Sekjen Minta ASN Kemenag Jadikan Pancasila Satu-Satunya Ideologi Bangsa

Jakarta (Kemenag) --- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nizar Ali mengatakan, kesaktian Pancasila merupakan bagian dari peristiwa historis. Tentu memiliki kesejarahan yang luar biasa. Ini merupakan proses panjang yang diupayakan oleh para pahlawan bangsa untuk mempertahankan NKRI dari rongrongan pihak eksternal dan internal.

Hal tersebut dikatakan Sekjen Kemenag usai memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2022 di halaman Gedung Kementerian Agama Jl Lapangan Banteng No 3 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Sabtu (1/10/2022).

“Sehingga ini memiliki momen sejarah yang luar biasa untuk kita jadikan dasar bahwa Pancasila harus menjadi satu-satunya ideologi bangsa yang harus dipertahankan. Tidak boleh ada ideologi lain selain Pancasila,” kata Sekjen di ruang lobby lantai 1.

Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan bahwa Pancasila adalah guideline atau way of life bangsa. Karena itu, setiap rongrongan yang mengancam eksistensi Pancasila sebagai dasar negara wajib ditolak.

“Kita harus mempertahankan Pancasila sebagai sebuah ideologi negara sampai kapan pun. Karena sebenarnya tidak ada pertentangan antara agama dengan negara dalam Pancasila,” tegas Prof Nizar.

Sekjen berpesan kepada seluruh ASN agar menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, sebagai pola hidup berbangsa dan bernegara. “Kalau sudah dilaksanakan tentu akan mencapai keharmonisan dan kedamaian, serta kerukunan di negara kita,” tandas pria asal Jepara, Jawa Tengah ini.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan (Kaban) Litbang Diklat Kemenag Amien Suyitno mengatakan bahwa Hari Kesaktian Pancasila memiliki sejumlah nilai penting bagi warga negara, terutama ASN Kemenag.

Pertama, kata Kaban, bahwa perjuangan terhadap Pancasila ini melibatkan khususnya keluarga besar para ulama, para kiai, di mana mereka menjadi bagian penting dari founding fathers-nya Kemenag.

“Oleh karenanya, menjadikan Pancasila sebagai way of life keluarga besar Kementerian Agama itu merupakan sebuah keniscayaan. Mengapa demikian? Karena kita lah yang sejak awal mengangkat, menginisiasi, dan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara dan itu menjadi final,” kata Kaban Suyitno.

Bahkan, lanjutnya, tokoh-tokoh kita termasuk KH Achmad Shiddiq (Rais Aam PBNU 1984-1991) juga menyampaikan demikian, yakni Pancasila sudah final sebagai sebuah ideologi.

“Kedua, nilai-nilai Pancasila sendiri tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Justru dalam banyak hal ia digali dari agama. Ketiga, Pancasila telah menjadi pemersatu, cara pandang, cara berkehidupan, dan cara kekeluargaan,” ujarnya.

Suyitno menambahkan bahwa Pancasila juga menjadi sebuah cara yang mengintegrasikan nilai kebangsaan, dalam konteks ini bagi ASN Kemenag, terlebih dalam konteks moderasi beragama.

“Jadi, moderasi beragama seharusnya menjadi isu yang menjadi konsen kita bersama di mana titik temunya ada di Pancasila,” tandas Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang ini.

Kaban Suyitno berpesan kepada ASN agar terus menghidupkan Pancasila dalam kehidupan masyarakat kita, khususnya terkait pengabdian kita sebagai ASN. “Intinya, menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam berkhidmat untuk bangsa dan negara,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)