Pesantren di Radio

Pesantren dan Kebudayaan Nusantara

Kebudayaan Nusantara hari ini memiliki berbagai ekspresi. Contohnya: adat istiadat, kuliner, arsitektur, kesenian, manuskrip, dan sebagainya. Proses pembentukan kebudayaan tersebut merujuk pada periode kerajaan dan kesultanan, misalnya di Palembang, Banjarmasin, Sulawesi, Bugis, Makassar, Ternate, Maluku, dan seterusnya. 

Sebagai bagian dari budaya bangsa kita, kerajaan-kerajaan di Nusantara pada umumnya menempatkan orang-orang yang ahli agama (Brahmana) pada posisi yang mulia. Misalnya, kalangan Brahmana pada era kerajaan Hindu-Buddha diberikan tanah perdikan sekaligus dibiayai oleh kerajaan untuk membangun candi. 

Mereka memelihara candi tersebut, lalu mengembangkan kehidupan secara mandiri sehingga menjadi laboratorium kebudayaan. Jadi, dasarnya adalah spiritualitas ilmu agama yang menjadi ekspresi budaya masyarakat di semua bidang kehidupan. Inilah karakter bangsa kita sejak dahulu. 

Pada era kesultanan Islam di Nusantara pun tidak jauh berbeda, di mana setiap kesultanan memiliki seorang tokoh ulama yang ditunjuk menjadi qadhi (hakim). Posisi qadhi yang biasanya berlatar belakang pesantren ini bertugas sebagai pemimpin keagamaan tertinggi. Misalnya, di Kerajaan Aceh, ada Syekh Abdurrauf as-Sinkili, Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Nuruddin al-Raniri, lalu di Makassar Syekh Yusuf al-Makassari, dan seterusnya.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa para ahli agama berperan sebagai penasehat spiritual kerajaan. Karakter masyarakatnya juga dikenal begitu religius. Hal ini kemudian berdampak pula pada pembentukan Indonesia, bukan negara agama maupun sekuler, melainkan negara spiritual. Di dalam spiritualitas ini kemudian lintas agama dan lintas etnik bisa bertemu, lalu diolah bersama-sama untuk melahirkan serta membangun manusia yang sempurna. 

Adapun manusia sempurna itu dibentuk melalui pendidikan, ekspresi seni, arsitektur, lembaga pendidikan seperti pesantren. Jadi, hal itu menjadi bagian dari kebudayaan dan bagian dari usaha bangsa kita sejak dulu untuk mengembangkan kehidupan yang bermartabat dan kehidupan yang damai.

Dalam kebudayaan Jawa ada ungkapan memayu hayuning bawana yang diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu memperindah keindahan dunia. Dengan kata lain, alam kita (Nusantara) sudah indah, kita dianugerahi alam yang luar biasa, seimbang iklimnya, aneka ragam hayati, aneka ragam gunung laut, lalu diperindah lagi dengan manusianya melalui perilaku yang berbudi luhur yang juga bagian dari ekspresi berbudaya.

Di situ proses lahir dan terbentuknya kebudayan bangsa kita untuk memperindah alam yang sudah indah ini, sehingga manusianya menjadi wakil tuhan dimuka bumi sebagai khalifatullah. Oleh karena itu, manusia yang akan menjadi khalifah yang berakhlak luhur, karena alamnya sudah luhur. Jika manusianya rusak, maka manusianya tidak berbudi dan tidak berbudaya, sehingga alam yang sudah baik ini malah akan hancur. 

Tidak heran apabila sekarang ini sudah terjadi fenomena bahwa budaya kita banyak terkikis, tergeser, banyak dibuang dan dihilangkan. Kita sekarang juga mengalami krisis alam, krisis ekologi, hutan gundul, dan banyak terjadi bencana banjir, longsor, perubahan iklim, hingga globalisasi. Itulah akibat perilaku manusia yang tidak berbudaya.

Dahulu, leluhur kita menjaga dan memperindah alam melalui kebudayaan. Mereka memilih kebudayaan supaya hidup manusia betul-betul berbudi, mencerminkan dan meluhurkan jiwa, kemanusiaannya yang sempurna. Manusia yang sempurna adalah manusia yang sejati yang di dalam dirinya ada cahaya Tuhan. Ini kemudian menjaga keselarasan dan terlahirlah kebudayaan yang kita warisi. 

Dalam perspektif kebudayaan, karakter pendidikan pesantren selama ini tidak kehilangan akar tradisinya karena masih mempertahankan ilmu-ilmu kuno Nusantara. Selain itu, pesantren juga mengembangkan ilmu-ilmu dari peradaban Islam yang berkembang di Timur Tengah, India, Turki, Mesir, yang dibawa dan diolah oleh para ulama yang kemudian diajarkan di sini. Karakternya masih sambung karena dilengkapi ilmu-ilmu di bidang aqidah, syariah, dan akhlak tasawuf.  Khusus untuk ilmu tasawuf, misalnya, ia bisa menghubungkan dan menyatukan seluruh keilmuan yang berbasis tekstual, baik itu yang bersumber dari kitab suci maupun penghayatan kepada alam. 

Di samping itu, ilmu tasawuf juga bisa mengadopsi  berbagai penafsiran dan pemikiran karena banyak ahli tasawuf juga bersifat filosofis, beradaptasi dengan budaya lokal. Sehingga, karakter lokalitasnya berkesinambungan dan tetap dipertahankan, namun unsur pembaruan keagamaan yang melalui ilmu-ilmu itu juga dengan keilmuan yang utuh. 

Dengan paradigma tersebut, maka tidak hanya dengan akal tetapi juga dengan hati. Hal itu tidak terlepas dari teks suci, lalu melahirkan kearifan. Inilah yang sebenarnya menjadi karakter pendidikan pesantren yang melahirkan sosok, yang tujuannya membentuk manusia yang sempurna. 

Manusia yang sempurna ditandai dengan akhkaknya dengan budi pekerti, kehalusan bahasanya, keindahan cara bertuturnya, kehalusan ekspresi seninya. Jadi, agama diajarkan rendah hati melalui lagu, syair, bahkan melalui alat-alat musik seperti gamelan di Jawa, Tari Saman di Aceh, dan seterusnya. Inilah karakter pendidikan pesantren yang berakar dari kebudayaan nusantara.
 
Tulisan ini merupakan intisari dialog dalam program "Pesantren di Radio" bersama KH. Muhammad Jadul Maula (Ketua Umum LESBUMI NU) yang disiarkan secara live oleh Radio di Elshinta pada Kamis, 23 April 2022 M. / 21 Ramadhan 1443 H. pukul 16.00 - 16.30 WIB.