Pengabdian Guru Disabilitas yang Tak Kenal Batas

Jakarta (Kemenag) --- Seandainya peristiwa memilukan di usia tiga tahun tidak menjadi bagian dari skenario hidupnya, boleh jadi Rastini tidak akan menjadi seorang pendidik, apalagi memilih membersamai anak berkebutuhan khusus (ABK). Bagaimana tidak, kondisinya sendiri sudah dianggap terbatas, tapi mau pula bersusah payah mengajar siswa disabilitas. Namun begitulah, baginya, berdamai dengan takdir itu indah. Keikhlasan akan berbuah manis, meski diawali rasa pahit.

Pagi itu, 10 Juni 2021,  Rastini sudah duduk di depan laptop dengan layar proyektor yang sudah terkembang disiapkan panitia tempat ia akan menyampaikan presentasi di sebuah ruang aula hotel bintang empat di Kota Bandung. Rastini adalah guru SLB A Beringin Bhakti, Kabupaten Cirebon yang juga penyandang tunanetra. Ia didapuk Direktorat Pendidilan Agama Islam, Kementerian Agama RI untuk menjadi narasumber, berbagi ilmu dan pengalaman di depan 25 lebih guru agama sekolah luar biasa se-Jawa Barat yang 75% juga penyandang tunanetra. 

Rastini meski berperawakan kecil, tapi tidak dengan nyalinya yang besar untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Sesi pagi itu, ia akan menyampaikan hasil penelitiannya terkait metode menghafal juz 'amma (juz 30 pada Al-Qur'an) yang ia terapkan kepada peserta didiknya, kelas 5 SD penyandang disabilitas majemuk . Disabilitas majemuk adalah suatu kondisi pada seseorang dengan lebih dari satu keterbatasan, misalnya bukan hanya tunanetra tapi kemampuan intelegensianya juga di bawah rata-rata. 

Mengenakan jilbab abu-abu, Rastini dengan semangat menggebu menyampaikan pengalaman berkesannya mendidik anak-anak yang menyandang disabilitas majemuk dengan cara mengulang-ngulang mengikuti lafaz yang diucapkan, ditambah dengan sentuhan, baik sentuhan fisik kepada siswanya maupun sentuhan kasih sayang.

“Metode sentuhan itu maksudnya ketika guru mengajari siswanya khusus untuk tunanetra dan pemilik tuna ganda, ia bisa menyentuh tangan si anak, agar siswa tersebut tenang dan merasa nyaman karena merasa diperhatikan. Kemudian sang guru  membacakan ayat yang akan dihafal, diulang sampai tiga kali, karena kalau lebih biasanya anak tersebut tidak betah. Jika sekiranya si anak sudah mampu menghafalkan bisa ditanyakan apakah aktivitas mau dilanjutkan atau istirahat," papar Rastini.

"Metode sentuhan tangan ini khusus untuk anak penyandang tunanetra dan permasalahan intelektual. Sedangkan untuk penyandang keterbatasan intelektual dan sosial yang bisa melihat, bisa dilakukan dengan eye contact langsung. Untuk tunanetra murni, kegiatan menghafal bisa dibimbing dengan percakapan langsung bersama gurunya,” sambungnya.

Wanita kelahiran Cirebon, 22 April 1980 ini mengawali karier sebagai guru setelah lulus kuliah pada tahun 2005, sebagai tenaga honorer di Semarang. Cita-cita awal Rastini sebenarnya hanya ingin berbagi ilmu kepada anak-anak yang tidak mampu mengenyam bangku sekolah. Akan tetapi, tenyata kesempatan untuk menjadi guru PNS malah terbuka di depannya.

“Tahun 2007 sampai 2009, saya menjadi guru kelas dan guru PAI di SLB. Namun saya memang kuliah mengambil jurusan PAI sehingga saya sampai sekarang pun menjadi guru PAI. Pada tahun 2009, saya mulai diangkat menjadi guru PNS di SLB tersebut," tuturnya.

Rastini mengatakan, menjadi guru anak-anak tunanetra yang juga penyandang disabilitas majemuk ini justeru memberinya ilmu. Itulah yang membuatnya terkesan karena menyulutkan inovasi-inovasi dalam pembelajaran di sekolah.

“Awalnya saya merasa tidak mampu atau kewalahan menghadapi mereka karena cara yang saya terapkan tidak menampakkan hasil. Namun saya mencoba tidak putus harapan. Saya mulai membaca buku, searching dunia internet dan diskusi dengan beberapa rekan bagaimana cara mengatasi hambatan dalam mengajar mereka. Saya coba dengan beberapa metode. Setiap ada perkembangan baru pada siswa, saya catat demikian terus menerus hingga mereka akhirnya bisa menghafal Al-Qur'an, ada yang sudah bisa Surat Al Kaafirun hingga Al 'Adiyaat,” ujar Rastini.

Bisa dikatakan Rastini memang salah satu contoh guru SLB penyandang tunanetra yang berprestasi dan sangat menunjukkan dedikasinya sebagai guru profesional. Pada tahun 2007 hingga 2009, ia juga sempat ditetapkan sebagai kepala sekolah oleh yayasan di Semarang yang awalnya bernama MILB, atau Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa. Selama menjabat menjadi kepala sekolah ia berhasil mengupayakan izin operasional MILB dari kantor Kementerian Agama di Semarang, juga mengusahakan bantuan insentif untuk para guru honorer di SLB tersebut karena hanya dia kebetulan yang memiliki ijazah sarjana.

Prestasi yang sangat berharga lainnya bagi sekolah tentunya adalah bagaimana Rastini menerapkan metode membaca dan menulis Al-Qur'an (TBTQ) dengan metode Braille untuk siswanya yang tunanetra sekaligus penyandang multidisabilitas.

“Kemampuan mereka menghafal bagus tapi agak lemah syaraf sensoriknya untuk mengenal huruf, demikian pula dengan kemampuan akademik yang di bawah rata-rata.  Mereka mulai belajar sejak kelas 4.  Nah, pada kelas 7 mereka akhirnya bisa membaca dan menulis sekaligus membaca dan menulis Al-Qur'an dengan metode braille. Untuk praktik menulisnya mereka kami ajarkan menggunakan alat yang dinamakan riglet dan stilus. Riglet itu semacam landasan, sedangkan stilus alat untuk menusuknya atau penanya. Namun bagi pemula yang ingin mempelajari TBTQ braille syaratnya harus  bisa dulu huruf latin yang biasanya dipelajari dengan braille text,” terangnya.

Untuk saat ini, sekolah tempat Rastini mengajar tengah bekerjasama dengan sebuah Yayasan Rumah Tahfiz di Cirebon. Di rumah tahfiz ini, ada beberapa siswa yang sudah sanggup menghafal 2 juz, yakni juz 30 dan uz 29. Menurutnya, meski program tersebut sudah dilaksanakan, tapi tidak menjadi target utama pembelajaran di sekolah. Bagi Rastini yang penting anak-anak bisa menerima cara gurunya mengajar dengan baik.

Dalam mengajar, Rastini juga berusaha menempatkan diri di kelas sebagai teman untuk para siswanya.  Hal ini dimaksudkan agar ia bisa mendengar keluh kesah mereka. Pada saat itulah ia akan masuk merengkuh hati para peserta didiknya dengan menyelipkan nasihat-nasihat yang baik. Rastini juga berusaha menerapkan prinsip keteladanan dalam berinteraksi. Misalnya mengajak salat wajib dan salat sunah  seperti Duha bersama.

“Pada dasarnya guru harus menguasai medan kelasnya dengan baik. Ini yang coba saya jadikan prinsip, meskipun saya juga dalam keterbatasan. Berusaha mendekati mereka walaupun kadang harus dengan berjalan tertatih menyenggol sana sini di ruangan tersebut. Namun justru dengan demikian, mereka akan melihat bahwa meskipun guru mereka tidak bisa melihat tapi tetap memiliki kepercayaan diri,” ungkapnya. 

Terkait kompetensi sebagai guru, Rastini berusaha mengembangkannya dengan cara banyak membaca literatur terutama terkait materi mengenai disabilitas majemuk. Kedua, banyak bertanya dan berdiskusi dengan rekan-rekannya di Forum Komunikasi Guru SLB (FKG SLB) di tingkat nasional maupun Provinsi Jawa Barat. Dan ketiga, mengikuti pelatihan-pelatihan pembelajaran sehingga sebagai guru ia pun akan update dan selalu berinovasi. Maka ia pun berharap kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama untuk bisa terus memperhatikan kebutuhan para guru SLB baik dalam bentuk bantuan maupun pelatihan-pelatihan secara berkala. Karena guru PAI SLB kadang tidak hanya dituntut untuk mengajar pendidikan agama saja tapi juga pendidikan umum lainnya.

Wanita berputra tiga ini mendapat dukungan penuh dari keluarganya untuk menggunakan sebagian waktunya agar bisa didedikasikan bagi aktivitas mengajar anak-anak disabilitas. Suaminya sendiri juga seorang tunanetra yang juga bergelut dalam dunia pendidikan. Ia aktif bergabung dan ikut mengelola Rumah Tahfiz. Bahkan suaminya masuk dalam kelas menghafal bersama rekan-rekan tunanetra lainnya yang kebetulan tidak sempat mengenyam bangku pendidikan formal.

Jalan takdir kehidupan manusia memang tidak sama. Semua sudah diatur dalam kehendak skenario Tuhan Yang Maha Kuasa. Rastini yang bersuara lembut ini bertutur pada waktu umur tiga tahun semuanya bermula. Ia yang lahir di Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran Cirebon ini mengalami sakit demam selama seminggu. Berhubung sarana transportasi masih sulit dan ketersediaan tenaga medis terbatas, orang tuanya tidak sempat membawanya berobat. Rastini kecil hanya berbaring menangis sambil mengatupkan matanya. Tak dinyana, sakit panas itu telah merenggut bola matanya, ia terlambat menerima penanganan dokter.

Namun sebagai hamba Allah, Rastini tidak menyesali peristiwa yang menimpanya. Semua dijalankan dengan sabar, bersyukur dan penuh keikhlasan, sama ikhlasnya ketika ia mengajar menghadapi kemajemukan kondisi murid-muridnya. Ia pun ikut berpesan kepada rekan-rekannya sesama guru SLB agar tetap semangat dalam memberikan ilmu kepada anak-anak disabilitas baik yang majemuk maupun tidak.  Selanjutnya tetap berkarya dan berinovasi untuk memberikan pendidikan layak buat mereka karena bagaimanapun mereka adalah titipan Allah.

“Mereka adalah amanah Allah, sehingga kita harus ikhlas mendidik mereka karena keikhlasan itu insyaallah akan berbuah manis,” nasihat Rastini menutup perbincangan dengan nada optimis.

 

Sih Wikaningtyas (Fungsional pada Direktorat PAI, Kemenag RI)