Prestasi dan Kerendahan Hati

Penghargaan, telah menjadi semacam perangsang bagi seseorang  atau kelompok orang untuk meraih prestasi dan berbuat baik. Di satu sisi, memperoleh penghargaan  menjadi daya pendorong untuk berprestasi atau pun berbuat baik. Tapi di sisi yang lain, meraih penghargaan telah dijadikan tujuan dalam sebuah karya atau pun perbuatan baik.

Contohnya: disiplin, kebersihan, kejujuran, ketertiban, yang sebenarnya adalah sikap hidup yang memang semestinya dilakukan, telah bergeser sekadar untuk meraih penghargaan. Untuk itu tidaklah mengherankan, ada kota yang dulunya mendapat penghargaan “Adipura Kencana”, sebagai kota terbersih, saat ini punya masalah dengan yang namanya ”sampah”. Ada pejabat daerah yang terkenal jujur dan disiplin, sehingga mendapat penghargaan, alih-alihnya terciduk operasi tangkap tangan KPK. 

Tapi benarkah penghargaan telah menggantikan panggilan dan sikap hidup untuk berbuat baik?

Kisah Maria dan Marta, dalam Injil Lukas 10:38-42, sering dimengerti sebagai kisah yang menceritakan kelebihan Maria dari Marta, karena kesetiaan dan kesediaan Maria duduk di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus. Sedangkan Marta, dia sibuk melayani sampai tidak mendengarkan perkataan Yesus.

Akan tetapi bila dicermati lagi dalam cerita ini, Yesus menerima dan menghargai bentuk penyambutan kehadiranNya di rumah Marta dan Maria. Yesus tidak mempersoalkan Marta yang sibuk di dapur atau Maria yang duduk mendengar perkataanNya.

Permasalahan justru terjadi, ketika Marta mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” Sungguh aneh sikap Marta, dia yang memilih, untuk menyambut Yesus dengan caranya menyibukkan diri di dapur, sekarang mengeluhkan perbuatan baiknya dengan alasan tidak ada yang peduli. Lagipula, bukan hal yang sulit bila Marta langsung meminta Maria membantunya, mengapa harus melalui Yesus?

Sebenarnya ada sesuatu dibalik permintaan Marta kepada Yesus, yakni: dambaan atau harapan untuk dipuji, diberi penghargaan oleh Yesus atas apa yang sudah Marta kerjakan. Bila hal itu diiyakan Yesus betapa bangganya Marta, karena Yesus membenarkan perbuatan baiknya, sehingga akan jelaslah bahwa “sibuk melayani” lebih penting daripada “duduk mendengar perkataan Yesus”. 

Tapi Yesus tidak menuruti permintaan Marta, Yesus malah menegur Marta, bahkan Yesus menunjukkan “bagian yang terbaik” (ay. 42), yang seharusnya mengiringi setiap perbuatan baik yang dilakukan yaitu “kerendahan hati”. Kerendahan hati untuk apa? Untuk melupakan bahwa sudah berbuat baik, sehingga terbebas dari upaya untuk mendapatkan penghargaan. Bila kemudian atas prestasi dan perbuatan baik yang kita lakukan, kita mendapat penghargaan, maka itu adalah berkat tambahan.

Hal melupakan bahwa kita sudah berbuat baik, mungkin teramat sulit, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Hanya tetaplah berprestasi, tetaplah berbuat baik. Sebab, untuk itulah kita dipanggil menjadi berkat di tempat, di mana kita diutus.

 

Pdt. Dr. Anita Inggrith Tuela, M.Th (Rohaniwan Kristen)