Persiapkanlah Jalan bagi Tuhan

Umat Kristiani yang berbahagia. Tak terasa, kita sudah memasuki Minggu Adven IV. Lilin Adven yang menyala bertambah, menjadi semakin terang. Terang yang menyimbolkan persiapan kita menyambut kedatangan Tuhan dalam perayaan Natal semakin dekat. Terang yang semakin memperlihatkan sisi-sisi kehidupan kita semakin terlihat jelas di hadapan Tuhan.

Bila itu kita sadari, betapa banyak sisi kehidupan kita yang terus-menerus harus kita benahi. Ada dosa di sana. Ada kerapuhan yang hinggap. Ada kelemahan yang terus melekat. Semua mendesak untuk diperbaharui. Semua mendesak untuk diteguhkan dan diberkati. Maka pertobatan dan pembaharuan diri tetaplah menjadi prioritas kita untuk mendekatkan diri pada Sang Terang sejati yang kita nantikan, yakni Yesus Kristus.

Menarik untuk menyimak tulisan Injil Markus. Injil Markus dimulai dengan sebuah pernyataan penting “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (1:1). Pernyataan yang sama diulangi lagi kurang lebih pada bagian akhir injil (15:39). Tampaknya injil ini diisi dengan identitas, perjalanan Yesus sebagai anak Allah. Rumusan pernyataan itu kurang lebih sama dengan mengatakan “Inilah permulaan kabar sukacita. Kabar sukacita itu bukan cerita, tetapi orang, yaitu Yesus Kristus”.

Tanpa mengabaikan isi dan struktur seluruh injil Markus, saya ingin membagikan  permenungan saya mengenai injil hari ini. Pada ayat 1 (satu), terdapat kata injil. Kata tersebut diturunkan dari kata Yunani “eu-anggelion”, artinya kabar yang baik. Kabar baik yang dimaksudkan dalam Perjanjian Baru ialah kabar mengenai Kerajaan Allah yang datang. Kedatangan itu sudah disiapkan oleh Perjanjian Lama (PL), dan digenapi oleh Yesus ke dalam dunia ini untuk memberitakan injil/kabar sukacita. 

Jauh sebelum Kristus datang sudah diberitakan dalam PL, seperti yang dikutif oleh Injil Markus Yesaya 40:40. Pada zaman PL, jika ada seorang raja yang akan datang ke suatu tempat, maka sebelumnya diutuslah seseorang untuk membawa pesan mendahului kedatangan raja tersebut. Utusan itu bertugas untuk mempersiapkan penyambutan raja sekaligus memastikan bahwa apakah jalan yang akan dilalui raja cukup aman.

Demikianlah dalam rangka menyambut Kristus, Yohanes tampil mempersiapkan orang bagaimana jalan yang harus dipersiapkan untuk untuk dilaluiNya. Bagi, Yohanes jalannya adalah, pemulihan dan pengampunan dosa melalui baptisan. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (ayat 4).

Dari sana dapat dipahami bahwa inti berita Yohanes Pembaptis adalah agar umat mempersiapkan kedatangan Tuhan dengan cara bertobat. Tetapi, bagi orang Israel pada waktu itu, bertobat adalah sesuatu kata yang asing dan membingungkan. Sebab mereka selalu berpikir, kami umat pilihan Allah, keturunan Abraham, Bapak orang beriman. Pertobatan adalah untuk orang yang melakukan kejahatan di mata Allah, orang yang membunuh, mencuri, merampok, berzinah, dan sebagainya. Kami bukan orang yang seperti itu. Kami adalah pilihan Allah.

Secara teori kehidupan kegamaan mereka baik, namun dalam praktiknya jauh dari harapan. Tidak satunya kata dengan perbuatan. Inilah yang terus-menerus dikritik oleh Yohanes. Bagi Yohanes umat kiranya sampai kepada pemahaman untuk terus-menerus memperbaharui diri.

Pembaharuan diri macam apakah yang harus kita lakukan? Kita bisa belajar memperbaharui diri pada sosok Yohanes yang diutus Allah. Kita belajar pada sosok Yohanes, bahwa jalan untuk sampai pada Terang sejati adalah:

Pertama, jalan kerendahan hati. Kerendahan hati inilah wujud nyata dari pembaharuan yang bisa kita lakukan. Bapa Agustinus (seorang tokoh gereja) mengatakan bahwa kerendahan hati adalah jalan yang pasti membawa seseorang kepada Tuhan. Bapa Agustinus bahkan mengatakan; pertama-tama, kerendahan hati, kedua; kerendahan hati, dan yang terakhir, kerendahan hati; hanya untuk menekankan betapa pentingnya kerendahan hati untuk mencapai kesempurnaan rohani.

