Transformasi Digital dan Ikhtiar Membangun Madrasah Sebagai Wajah Peradaban Indonesia

Transformasi digital madrasah dalam beberapa waktu terakhir terasa menjadi gaung yang cukup kuat terdengar. Secara faktual, banyak eksponen madrasah, baik siswa, guru, maupun madrasahnya sendiri, menorehkan prestasi yang sangat membanggakan di berbagai level. 

Dalam capaian tersebut, madrasah secara jelas menunjukkan diri sebagai entitas yang tidak lagi dapat dilihat sebagai lembaga pendidikan kelas dua. Madrasah, selain mencetak berbagai prestasi akademik dan non-akademik yang monumental, juga telah berkembang sedemikian rupa dalam interaksi yang intensif dengan semangat dan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. 

Dalam perbincangan yang hangat dan bernas, Tim Media PAI berkesempatan mewawancarai Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Prof. Dr. Moh Ishom dalam konteks tema mengenai transformasi digital madrasah dan moderasi beragama (11/5/2022).

Perbincangan dibagi dalam tua topik, yakni transformasi digital madrasah dan moderasi beragama di madrasah. Berikut wawancaranya: 
  
Transformasi Digital
Apa dan bagaimana sesungguhnya transformasi digital di madrasah itu? 

Latar transformasi digital yang ingin kita lakukan adalah pertama, mengangkat madrasah dari persepsi sebagai lembaga pendidikan kelas dua dan lembaga pendidikan kampungan. Kita ingin membalik pandangan seperti ini, dengan sepenuhnya meyakini bahwa madrasah saat ini telah berada di tengah dan bersiap menjadi yang terdepan. Karenanya, madrasah memiliki peluang yang besar untuk menjadi kebanggaan dan menjadi destinasi pendidikan kelas dunia. Instrumen yang kita pakai salah satunya adalah transformasi digital karena inilah semangat zaman. 

Dalam semangat seperti itu, kita selalu melakukan berbagai terobosan, di antaranya adalah dengan memperbaiki tampilan fisik madrasah, bekerja sama dengan berbagai pihak (Bappenas, PUPR, Kemenkeu, dan lainnya). Saat ini insya Allah tampilan fisik madrasah sudah tidak lagi mengecewakan meski belum bisa semua. 

Dari perbaikan tampilan fisik ini kita bergerak menuju peningkatan mutu, baik dari mutu layanan, kurikulum, guru, siswa, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, layanan digital menjadi pilihan paling tepat karena semangat zaman dan kebutuhan. Di madrasah, banyak hal yang sudah dikembangkan secara digital pada berbagai aspek.

Sebagai langkah dan konstruksi kebijakan, kita tahu makna transformasi itu tidak pernah sederhana, terutama karena menyangkut mindset dan culture set.  Dari mana titik berangkat semangat transformasi digital ini akan dikembangkan? 

Kita berangkat dari upaya merubah pola pikir warga madrasah. Kita rubah dulu tata kelolanya lalu beranjak ke individunya. Dengan layanan berbasis digital yang sudah dijalankan, kita menghindari vested interest yang dimungkinkan timbul darinya. Kondisi pandemi Covid-19 menjadi energi tersendiri bagi KSKK untuk bergerak dalam ranah transformasi digital. Dengan dukungan bantuan dari World Bank dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, kita coba tranformasi digital ini dapat berjalan secara akseleratif. 

Bagaimana KSKK memastikan langkah transformasi digital ini menjadi langkah bersama dan bukan hanya berupa kebijakan yang berada di menara gading yang membuatnya tidak dapat dinikmati oleh semua madrasah?  

Masa transisi memang tidak mudah, di antaranya adalah kenyataan tetang digital divide (kesenjangan kualitas akses digital) secara geografis dan dukungan sarananya. Kami sangat menyadari hal tersebut. Hal  demikian dapat memicu disparitas dan rasa keadilan yang timpang. 

Yang kami lakukan dalam mengatasi hal tersebut adalah senantiasa melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya Kominfo dalam mengembangkan seribu tower dan smart village (Kemendagri). Kami berusaha agar madrasah dapat sedekat mungkin dan mengambil manfaat dari adanya tower dan smart village ini. Dengan kerja sama tersebut, kami berupaya maksimal untuk menekan kesenjangan akses digital. 

Dalam pandangan saya, transformasi digital ini harus muncul dari pinggir, dari pedesaan. Rural society harus lebih dahulu mendapatkan akses yang memadai. Kita juga mengembangkan kerja sama dengan berbagai berbagai provider jaringan telekomunikasi.  

