Satu Kata Satu Tindakan 

Saudara-saudari terkasih dalam kasih Kristus Yesus. Sebagai orang Yahudi, Yesus sejak kecil dibimbing dan didik oleh orang tuanya untuk hidup dalam tradisi-budaya dan adat istiadat orang Yahudi. Terkait hal tersebut, Yesus sangat paham. Salah satu indikasi bahwa Yesus paham akan tradisi Yahudi dan hukum Taurat, pada usia 12 Tahun, Yesus bersoal jawab dengan para alim ulama dan mereka sangat mengagumi kecerdasan Yesus.

Dengan latar belakang seperti itu, Yesus memiliki modal yang memadai dalam karya pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah. Meskipun Yesus hidup dalam tradisi dan budaya yang kuat, Yesus tetap memiliki sikap kritis sebagai seorang tokoh pembaharu.

Dalam kajian Injil hari ini, dikisahkan pertentangan antara Yesus dan ahli Taurat. Para ahli Taurat menuduh para murid Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Kebiasaan atau tradisi mencuci tangan sebelum makan adalah mutlak dilakukan setiap orang Yahudi. Perbuatan para murid tidak mencuci tangan sebelum makan dipandang cacat hukum karena dianggap najis oleh kaum farisi.

Untuk itu, mereka menegur Yesus, “Mengapa murid-Mu tidak mencuci tangan sebelum makan?”. Bagi orang Farisi, tidak mencuci tangan sebelum makan adalah menajiskan.

Lalu Yesus menjawab terhadap tuduhan itu, “Bukan sesuatu dari luar yang menajiskan, akan tetapi yang keluar dari diri seseorang itulah yang menajiskan.” Tanggapan Yesus tersebut sangat mengganggu para lawannya. 

Saudara-saudari terkasih dalam kasih Kristus Yesus. Dari bacaan dan Injil hari ini, kita bisa memaknai 3 hal penting. Pertama, integritas. Kementerian Agama memiliki lima nilai budaya kerja. Dari kelima nilai budaya kerja tersebut, integritas menjadi salah satu hal yang ditekankan. Bahkan menurut hemat saya, integritas menjadi dasar dari empat nilai budaya kerja lainnya.

Integritas dapat menjadi pemadatan dari empat unsur lainnya.  Seseorang yang berintegritas akan menjadi seorang yang profesional, inovasi, bertanggung jawab, dan memiliki keteladanan.

Menurut Montefiore dan Vines (dalam Huberts, 2018), selaras dengan kata integer dari bahasa Latin, yang bermakna komplet, keseluruhan, atau harmoni. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas merupakan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Dari kedua sudut pandang tersebut, integritas itu sendiri secara sederhana dapat dipahami adanya satu kata dan tindakan. Artinya, apa yang dikatakan seseorang, nyata dalam tindakannya. 

Orang yang memiliki karakter demikian dipandang sebagai orang yang berintegritas. Seorang yang mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakan firman tersebut adalah yang berintegritas. Bagi Yesus tidak cukup mendengarkan Sabda Tuhan, akan tetapi lebih dari itu adalah menghayati dan melaksanakan firman Tuhan.

Kedua, pelaksana firman. “Tetapi hendaklah kamu jadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu hanya menipu diri sendiri” (Yak 1 :22). Jika seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu diri sendiri.

Ajakan Yesus melalui Santo Yakobus lebih menegaskan betapa pentingnya integritas. Yesus mengajak manusia agar tidak berlaku pura-pura dalam hidupnya. Kepura-puraan ini digambarkan oleh Yesus seperti sebuah kuburan, dari luar tampaknya bagus, tetapi di dalamnya busuk. 

Yesus tidak menghendaki manusia berpura-pura baik, namun hatinya busuk. Dari hati orang akan timbul pikiran jahat, percabulan, perzinahan, keserakahan, pencurian, pembunuhan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Dan hal-hal tersebut timbul dari dalam dan menajiskan.

Lebih lanjut, Yesus menegaskan melalui Santo Yakobus bahwa ibadah yang sejati adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. Saat ini, banyak orang mengalami kesulitan dan penderitaan akibat pandemi Covid-19. Pemerintah telah berupaya keras untuk mengendalikan dan mengatasi penyebaran Covid-19 ini beserta dampaknya.

Meskipun Pemerintah telah bekerja keras, Pemerintah tetap butuh dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Persoalan dahsyat saat ini membutuhkan kerja sama dan dukungan berbagai pihak dengan perannya masing-masing. Semua upaya tersebut bertujuan agar pandemi Covid-19 beserta dampaknya segera berakhir.  Untuk itu, sebagai orang beriman kita diajak berperan aktif membantu saudara-saudara kita yang menderita. Perhatian dan kepedulian kita pada sesama yang menderita adalah wujud nyata kepedulian kita pada Yesus.

Ketiga, rahmat berlimpah menanti manusia. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa keselamatan semata-mata karena rahmat dan belas kasih Allah. Meskipun keselamatan adalah anugerah Allah, akan tetapi rahmat itu tidak bersifat pasif, butuh usaha dan kerja keras manusia untuk memetik buah rahmat Allah. Buah-buah rahmat sebagai anugerah akan ada dalam genggaman manusia bila manusia yang berlaku tidak cela, melakukan yang adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hati, tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak berbuat jahat terhadap temannya, tidak menimpakan cela pada tetangganya, tidak meminjamkan uang dengan makan riba, tidak menerima suap (Mzm.15 :2-5). 

Dari sini jelas bahwa rahmat berlimpah akan sungguh-sungguh dialami oleh orang-orang yang berintegritas. Orang yang berintegritas adalah pelaku Firman Allah. Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di Gunung-Mu yang Kudus? (Mzm.15:1). Hanya orang beriman yang berintegritas yang akan berdiam di gunung-Nya yang Kudus dan boleh menumpang dalam kemah-Nya. 

 

Kristoforus Sinselius, SS (Pembimas Katolik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)