Sikap Mental Buddhis Menghadapi Kenyataan

Etamatthavasaṁ ñatvā, paṇḍito sīlasamvuto; nibbānagamanaṁ maggaṁ, khippameva visoddhaye. Setelah mengetahui kenyataan ini, maka orang berbudi dan bijaksana tak akan menunda waktu dalam menempuh jalan menuju Nibbana. (Dhammapada, Syair: 289)

Keinginan adalah sumber penderitaan. Demikian yang sering menjadi perbincangan umat Buddha. Lebih tepatnya keinginan yang tidak tercapai adalah penderitaan. Mengapa demikian? Sebab ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, terjadi gap dan berpotensi menimbulkan kekecewaan. Di sini dikatakan ‘berpotensi’ sebab bisa saja tidak menimbulkan kekecewaan (penderitaan) apabila segera muncul kesadaran menerima kenyataan. Tetapi dengan seringnya seseorang lemah kesadarannya akibat kurang latihan hidup berkesadaran membuat seseorang mudah jatuh dalam penderitaan. 

Dhamma ajaran Sang Buddha membimbing umatnya menuju kepada kesadaran sempurna sehingga penderitaan dapat diselesaikan. Salah satu tahap dalam mencapai kesadaran sempurna adalah berpandangan hidup yang benar. Pandangan hidup benar akan memunculkan sikap mental yang benar dalam menghadapi setiap kenyataan. Kenyataan hidup tidaklah selalu seperti apa yang diharapkan sehingga kesadaran diperlukan setiap saat. Apapun kenyataan hidup yang muncul entah menyenangkan atau tidak menyenangkan harus dihadapi, seseorang tidak mungkin lari dari kenyataan itu. Semakin lari dari kenyataan semakin akan dikejar penderitaan. 

Dhamma mengajarkan umat Buddha untuk mengenali segala fenomena dunia ini dengan tiga ciri, yakni serba tidak kekal (anicca), serba tidak memuaskan (dukkha) dan tidak ada inti utamanya (anatta). Pengertian tentang karakteristik fenomena ini membangun kesadaran umat bahwa kenyataan seperti apapun yang dihadapi apakah membahagiakan atau menyedihkan segalanya tidak kekal senantiasa berubah. Tidak ada kebahagiaan yang terus menerus ataupun kesedihan yang tidak berakhir. Hal yang menyenangkan pada saatnya akan menemui titik jenuhnya. Tidak ada yang membuat seseorang menjadi puas dan berhenti menikmati apa yang ada, tetapi selalu mencari titik-titik kesenangan baru lagi. 

Apabila kenyataan yang muncul tidak sesuai dengan keinginan, segera sadari gejolak yang muncul sehingga dapat menerima kenyataan itu. Setelah muncul sikap penerimaan, akan lebih jernih mengambil pelajaran apa dari kenyataan ini. Sebaliknya ketika kenyataan yang ditemui sesuai dengan apa yang diinginkan bersikaplah waspada agar senantiasa siap pada perubahan yang mungkin muncul. Waspadai pula akan munculnya keserakahan, sebab rasa tidak puas dan ingin, selalu berada pada kesenangan itu dan akan terus muncul. Ketika kesadaran absen, seseorang akan mudah dikuasai keserakahan, tiada rasa puas dan syukur atas apa yang telah diraih dan kebahagiaan menjadi sulit dirasakan. Sikap hidup berkesadaran dalam menghadapi kenyataan inilah yang perlu dilatih dan dikembangkan setiap saat. 

Semoga kita senantiasa memiliki sikap mental yang benar dalam menghadapi setiap kenyataan dalam kehidupan. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia