Sikap terhadap Mukjizat

Asso yathā bhadro kasanivittho, atapino samvegino bhavatha. Saddhāya silena ca viriyena ca, samadhinā dhammavinicchayena ca. Sampannavijjācarana patissata, pahassatha dukkhamidaṁ anappakam. Bersemangatlah! Tunjukkan kekuatan seperti kuda tangkas. Berdasar keyakinan, tata susila, semangat keteguhan batin, kemampuan menimbang, pengetahuan dan tindak laku sempurna, dan perhatian teguh. mereka dapat melenyapkan penderitaan. (Dhammapada, Syair: 144)

Beberapa waktu lalu, di tengah hiruk pikuk perhelatan MotoGP, berbagai media memuat berita mengenai Pawang Hujan (Mbak Rara) di Indonesia. Mbak Rara mungkin hanyalah wanita biasa bila tidak melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia dan menjadi berita viral di berbagai media lokal maupun internasional karena kemampuannya yang dianggap dapat menghentikan hujan saat perhelatan MotoGP di sirkuit Mandalika Lombok, Nusa Tenggara Barat. Fenomena di luar nalar itu tentu saja menjadikan pro dan kontra para netizen yang membacanya. Mereka yang percaya akan mengatakan bahwa Mbak Rara memiliki kemampuan luar biasa (mukjizat) sementara yang tidak percaya menganggap bahwa kejadian tersebut hanyalah kebetulan belaka.

Kemampuan luar biasa atau mukjizat sering dikaitkan dengan kepercayaan tertentu, keyakinan, maupun agama. Hal itu dipercaya merupakan anugerah dari Tuhan bagi mereka yang yang khusuk melakukan ritual tertentu dalam kurun waktu lama. Namun ada juga yang mengaitkan kemampuan tersebut berasal dari makhluk halus atau klenik. Kemampuan untuk melakukan sesuatu yang di luar nalar biasa sering dikatakan sebagai mukjizat sebagaimana yang dilakukan oleh Mbak Rara, ataupun orang lain yang mampu menyembuhkan seseorang atas penyakit yang belum ada obatnya, dapat disembuhkan seketika itu juga, dan sembuh secara permanen dan sempurna.

Dalam tradisi Buddhis, mukjizat dikenal dengan istilah abinna, yaitu kekuatan gaib yang luar biasa. Kemampuan tersebut merupakan hasil dari ketekunan dan kesunguhan melaksanakan praktik meditasi atau samadhi yang benar. Namun demikian Guru Agung Buddha menyatakan bahwa kemampuan gaib tersebut bukan merupakan tujuan yang sebenarnya dari ajaran agama Buddha karena tidak membawa ke “pencerahan”, tidak menjadikan seseorang menjadi suci atau luhur budi. Karena itulah Guru Agung Buddha menolak usul Bhikkhu Kevaddha agar para bhikkhu beradu kesaktian dan keajaiban (abhinna). Penggunaan mukjizat sebaiknya didasarkan pada tujuan-tujuan dan karakteristik moral, bukan untuk diadu atau dipamerkan guna mencapai tujuan-tujuan yang tidak berguna.

Kemampuan batin yang diperoleh dari meditasi atau samadhi bermacam dan beragam tergantung dari obyek yang dipilih. Seseorang dapat memiliki kemampuan di mana ia dapat dengan mudah berjalan di atas air, menembus dinding, melayang di angkasa. Kemampuan mendengar suara-suara atau melihat kondisi dari alam dimensi lain, membaca pikiran orang atau makhluk lain, kemampuan melihat muncul-lenyapnya kelahiran makhluk-makhluk, dan sebagainya. Namun demikian, dari begitu banyak mukjizat, Guru Agung Buddha menyatakan bahwa kemampuan menganalisa dan mengetahui seseorang memerlukan pertolongan, kemudian menasehati dan mengarahkan pikiran atas dasar cinta kasih (metta) dan kasih sayang (karuna) kepadanya dengan tujuan menolong dan menunjukkan mereka ke “jalan kebenaran” adalah mukjizat yang terbaik dan patut dikembangkan.

Untuk itu, terlepas dari tanggapan pro dan kontra terhadap fenomena mukjizat, umat Buddha meyakini bahwa memiliki mukjizat atau tidak, jika ia memiliki semangat yang tinggi melaksanakan ajaran (Dhamma), memiliki keyakinan, tata susila, keteguhan batin, kemampuan menimbang, berpengetahuan dan berperhatian teguh, ia akan dapat melenyapkan penderitaan. Itulah tujuan dari beragama Buddha yang sesungguhnya.

Mukjizat harus disikapi secara arif dan bijak khususnya bagi masyarakat Indonesia yang lekat dengan tradisi dan budaya lokal, dan perlu dipahami serta dihormati. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.