Tidak Takut dengan Ketakutan

Na antalikkhe na samuddamajjhe, Na pabbatānaṁ vivaraṁ pavissa, Na vijjatī so jagatippadeso, Yatraṭṭhito mucceyya pāpakammā. Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya. (Dhammpada, Syair 127)

Perasaan takut, cemas, khawatir merupakan bagian kehidupan manusia. Tidak semua orang mampu menghindari rasa takut. Selama seseorang masih menjadi umat awam yang belum terbebas dari belenggu kekotoran batin maka sangat wajar jika masih mengalami rasa takut. 

Ketakutan muncul dalam diri seseorang disebabkan oleh kemelekatan. Kemelekatan terhadap sesuatu yang dimiliki dan kemelekatan terhadap perbuatan yang pernah dilakukan. Memiliki rumah yang bagus, memiliki kendaraan, memiliki usaha yang maju dan berkembang, memiliki jabatan, pangkat, kekuasaan merupakan impian dan harapan semua orang. Akan tetapi semua itu tidaklah kekal. Cepat atau lambat semua yang dimiliki akan berpisah, lenyap, dan hilang. Kemelekatan terhadap hal-hal tersebut akan menimbulkan rasa takut, takut kehilangan, takut berpisah, dan takut lenyap, semua itu tidak lagi menjadi miliknya.

Sebab lain dari ketakutan adalah keserakahan. Keinginan untuk mengambil secara berlebihan terhadap apa yang bukan menjadi haknya seperti korupsi, mencuri, penyalahgunaan wewenang pada akhirnya akan menimbulkan ketakutan. Pelaku keserakahan tersebut secara alamiah akan timbul rasa takut, seperti takut ketahuan yang akan menimbulkan kasus hukum. Guru Agung Buddha menjelaskan “dari keserakahan timbullah kesedihan, dari keserakahan timbullah ketakutan, bagi ia yang sepenuhnya terbebas dari keserakahan tidak ada kesedihan, apalagi kekhawatiran” 

Dalam ajaran agama Buddha, sumber ketakutan adalah dari pikiran. Jika seseorang mampu mengendalikan pikiran dengan baik maka tidak akan timbul perasaan takut yang berlebihan. Kemampuan mengendalikan rasa takut akan membuat seseoang menjadi lebih berhati-hati dan waspada dalam bertindak. Sesungguhnya tidak ada orang lain yang bisa membantu timbulnya rasa takut yang ada dalam diri seseorang. Apapun yang terjadi dalam dirinya sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Guru Agung Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, ii. 173 “Kecemasan, kekhawatiran, maupun ketakutan sesungguhnya bersumber dari diri sendiri”. 

Rasa takut, khawatir, dan cemas haruslah diatasi agar tidak menyebabkan kemelekatan yang berlebihan. Pikiran hendaklah dikendalikan dengan cara melatih diri melepas apa yang dimiliki dan bijaksana dalam memandang segala sesuatu yang dimiliki sebagaimana adanya. Memahami bahwa segala sesuatu yang timbul dalam dunia ini adalah tidak kekal dan menyadari bahwa perbuatan buruk akan berbuah penderitaan adalah salah satu cara yang baik untuk mengurangi rasa takut yang muncul.

Sebagai umat Buddha, tidaklah perlu takut dengan ketakutan. Takutlah akan akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan. Kikislah ketakutan yang muncul dengan mengembangkan pikiran, ucapan, dan perbuatan baik dalam kehidupan. Kembangkanlah cinta kasih (metta), kasih sayang (karuna), simpati dan empati (mudita), dan keseimbangan batin (upekha) dalam diri agar terbebas dari hal-hal yang dapat menimbulkan rasa takut, khawatir, dan cemas. 

Semoga semua makhluk berbahagia.


TERKAIT

Perilaku Bakti di Tengah Pandemi

Memaknai Saraswati

Harta sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Iman Saat Tidak Bisa Melihat Apa-Apa

Bermimpi dalam Hidup

Menuntut Diri Sendiri