Pengukuran Fajar di Timau Konfirmasi Kebenaran Jadwal Salat Subuh Kemenag

Masalah jadwal shalat shubuh dalam beberapa tahun terakhir sempat membingungkan umat. Ada yang berpendapat bahwa jadwal shalat shubuh yang dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag) dianggap terlalu awal. Untuk merespons kebingungan umat tersebut, pada 2018 Tim Kemenag telah melakukan pengukuran waktu shubuh di Labuan Bajo. Hasilnya menunjukkan bahwa jadwal shalat shubuh sudah benar. Fajar shadiq sebagai penentu awal waktu shubuh muncul saat matahari pada posisi -20 derajat 

Untuk melengkapi data fajar, Kemenag menjalin kolaborasi dengan Pusat Riset Antariksa BRIN untuk kembali melakukan pengamatan waktu ibadah berbasis astronomi pada 27 – 30 Juli 2022.  Tim Kemenag melakukan pengukuran fajar dan pengamatan hilal awal Muharran 1444 di Kupang. Tim terdiri dari perwakilan Kemenag serta pakar astronomi dan falak. Pengukuran fajar dilakukan pada 28 – 29 Juli di kawasan Observatorium Nasional (Obsnas) BRIN di Timau, Kupang. Malam itu juga merupakan akhir Dzulhijjah sehingga tidak ada gangguan cahaya bulan.

Kawasan Obsnas sangat mendukung pengukuran fajar dengan lebih akurat. Langitnya sangat cerah pada musim kemarau dan sangat gelap. Jauh dari polusi cahaya. Tim membawa peralatan lengkap berupa dua SQM (Sky Quality Meter) dan dua kamera. Dua SQM yang digunakan adalah SQM LU yang terintergrasi dengan Portable Twilight Meter (PTM) dan SQM terpisah dengan menggunakan filter Bessel V (Visual). Sedangkan dua kamera yang digunakan adalah Raspi HQ Camera yang terintegrasi dengan PTM dan Kamera Mirrorless Canon.

Semua alat tersebut merekam perubahan cahaya di ufuk timur secara fotometri. SQM menghasilkan kurva cahaya berupa magnitude per arc square second (mpass) terhadap waktu yang dikonversikan ke posisi matahari. Kamera merekam perubahan cahaya pada citra ufuk. Citra kamera digunakan untuk menunjukkan secara visual perubahan cahaya di ufuk timur. Selain itu, analisis citra kamera juga bisa menghasilkan data kurva intensitas cahaya terhadap waktu atau posisi matahari.

Langit Timau yang cerah dan jauh dari polusi cahaya dibuktikan dengan ketampakan galaksi Bimasakti yang sangat jelas. Fajar kadzib atau cahaya zodiak juga terlihat kasat mata di ufuk timur. Fajar kadzib terlihat seperti cahaya putih lembut menjulang sepanjang ekliptika, jalur di langit yang ditempati matahari, bulan, planet-planet, serta 12 rasi utama.

Hasil pengukuran dengan empat alat menunjukkan bahwa fajar shadiq sudah muncul pada posisi matahari -20 derajat. Ketampakan fajar shadiq, baik pada citra kamera maupun kurva cahaya, didahului dengan ketampakan fajar kadzib. Di citra kamera fajar kadzib tampak sebagai cahaya lembut sepanjang ekliptika yang terlihat semakin terang dari waktu ke waktu. Pada kurva cahaya fajar kadzib, perubahan ini diindikasikan dengan kurva yang makin meningkat secara perlahan. Pada kurva magnitudo, makin kecil nilainya berarti makin terang.

Pada citra kamera, awal fajar shadiq kurang jelas terlihat karena ada pepohonan. Tetapi dengan membandingkan beberapa citra sekitar munculnya fajar akan terlihat bahwa pada posisi matahari -20 tampak semburat cahaya merah samar di sela-sela pohon. Cahaya merah tersebut makin lama makin menguat. Pada posisi matahari -19 derajat cahaya merah semakin terlihat di antara pepohonan. Artinya, pada posisi matahari -19 derajat sebenarnya fajar sudah muncul beberapa menit sebelumnya

Pada kurva cahaya kemunculan fajar shadiq ditandai dengan makin terangnya cahaya di ufuk timur. Pada kurva cahaya, awal fajar ditandai dengan mulai berpisahnya kurva cahaya dari garis linear, lalu berubah dengan cepat menjadi makin terang. Perlu difahami, fajar kadzib disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antar-planet. Cahayanya menjulang sepanjang ekliptika dengan cahaya lembut dan berubah secara lambat. Sedangkan cahaya fajar shadiq berasal dari hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Cahayanya membentang di ufuk dan makin terang secara cepat.

Jadi, hasil pengukuran di kawasan Obsnas Timau mengonfirmasi sekali lagi bahwa jadwal shalat shubuh dari Kemenag sudah benar. Fajar sudah muncul pada posisi matahari -20 derajat.

Kawasan Observatorium Nasional Timau langitnya sangat cerah dan sangat gelap, jauh dari polusi cahaya. Galaksi Bimasakti terlihat jelas dengan latar depan puncak gunung Timau. 

 

Pada pukul 04.38 WITA, ketika matahari berada pada -20°5.5', meski Fajar Shodiq belum tampak secara jelas, namun di sela pepohonan sudah dapat dikenali adanya semburat cahaya merah yang lembut yang merupakan efek pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi.

Pada pukul 04.42 WITa, Ketika matahari berada pada -19°7.5' semburat cahaya merah di sela pepohonan terlihat semakin jelas. Hal itu menunjukkan fajar sudah muncul beberapa saat sebelumnya.

Pukul 04.46 WITa, ketika matahari berada pada -18°11.9', semburat cahaya merah terlihat sangat kuat di antara pepohonan.

Kurva cahaya dua buah SQM (Sky Quality Meter) menunjukkan titik belok yang sama pada posisi matahari =-20 derajat. Perbedaan kecerlangan langit disebabkan karena penggunaan filter Bessel V yang membatasi hanya panjang gelombang Visual yang direkam.

 

Tim Kementerian Agama