Saya Buddhis

Te tadise pujayato Nibbute akutobhaye. Na sakka punnam sankhatum Imettamapi kenaci. Seseorang yang memuja mereka yang telah mencapai ketenangan mutlak dan tidak lagi takut atau gemetar terhadap apapun, sesungguhnya telah memperoleh manfaat atau jasa yang tidak dapat diukur oleh siapapun. (Dhammapada, Syair: 196)

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, setiap Warga Negara Indonesia berkewajiban untuk memeluk dan menunaikan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya. Seseorang menganut agama mungkin terjadi karena dipilihkan atau memilih dengan kesadaran sendiri. Pada awalnya seseorang menganut agama karena dipilihkan atau mengikuti agama yang dianut orangtua dan kemudian mempertahankan dan memperdalam agamanya itu. Namun ada juga yang pada awalnya mengikuti agama orangtuanya dan kemudian memilih sendiri. Memilih secara sadar untuk memperdalam agama yang telah dipilihnya. Hal itu adalah pola-pola umum yang terjadi di masyarakat.

Sebagai Buddhis, terbuka peluang untuk senantiasa memperkuat keyakinannya dengan melakukan perenungan-perenungan, seperti: mengapa saya beragama Buddha atau mengapa saya memilih mempertahankan keyakinan pada agama Buddha? Apakah saya beragama Buddha ini karena pilihan sadar atau sekadar sebagai identitas?

Sebagai umat Buddha, sangat penting kiranya untuk memahami dengan baik tentang agama Buddha. Buddha sendiri artinya ‘yang sadar’. Idealnya beragama Buddha ini berarti memilih karena kesadaran, mengetahui apa yang dipilih. Kesadaran ini dasarnya adalah pemahaman yang jelas tentang apa yang saya ikuti? mengapa saya mengikuti? apa tujuannya? Bagaimana cara mencapainya? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kita renungkan agar semangat dasar pengajaran Buddhism yakni ‘Ehipassiko’ dapat terus dijaga.

Guru Agung Buddha mengajarkan untuk "datang dan buktikan" ajaran-Nya, bukan "datang dan percaya". Dasar pengajaran Ehipassiko ini adalah salah satu ajaran yang penting dalam agama Buddha. Sebagaimana dikisahkan dalam Kalama Sutta,  Anguttara Nikaya: “Adalah selayaknya bagi kalian untuk menjadi bingung, O penduduk Kālāma, adalah selayaknya bagi kalian untuk menjadi ragu-ragu. Keragu-raguan telah muncul dalam diri kalian sehubungan dengan suatu persoalan yang membingungkan. Marilah, O penduduk Kālāma, jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, dan penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena kalian berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi ketika, penduduk Kālāma, kalian mengetahui untuk diri kalian sendiri: ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat; hal-hal ini adalah tercela; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika diterima dan dijalankan, akan mengarah menuju bahaya dan penderitaan,’ maka kalian harus meninggalkannya”.

Memaknai ajaran tersebut, janganlah kemudian memiliki anggapan bahwa jangan memercayai siapapun dan kebenaran hanya ada di dalam diri sendiri. Agar tidak menjadi sumber keangkuhan. Kalama Sutta mengajarkan pelajari dan selidiki dahulu kebijaksanaan atau ajaran di sekeliling kita yang dianggap lebih baik dan menuntun kita menuju kebahagiaan. Jika ajaran itu ternyata menimbulkan penderitaan, maka hindari. Sebaliknya jika dapat membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka laksanakanlah ajaran tersebut.

Dalam Kalama Sutta, juga diajarkan agar kita belajar kepada ahlinya atau orang-orang yang lebih bijak. Janganlah kita menjadi sombong karena sama sekali tidak mudah percaya kepada siapapun, lantas mengatakan diri sendirilah yang paling benar. Yang dianjurkan adalah mencari guru yang berkompeten di bidangnya, kemudian membuktikan sendiri yang diajarkan oleh guru tersebut.

Karena itu, dalam beragama Buddha membutuhkan pendewasaan untuk mengatur diri mana yang perlu dikritisi, mana yang perlu diikuti, mana yang perlu dipertanyakan. Pemahaman tentang hukum kausalitas sangat penting dan mendasar. Segala sesuatu adalah sebuah hubungan sebab akibat, segalanya saling terhubung dan bergantung mempengaruhi satu sama lain. Pemahaman ini akan memunculkan kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan entah dulu, sekarang ataupun nanti akan mempunyai akibat, entah baik atau buruk tergantung perbuatan apa yang dilakukan.

Guru Agung Buddha sendiri meskipun telah mengajarkan Dhamma dengan penuh cinta kasih, kebijaksanaan dan keahlian (upayakausalya), hanya menunjukkan jalan untuk pencapaian tujuan hidup, bukan hanya dengan sekadar percaya semata. Pada dasarnya diri sendirilah yang tetap harus memikul tanggung jawab pencapaian tujuan itu. Guru Agung Buddha adalah inspirator dan penunjuk jalan. Dhamma adalah jalan yang mesti kita lalui. Sangha adalah contoh nyata mereka yang telah merealisasi tujuan dengan jalan Dhamma sehingga semakin memperkuat tekad kita menempuh jalan Dhamma. Kembali di sini terlihat bahwa Tiratana adalah sarana untuk kita meniti jalan mencapai tujuan. 

Memilih agama adalah kesadaran, ketika kita telah memahami dengan benar jalan mana yang kita pilih di sana akan muncul kemantapan dalam menitinya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.