Pengemis dan Puasa, Sebuah Masalah Orang Miskin Kota

Tidak kusangka tiba-tiba tumbuh rasa iba.
Dua ibu, menantu dan mertua, berjaga-jaga.
Bahkan dengan anak-anak mereka sekeluarga.
Di ATM di pom bensin Tlogo Mas Barat UNISMA.
Sebelum UMM dan sebelah Timur kampus megah.
Sepertinya mereka mengedarkan amplop dan meminta-minta.
Setiap kali orang datang ke ATM disapa mereka.

Dengan izin mereka saya foto berdua.
Tunjukan identitas dengan KTP sesuai nama.
Bahkan alamat mereka tercantum dengan ceta.
Aku dialog katanya sih rumah mereka rebah.
Aku percaya apalagi ini bulan puasa.
Setidaknya lihat penampilan mereka yang sangat sederhana.
Allah pasti tahu yang sebenarnya tanpa lengah.

Foto-foto itu saya kirim ke ibu lurah.
Aku kirim juga ke Rektor UMM dan Rektor UNISMA.
Bahkan aku kirim ke Bupati Malang dan Waki Kota.
Entahlah mungkin ini sedikit saja rasa aku punya jiwa.
Mungkin juga implikasi dari sebuah ibadah puasa.
Namun saya berdo'a semoga  aku bisa ikut merasa.
Betapa pun mereka adalah rakyat Indonesia.
Bahkan di kota yang mungkin sangat ramah manusia.

Jika saja bapak Wali Kota sedia.
Bisa perintah kepada dinas soaial dan lainya.
Bahkan jika perlu para rektor datang bersama.
Mengatasi problem kemiskinan di sekitar orang kaya.
Bisa juga melibatkan NU dan Muhammadiyah.
Biar riel program dakwah bukan hanya bisa ceramah belaka.

Dospundi pak Sanusi dan pak Sutiaji.
Nopo meniko mboten sae dan prayogi?

Malang, 6 Mei 2021
'Abd Al Haris Al Muhasibiy