Siap Menjadi Tanda Kehadiran Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk hidup. Kita dapat merenungkan perbedaan antara orang yang kaya dan orang yang miskin dalam hal makan.

“Orang kaya bertanya, mau makan apa dan di mana”. Artinya orang tinggal memilih jenis makanan apa yang enak, yang menjadi kesukaan dan seleranya. Bahkan makanannya pun disesuaikan dengan trendnya. Setelah menentukan jenis makanan, selanjutnya menentukan makan di mana. Tentunya tempat makannya pun tidak sembarangan, bukan hanya mencari tempatnya yang higienis namun juga yang berkelas demi gengsi dan harga diri.

Sedangkan orang miskin bertanya, mau makan apa kita hari ini? Mau makan apa, artinya ada atau tidak ada yang dimakan hari ini. Ia tidak memikirkan jenis dan tempat makan, yang penting bisa makan untuk memenuhi rasa lapar. Makan untuk bisa bertahan hidup, setiap hari bisa makan pun sudah bersyukur.

Kita sering melihat sesuatu yang ironi di satu pihak ada orang yang suka pamer di status instagram, facebook, atau media sosial lainnya sedang makan yang mewah-mewah. Di pihak lain kita juga melihat ada orang yang susah mendapatkan makanan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, orang hanya sampai pada batas makan dan minum semata dan melupakan makanan rohani yang dapat memberi hidup kekal. Orang mengejar makanan jasmani, makanan yang membuat lapar lagi dan melupakan makanan rohani yang menjadi bekal kehidupan abadi.

Saudara-saudari yang terkasih. Pada bacaan pertama hari ini (1Raja-Raja 19:4-8) dikisahkan tentang Nabi Elia menempuh perjalanan jauh, sehingga kelelahan dan mengalami putus asa dan pasrah kepada Tuhan. Dalam situasi tak berdaya nabi Elia, malaikat Tuhan memberinya makanan dan minuman agar ia memiliki kekuatan guna menempuh perjalanan yang jauh, yakni menuju gunung Horeb atau disebut juga gunung Allah.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kali kita juga mengalami kelelahan, putus asa, sehingga kadang kita pasrah pada Tuhan. Karena berusaha dengan segala daya upaya ternyata tidak memberikan hasil atau memberi solusi bagi persoalan hidup kita. Dalam situasi seperti ini kadang Tuhan memberikan pertolongan kepada kita melalui orang lain atau cara lain, namun kadang kita tidak menyadarinya.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, bacaan kedua (Efesus 4: 30 – 5: 2) berbicara tentang hiduplah di dalam kasih, seperti Kristus Yesus. Dari antara kamu; "Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah telah mengampuni kamu dalam Kristus.”

Saudara-saudara, sebagai umat Katolik yang telah dimateraikan oleh Roh Kudus, hendaklah setiap kita berusaha untuk menjalankan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai orang Katolik, hendaklah kita menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. 

Janganlah kita menjadi sumber kepahitan, kemarahan, pertikaian, tukang fitnah. Namun hendaklah kita menjadi pribadi yang ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih, dan saling mengampuni. Sebagai umat Katolik marilah kita bangun sikap saling memahami, komunikatif, kerja sama yang berlandaskan cinta kasih sebagaimana diajarkan oleh sang Guru Sejati. 

Saudara dan saudari yang terkasih. Injil Yohanes 6:41-51 hari ini mengisahkan tentang “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari Surga”.  Sidang pembaca Injil Yohanes adalah pengikut Kristus generasi kedua dan ketiga, yang sebagian besar orang-orang Yahudi diaspora, yang berbahasa Yunani.

Ketika Yesus berbicara tentang “roti” maka Ia berbicara tentang hal yang pokok bagi orang Yahudi.  Kendatipun orang-orang Yahudi tersebut berada di luar Palestina. Bagi orang Yahudi roti adalah makanan yang pokok dan tidak bisa tergantikan. Kita dapat membandingkan bahwa pada umumnya makanan utama kita adalah nasi. Ketika kita makan makanan yang bukan nasi itu sama artinya belum makan. Demikian juga bagi orang Yahudi saat itu, roti adalah makanan yang pokok yang wajib ada.

Injil Yohanes hari ini, Yesus menegaskan bahwa diri-Nya adalah roti hidup yang turun dari surga, bahkan Yesus sendiriIah roti hidup itu. Roti hidup perlu disantap, diterima dalam iman. Yesus mengatakan, “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang Kuberikan untuk hidup dunia”.  

Beberapa penafsir mengatakan bahwa Penginjil Yohanes menggunakan “roti hidup” untuk berbicara tentang ekaristi. Ekaristi merupakan perayaan syukur atas misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Yesus telah mengurbankan hidup-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Maka ketika kita merayakan ekaristi penuh iman, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus hadir kembali sebagai jaminan untuk hidup yang kekal.  Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup Kristiani. Dalam perayaan Ekaristi tercakuplah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri.

Saudara-saudari sekalian. Sebagai orang Katolik, hendaknya tidak hanya fokus terhadap makanan duniawi, yang sifatnya sementara, yang membuat kita lapar kembali. Sebagai orang beriman hendaknya kita mencari dan menerima penuh iman roti hidup yakni tubuh dan darah Yesus.  Roti hidup menjadi bekal untuk kehidupan kekal. Kita perlu beralih dari orientasi makanan jasmani kepada makanan rohani sebagai bekal hidup kita yang kekal. 

Dalam kehidupan saat ini banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi, maka kita terpanggil untuk terlibat aktif dalam membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang mengalami persoalan hidup pada masa pandemic Covid-19 ini. Marilah kita menjadi tanda kehadiran Yesus untuk menyelamatkan sesama yang berkekurangan dan menghadapi kesulitan.

 

Rosentina Lopes, S.Pd. (Pembimas Katolik Provinsi Jawa Barat)