Susun RPJPN 2025 - 2045, Kemenag Diingatkan Ancaman Pembangunan Bidang Agama

Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama mulai melakukan kajian penyusunan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2025 - 2045. Sekjen Kemenag Nizar mengingatkan tentang pentingnya penguatan pembangunan bidang agama dan keagamaan.

Nizar melihat setidaknya ada dua tantangan pembangunan bidang agama dan keagamaan. Pertama, ancaman pemikiran dan gerakan keagamaan. Kedua, ancaman kerukunan umat beragama.

Pemikiran dan gerakan keagamaan, lanjut Nizar, muncul dan berkembang baik dari luar maupun dalam negeri dengan berbagai latar belakang dan dampak, di antaranya: Formalisasi agama yang mengedepankan formalisasi simbol keagamaan yang terkadang kehilangan ruh substantif pesan agama. 

"Juga munculnya gerakan ekstremisme keagamaan sebagai transformative movements yang berkeinginan mengubah tatanan sosial secara total. Atau sebaliknya faham liberalisme agama dengan dalih kebebasan beragama dan hak azasi manusia," ujarnya saat memberikan sambutan pada Kick off Backgroud Studi Penyusunan Rancangan RPJPN 2025-2045, di Auditorium Kantor Kemenag Thamrin, Jakarta, Senin, (12/9/2022).

Giat ini diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Agama dengan Bappenas.

"Termasuk juga transnasionalisasi gerakan keagamaan yang mengusung suatu sistem isu yang ingin mengganti dasar negara. Dan Infiltrasi pemahaman ekstrem dan sikap intoleransi dalam dunia pendidikan," sambungnya.

Dunia pendidikan, kata Nizar, harus mewaspadai fenomena ini yang perkembangannya tidak hanya di level pendidikan tinggi akan tetap, bahkan sudah sampai ke level pendidikan dasar. 

Berkenaan ancaman kerukunan umat beragama, Nizar memaparkan adanya ‘pertarungan’ di ruang publik dengan simbol-simbol keagamaan yang mengarah pada politik identitas. Selain itu, tumbuhnya logika mayoritas dan minoritas berbasis agama yang mengabaikan prinsip keadilan dan hak warga negara. Tabtangan lainnya adalah belum tumbuhnya sikap multikultural dan moderat dalam beragama yang mengakui, menghargai, dan bekerjasama dalam perbedaan.

“Saya mendorong; bagaimana forum ini menghasillkan saran dan rekomendasi kebijakan serta program apa yang perlu disiapkan ke depan. Kita perlu mengoptimalkan pengembangan dan pemberdayaan berbagai institusi sosial keagamaan sebagai perekat sosial sekaligus perekat kebangsaan," sebutnya.

"Kita juga perlu mengintegrasi nilai-nilai universal yang menjadi rujukan bersama dalam memuliakan harkat dan martabat kemanusiaan kedalam cara pandang dan sikap hidup pemeluk agama dan institusi keagamaan,” sambungnya.

Sementara dalam bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Nizar juga melihat ada dua isu utama dan tantangan yang perlu diperhatikan.  Pertama, rendahnya kapasitas dan kualitas lembaga pendidikan. Hal ini terutama disebabkan karena mayoritas lembaga pendidikan diselenggarakan oleh masyarakat, tanpa arah pengembangan yang terencana dan sistematis, serta memiliki keterbatasan sumber daya baik sarana prasarana, sumber daya manusia, dan sumber daya finansial. Selain itu, kualifikasi guru yang belum sepenuhnya memenuhi standard dan program sertifikasi yang belum selesai.

“Ke depan, perlu dipikirkan rumusan model transformasi sistem pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu dengan mempertahankan ciri khas Lembaga Pendidikan keagamaan,” papar Nizar.

Isu kedua adalah dehumanisasi pendidikan sebagai dampak dari digitalisasi. Dalam jangka panjang, agar praktik pendidikan tetap berperan dan memanusiakan manusia, perlu ada visi bersama dan pendekatan sistematis menghadapi era industri 5.0.

“Untuk mengantisipasi aspek ini, hal yang sangat penting kita lakukan adalah melakukan Transformasi Pendidikan Holistik. Transformasi pendidikan bermuara pada mempersiapkan individu yang kuat secara intelektual, spiritual, sosial, dan emosional, serta memperhatikan kesehatan serta pengembangan minat dan bakat,” tandas Nizar.

Acara yang diselenggarakan oleh Biro Perencanaan Kemenag ini diikuti oleh pejabat Kemenag Eselon I, II secara Luringg. Secara Daring juga hadir Kakanwil dan Kakankemenag se-Indonesia. Menghadirkan beberapa pemateri,.di antaranya: Lukman Hakim Saifuddin (Menag 2014-2019), Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Nur Syam, Budayawan Indonesia, Franz Magnis Suseno, Deputi Bidang Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, Bappenas, Subandi, serta Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Amich Alhumami.