Setiap Propinsi Akan Didirikan Madrasah Internasional

Jakarta, 16/3 (Pinmas)--Setiap daerah propinsi berkesempatan untuk mendapatkan satu Madrasah Bertaraf Internasional. Program yang dimulai Departemen Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam sejak tahun 2009 ini mengisyaratkan, daerah yang duluan datang mengajukan permintaan, itu yang direspon. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Depag, Muhammad Ali, mengemukakan upaya untuk meningkatkan mutu, kwalitas lembaga pendidikan Islam ini sebagai bagian utama dari program yang dilakukan oleh Departemen Agama dalam menyeimbangkan mutu pendidikan Islam.

"Namun hanya satu Madrasah Bertaraf Internasional di setiap daerah propinsi yang akan dibangun", ucap Muhammad Ali belum lama berselang di Jambi. Dirjen Muhammad Ali lebih jauh mengemukakan, dalam proses pengajuan mendapatkan jatah Madrasah Bertaraf Internasional tersebut yang harus datang ke Departemen Agama dalam hal ini Direktorat Pendidikan Islam ialah Bupati dan Ketua DPRD-nya. Dalam pembentukan madrasah bertaraf internasional ini keterlibatan pemerintah pusat (Departemen Agama), pemerintah daerah dan masyarakat setempat (pengelola madrasah) sangat menentukan.

Dalam program ini Depag, katanya mempunyai dua skema. Pertama, madrasah bertaraf internasional itu dibangun dari awal melalui kerja sama antara Depag dan Pemerintah Daerah. Hak dan kewajiban akan diatur bersama. Kedua, pembangunan madrasah bertaraf internasional tersebut merupakan peningkatan (pengupgradean) dari madrasah yang ada dan dianggap layak.

Beralasan sekali bagi pemerintah menawarkan kesempatan untuk setiap provinsi mengajukan sebuah madrasah bertaraf internasional di sdalah satu kabupatennya karena anggaran yang dimiliki lembaga penduidikan Islam di Depag cukup besar. Pada APBN tahun 2009 ini dari Rp 26 triliun lebih yang ada di Departemen Agama, sebanyak Rp 23 triliun diperentukan bagi program program Dijen Pendidikan islam.

Langkah awal salah satu Ditjen yang ada di Departemen Agama ini ialah meresmikan 175 madrasah dari 430 buah madrasah yang direncanakan tahun 2009 dinegerikan. Peresmian serentak itu dilakukan di Madrasah Aliah Cendikian Jambi yang tadinya bertatus swasta menjadi berstatus negeri bersama 175 madrasdah lainnya di Indonesia . Bantuan Pebaikan Dana besar besaran berasal dari bantuan hibah luar negeri (block grand) segera dikucurkan Departemen Agama bagi perbaikan ruang kelas dan pengadaan buk buku madrasah.

Untuk itu secara dini Ditjen Pendidikan Islam, Depag Muhammad Ali mengingatkan para pengelola lembaga pendidikan Islam yang mendapat bantuan itu berhati hati terhadap orang orang yang "kreatif" yang memanfaatkan kesempatan tesebut. Mulai tahun ini program kerja sama dengan luar negeri itu akan didistribusiakn secara bersar besaran ke daerah yang memerlukan. Bagi madrasah yang mengajukan akan mendapat dana sebesar Rp 92 juta dengan sasaran sebesar Rp 60 juta perbaikan phisik dan 32 juta untuk pembelian buku buku berstandar.

Untuk sasaran ke dua ini pelaksanaannya menunggu surat edaran dari pusat untuk menghindari pembelian buku buku yang ecek ecekan tidak bermutu. Besaran bantuan bagi perbaikan ruang kelas ini sagnat mungkin bagi madrasah bersangkutan membangun 3 ruang kelas lagi karena besarnya bantuan. Hanya saja diingatkannya untuk berhati hati terhadap orang orang yang "kreatif" yang memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungan pribadi"

"Jangan sampai terjadi seperti sms yang masuk ke saya", ujarnya. Orang orang "kreatif" tersebut makud Ali ialah orang orng tertentu yang mencari keuntungan dalam kesempatan itu. Menurut data jumlah madrasah di Indonesia kl 40.000 buah dengan siswa sebanyak 6 juta orang. Dari jumlah madrasah di atas yang bertatus negeri hanya 8%. Selebihnya berstatus swasta dilola sengan swadaya masyarakat (TY)