Kerendahan hati yang demikian ada dalam sosok Yohanes. Kerendahan hati dalam bahasa Latin disebut humilitas. Kata ini berasal dari kata humus, artinya: tanah. Kata ini mau mengatakan bahwa orang menjadi rendah hati kalau ia menyadari asal-usul dirinya. Ia hanyalah debu tanah yang kotor. Pengenalan diri yang sejati akan selalu membawa manusia kepada sikap memuliakan Tuhan, Pencipta-Nya. Allah yang Mahabesar telah sudi mengangkat manusia yang kecil, hina, dan kotor menjadi anak-anak-Nya sendiri. Dari kesadaran inilah mengalir sikap bakti dan pelayanan yang sejati dari orang-orang yang rendah hati. Jadi semangat kerendahan hati selalu disertai semangat pelayanan.

Yohanes adalah utusan Allah. Dia dipanggil Tuhan untuk memberikan kesaksian tentang, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Yohanes sendiri bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Sikap dan tindakan Yohanes sungguh sarat dengan kerendahan hati. Dengan jujur dan lapang dada, ia bangga mengatakan, bahwa dirinya hanyalah suara yang berseru-seru di padang gurung; “Luruskanlah jalan Tuhan”. Puncak kerendahan hatinya terletak dalam sikapnya yang penuh keyakinan; bahwa berhadapan Dia yang akan datang, membuka tali kasutNyapun ia tidak layak.

Kerendahan hati Yohanes, mengalir dari kesadarannya bahwa ia hanyalah seorang utusan. Utusan yang memiliki tanggungjawab memberi kesaksian tentang terang, tentang keselamatan. Justru sikap yang demikianlah yang menyebabkan Yohanes menjadi besar dengan perannya. Dia adalah sosok yang “happy to be number two” di tengah arus yang berjuang keras untuk “to be number one”. 

Bagi Yohanes, Dia yang kita nantikan adalah Allah yang mau menjelma menjadi manusia. Dia yang adalah Allah maha segalanya mau menjadi manusia yang lahir dalam keterbatasan dan kesederhanaan. Kerendahan hati yang luar biasa dari pihak Allah, yang harus ditanggapi dengan kerendahan hati pula. Itulah pertobatan yang terus kita lakukan pada minggu adven IV ini.

Di samping pelajaran kerendahan hati Yohanes, yang kedua menurut hemat saya, yang harus dipersiapkan atau dilakukan, yakni menyiapkan hati dan bertobat. Dua hal ini, tidak bisa ditunda bahkan menuntut agar setiap saat kita melakukannya. Menyiapkan hati atau dengan istilah injil Markus yaitu persiapkanlah jalan dan luruskanlah jalan. Hal ini ingin mengajak kita bahwa ada hal yang perlu di dalam hidup kita yang perlu ditata, diperbaiki, dirapihkan agar senantiasa menampakkan hidup yang berkualitas, hidup yang menjadi berkat. Inilah yang dimaksud oleh rasul Paulus dengan berkata “kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar”. Bahwa keselamatan yang telah diterima dalam kristus Yesus terus-menerus dikerjakan, dihayati agar bertumbuh dan menghasilkan buah.

Dalam injil hari ini, Yohanes Pembaptis tampil dan menyerukan pertobatan. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Seruan pertobatan Yohanes adalah juga seruan yang ditujukan kepada kita, yang sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Bahwa di dalam masa ini, bertobat adalah usaha yang harus diwujudkan. Pertobatan mengandaikan bahwa kita membuka diri dan menyiapkan hati sehingga Yesus yang datang bersemayan di dalam hati kita. Membiarkan Allah menguasai seluruh hidup kita. Agar baptisan tidak hanya stempel tanpa makan, melainkan benar-benar kita hayati dalam hidup keberimanan kita. Dengan demikian, Yesuslah yang merajai seluruh hidup kita dan Dia pulalah yang mengantar kita kepada Allah.

Hari ini, kita diajak untuk hidup secara baru, dengan mengarahkan seluruh diri kepada Yesus yang akan datang sambil menyiapkan hati agar Dia mempunyai tempat di dalam hati kita. Yesus yang tinggal dalam diri kita akan membawa dampak bagi seluruh hidup kita. Ia akan menuntun dan mengarahkan seluruh diri kita kepada Allah? Kalau Kristus telah menguasai hidup kita, maka kita akan dimampukan untuk membuang segala sikap atau anggapan diri sangat penting, dan juga mampu membuat sikap atau anggap diri serba kurang. Sebaliknya kita akan lebih mengedepankan untuk menjadi para utusan kabar baik yang menyampaikan karya keselamatan Allah yang memulihkan. Amin

Pdt I Mandi Tandi Pare


TERKAIT