Perlu Diskresi Khusus Alih Status STAIN Bintan menjadi IAIN

Tanjungpinang (Kemenag) – Barada di dataran cukup tinggi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau tampak menonjol terlihat dari bentangan wilayah yang masih kosong di wilayah Kabupaten Bintan. 

Sejak beralih status menjadi STAIN tahun 2017, kampus dengan dua bangunan megah saat ini memiliki 14 program studi dan 1.600 mahasiswa. Ketua STAIN Muhammad Faisal menjelaskan, ada peningkatan signifikan jumlah prodi dari semula hanya 4 prodi. 

Faisal mengungkapkan, saat ini STAIN Sultan Abdurrahman sedang bersiap bertransformasi menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Sejumlah persyaratan yang dibutuhkan menjadi IAIN sudah disiapkan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2020 tentang Perubahan Bentuk Perguruan Tinggi Keagamaan. 

“Saat ini, program studi yang terakreditasi minimal B ada tiga. Dari segi dosen dan lektor, kita sudah ada 24, asisten ahli ada 62, lektor kepala baru 3 dan kita menggunakan pola kerja sama atau MoU dengan beberapa kampus seperti dengan UIN Suska Riau,” terang Faisal saat Kunjungan Kerja Anggota Komisi VIII DPR RI ke Kepulauan Riau, Selasa, (10/10/2022). 

“Dari segi lahan dipersaratkan 5 ha, kita sudah memiliki 9,7 ha yang bersertifikat, sarana prasarana, dan jumlah buku sebanyak tujuh ribu dalam bentuk cetak dan digital. Kendala kita satu saja  yaitu jumlah  mahasiswa. Dengan kondisi wilayah kepulauan seperti ini, perlu ada diskresi khusus dalam rangka menggerakkan mahasiwa bisa masuk,” sambungnya. 

Kepala pada Subdirektorat Kelembagaan dan Kerja Sama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Thobib Al Asyhar Tobib pada kesempatan sama mengatakan, transformasi STAIN Bintan menjadi IAIN tentu mengacu pada regulasi yang ada yaitu PMA 20/2020.

“Kita ingin sesuai dengan regulasi. Hanya saja lokasi di wilayah kepulauan di Kepri ini butuh diskresi, karena memang tidak bisa disamakan dengan di Pulau Jawa atau lainnya, yang banyak penduduknya,” kata Thobib. 

“Dengan adanya diskresi dan penyesuaian standard, bisa juga bertumbuh di sini. Apalagi wilayah kepulauan di Kepri ini merupakan etalase bangsa kita dengan negara tetangga. Kita butuh protoype Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di depan negara lain, PTKIN yang mumpuni mengembangan SDM di masa depan,” lanjutnya. 

Ia menekankan, harus ada distingsi yang dimiliki STAIN Bintan seperti tentang keislaman dan kemelayuan. “Saya kira ini jadi hal penting sebagai pembeda dari yang lain, butuh juga prodi tentang kajian sejarah Melayu yang  bisa dibuka, supaya budaya ini tidak musnah karena invasi budaya luar,” katanya. 

Thobib mengungkapkan, transformasi kelembagaan ini bukan semata urusan akademik, juga urusan  membangun manusia, ekonomi, sosio kutural atau bahkan bisa disebut pembangunan peradaban. “Karenanya, transformasi kelembagaan jadi keharusan dalam konteks STAIN ke IAIN, kita sudah punya grand desain pengembangan PTKI 2045,” ujar Thobib.

Menurutnya, ada 4 transformasi. Pertama, transformasi kelembagaan, yang STAIN didorong agar bertransformasi menjadi IAIN dan IAIN bila memang siap jadi UIN. “Kita dorong supaya mereka bertransformasi, karena memang faktanya dengan adanya transformasi ini ternyata peminat mahasiwa semakin besar, apalagi kita punya orientasi besar untuk mengintegrasikan ilmu sains dengan ilmu religiuos values atau nilai luhur keberagamaan,” katanya. 

Selanjutnya, lanjut Thobib, transformasi pengelolaan keuangan, pemerintah mendorong supaya lembaga PTKIN ini bisa lebih mandiri.  Ketiga, transformasi akademik, keilmuan. Keempat, transformasi kapasitas atau predikat dari nasional ke internasional. 

“Kita bisa menjadi bersaing dengan segala standard akademik, manajerial level internasional dan bisa bersaing dengan perguruan tinggi dunia. Kita sudah buktikan dengan adanya 17 jurnal scopus di PTKI baik negeri dan swasta, kita sedang menuju ke sana,” tandasnya.