Tiada Orang yang Tidak Dicela

Porāṇaṁ etaṁ Atula, n’etaṁ ajjatānam iva : Nindanti tuṇhim āsīnaṁ, nindanti bahubhāṇinaṁ, mitabhāṇinaṁ pi nindanti; n' atthi loke anindito. O Atula, hal ini telah ada sejak dahulu dan bukan saja ada sekarang: Di mana mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara, mereka juga mencela orang yang sedikit bicara; Tak ada seorangpun di dunia ini yang tak dicela. (Dhammpada, Syair: 227)
    
Hidup ini tidak kekal adanya, proses kehidupan terus berlangsung dari waktu ke waktu. Sebagai manusia yang masih terus menjalani kehidupan yang tidak pasti ini, kita pun tidak akan pernah luput dari berbagai permasalahan hidup. Berbagai permasalahan akan terus datang silih berganti, seiring berlangsungnya proses kehidupan yang harus dijalani. 

Dalam Anguttara Nikaya IV, 157 disebutkan ada delapan kondisi duniawi yang mencengkeram kehidupan manusia, yaitu: untung (labha) dan rugi (alabha), terkenal (yasa) dan tersisih (ayasa), dipuji (pasamsa) dan dicela (ninda), serta bahagia (sukha) dan sedih (dukkha).  Selama delapan kondisi duniawi ini masih mencengkeram kehidupan kita, maka kita masih harus dan akan terus berhadapan dengan aneka masalah kehidupan yang ada. 

Salah satu dari delapan kondisi duniawi yang sering dan selalu muncul dalam kehidupan manusia adalah dipuji dan dicela. Dipuji dan dicela merupakan konsekuensi logis yang akan diterima, ketika manusia sebagai makhluk sosial melakukan interaksi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. 

Adalah sangat wajar jika setiap manusia mendambakan pujian, tetapi tidak ada seorang pun manusia yang dapat terhindar dari celaan. Dipuji, dihormati, dan disegani mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya dicela, dihina, dan difitnah menimbulkan penderitaan.  

Sangatlah sulit menemukan orang yang tidak pernah dicela di dunia ini. Bahkan YM. Bhikkhu Revata, YM. Bhikkhu Sariputta dan YM. Bhikkhu Ananda juga tidak luput dari celaan. Para Siswa Mulia Guru Agung ini pernah dicela oleh Atula (Dhammapada Atthakatha; Syair 227, 228, 229, 230). 

Dalam Dhammapada syair 227, Sang Buddha mengatakan: “Mereka mencela ia yang diam, mencela ia yang banyak bicara, dan mencela ia yang bicara secukupnya. Tiada siapa pun di dunia yang bebas dari celaan.” Syair tersebut memberikan makna mendalam kepada kita, bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah dicela.    

Meskipun semua manusia tidak terlepas dari kondisi dicela dan menjadi korban dari celaan, tetapi yang membedakannya adalah bagaimana cara orang tersebut menyikapi celaan yang ada. Umumnya ketika orang dicela, ia akan membalasnya sebagai respon negatif dengan penuh kebencian dan kemarahan. 

Namun hendaknya menjadi perhatian bagi kita bahwa saat celaan datang menghampiri, tidak menjadi beban bagi kita. Celaan itu tidak sampai membuat kita menjadi tersinggung, serta terpancing untuk marah dan berusaha membalasnya dengan respon negatif.

Sang Buddha dan para siswa-Nya telah memberikan teladan kepada kita untuk tidak membalas celaan yang datang dengan kebencian, tetapi meresponnya dengan baik. Merespon celaan dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang. 

Memang tidak mudah dan terasa sulit untuk dapat mempertahankan kesabaran kita saat dicela, tetapi kita harus tetap melatih diri untuk bersabar. Celaan yang datang kiranya tidak membuat kesabaran kita menjadi berkurang, bahkan hilang. 

Sebaliknya, hendaknya celaan itu menjadi kesempatan baik bagi kita. Untuk melakukan introspeksi diri, melatih kesabaran, mengembangkan kasih sayang, dan menjadi latihan untuk menyempurnakan kualitas diri kita. 

Orang-orang yang mencela kita sebenarnya adalah guru-guru kehidupan bagi kita. Mereka memberi kesempatan berharga bagi kita untuk melatih kesabaran.

Hendaknya ini menjadi perenungan bagi kita. Untuk tetap melakukan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan ini dan hidup sesuai Dhamma. Berusahalah untuk senantiasa berpikir, berucap dan bertindak sesuai ajaran Guru Agung Buddha untuk menyempurnakan kualitas diri kita. Berbuat baiklah dengan penuh ketulusan. Tiada orang yang tidak dicela. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.