umatnya untuk selalu membina diri, mengembangkan watak sejatinya. Ajaran Agama Khonghucu juga mewajibkan umatnya untuk membina pikiran dan perbuatannya sehingga dapat mencapai kesuksesan dalam hidup secara lahir dan bathin. Selain itu, bekerja juga harus sesuai dengan posisi / kedudukannya, serta berusaha sebaik mungkin untuk kebaikan masyarakatnya.

Jika seseorang sudah menjalankan program pengembangan diri sampai pada tahap keempat, maka sudah dapat dikatakan menjalankan Pembinaan Diri. 

f. Membina Rumah Tangga (Qi Jia)
Setelah manusia belajar membina diri sendiri, maka tahap selanjutnya adalah dapat membina keluarganya. Membawa keluarganya ke arah Jalan Suci. Misalnya, mencukupi anak-anaknya dengan pengetahuan-pengetahuan yang benar, serta membuat keluarganya bahagia dan sejahtera.

Pengalaman membina rumah tangga ini sebagai bekal untuk dapat berperan serta membina masyarakat yang lebih luas. Hal ini tersurat dalam Kitab Da Xue Bab IX ayat 5: “Maka teraturnya Negara itu sesungguhnya berpangkal pada keberesan dalam rumah tangga.”

g. Mengatur Negara  (Zhi Guo)
Seseorang yang dapat membina rumah tangganya dengan baik, akan lebih mampu untuk ikut mengatur pemerintahan, berperan serta di dalam mensejahterakan masyarakat banyak dalam kehidupan yang harmonis.

h. Menjaga Perdamaian Dunia (Ping Tian Xia)
Jika semua lapisan masyarakat dapat hidup harmonis, maka perdamaian dunia akan dapat dirasakan. Semua itu kembali lagi pada terciptanya pribadi-pribadi dengan pendidikan yang baik.

Kesimpulan
Pada dekade ini, pendidikan Humanistik adalah metode yang dipilih untuk diterapkan sebagai pengganti dari pendidikan yang bersifat behavioristik . Pendidikan behavioristik mulai ditinggalkan karena bersifat mekanis. Perilaku manusia dikondisikan dengan hukuman dan hadiah. Manusia tidak diajarkan untuk berpikir mendalam dan mengolah jiwanya. 

Pendidikan Humanistik mengajarkan manusia untuk berpikir secara mendalam dan komprehensif (utuh), sehingga apa yang menjadi dasar perilakunya benar-benar disadari oleh jiwanya. Perilaku manusia tidak didasari oleh hukuman ataupun hadiah dari lingkungan atau orang lain.

Konsep Pendidikan Humanistik ini sebenarnya sudah diterapkan oleh Nabi Kongzi lebih dari 2500 tahun yang lalu, agar manusia dapat membina dirinya dan menjadi seorang yang bijaksana.  Pembinaan diri ini dimulai dengan proses afeksi dan kognisi, dimulai dari dalam individu sendiri untuk mendapatkan kesadaran akan perilaku-perilaku yang berkebajikan. 

Proses dalam individu juga sudah dijabarkan dengan empat macam watak sejati. Empat watak sejati ini saling menguatkan dan melengkapi, membentuk individu menjadi insan yang bijaksana. 

Proses mengembangan watak sejati ini adalah proses humanistik, karena menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri (ekstensialisme), dan hal-hal yang bersifat positif tentang manusia.

Tetapi ajaran Agama Khonghucu tidak berhenti pada pengembangan diri sendiri saja. Ajaran ini juga menggunakan delapan program pengembangan diri manusia agar dapat berperan bagi masyarakat yang lebih luas. Seorang yang sudah membina dirinya, dapat mengembangkan orang lain dengan metode humanistik lewat pendidikan, ritual, kesenian, dan sebagainya.

Proses pembinaan diri ini juga merupakan proses yang terus berjalan dalam kehidupan manusia seperti yang disabdakan Nabi Kongzi sebagai berikut: “Belajar dan selalu dilatih tidakkah itu menyenangkan? Kawan-kawan datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Junzi?“

Maka sudah saatnya kita mengembangkan dan menerapkan kembali konsep-konsep pendidikan humanistik sesuai Ajaran Agama Khonghucu ini didalam pendidikan formal maupun informal.


Santoso Lim, S.Sn, M.Psi (Dosen Pendidik Agama Khonghucu, Psikologi dan Desain Komunikasi Visual)


TERKAIT

Menjadi Murid Seperti Petrus

Mentalitas Kristiani Menghadapi Pandemi

Byapada

Hidup di Jalan Suci

New Normal dalam Perspektif Hindu