Lalu, apa perangkat kebijakan secara internal yang telah dijalankan dalam konteks transformasi digital ini? 

Kita terus berkoordinasi dengan teman-teman di daerah dan memberikan berbagai dukungan serta bantuan kepada siswa dan madrasah untuk menekan adanya learning gap kota dan desa. Kita juga berikan bantuan devices kepada para siswa. 

Namun sekali lagi, setelah kita siapkan berbagai dukungan, tetap yang paling utama adalah manusianya, yakni bagaimana agar manusia di dalamnya dapat mengikuti gerak transformasi digital dengan maksimal. Dalam ide saya, itulah pentingnya mengembangkan habituasi. 

Dengan sebaran daerah yang demikian luas di Indonesia, di mana madrasah berada di dalamnya, sinergi dan kolaborasi dalam membangun transformasi digital ini mutlak dilakukan. Dalam fokus seperti ini, harus ditanamkan semangat agar madrasah mampu menjadi produsen, mampu menjadi pemain, bukan hanya penonton. 

Dalam upaya bersama dan gerak langkah yang saling melengkapi ini, kita perlu membangun sikap berdaya sanding. Dalam pemahaman ini, gap antara madrasah yang sudah baik kualitas layanan digitalnya harus menjadi pihak yang mengayomi, membantu, dan mendorong madrasah yang belum pada taraf kemajuan seperti mereka, agar dapat maju bersama. 

Dengan tren dan masifnya transformasi digital ini, apakah KSKK  tidak khawatir dengan risiko madrasah yang akan kehilangan jati dirinya sebagai sekolah umum berciri khas Islam? 

Tidak. Kami justru meyakini, dengan semangat transformasi digital ini warga madrasah akan makin yakin dan bangga dengan identitas yang menjadi kekhasan mereka. Pembelajaran dan penanaman nilai-nilai positif ajaran Islam akan mendapatkan akselerasi dan daya dukung dengan keberadaan transformasi digital. 

Menariknya, masyarakat juga makin mendapatkan manfaat atas upaya transformasi digital ini. Kita dapat melihat bagaimana kontribusi anak-anak madrasah dalam berbagai inovasi mereka di bidang teknologi yang mampu mendukung perekonomian masyarakat dengan pendekatan nilai-nilai madrasah. Ini adalah bukti bahwa madrasah tidak kehilangan jati diri, bahkan eksis dan kontributif dalam ranah transformasi digital. Madrasah di banyak tempat telah menjadi bagian dari problem solving masalah di masyarakat.

Moderasi Beragama
Bagaimana konsep moderasi beragama di madrasah? 

Pada dasarnya, kesepakatan bangsa ini adalah mengenai penghargaan terhadap perbedaan. Kita tahu, tidak pernah mudah untuk merawat dan menjaga semangat seperti ini. Agama dan negara seringkali dipertentangkan dan tidak dalam status kerja sama dan hubungan yang saling mendukung. Seringkali agama dikomodifikasi dan dikapitalisasi untuk kepentingan sesaat. 

Konteks moderasi beragama di madrasah saya kira sudah inheren dalam tata nilai yang mengedepankan toleransi, kesepakatan menjaga finalitas NKRI, taat pada hukum, dan menghargai kearifan lokal. Kearifan lokal harus tetap dipertahankan selagi tidak bertentangan dengan ideologi agama, karena itu adalah ekspresi budaya. 

Apakah itu artinya di madrasah moderasi beragama sudah selesai, dalam artian tidak ada masalah sama sekali? Apa perangkat kebijakan yang disiapkan sebagai langkah antisipatif? 

Tidak juga demikian. Namanya juga pemikiran yang heterogen dan berinteraksi dengan berbagai tantangan sosial budaya dan berbagai perkembangan, tentu ada yang tidak semua bisa tersekapati bersama, termasuk moderasi beragama ini. Sebagian guru dan siswa tetap mendapat indoktrinasi dari lingkungan dan dalam beberapa hal terekspresikan secara tidak benar. 

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar adanya penyusunan soal madrasah yang tidak tepat dengan misi tertentu yang bersifat intoleran. Namun, saya menilai hal tersebut hanya riak-riak seperti saja dan menjadi tantangan moderasi beragama di madrasah.

Secara internal kami menjalanklan Program Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dengan dukungan World Bank. Di dalamnya, insersi, adaptasi, dan pelaksanaan moderasi beragama dijalankan dengan terstruktur dan terarah. 

Dengan display seperti ini, kami mengharapkan terwujudnya profil guru madrasah yang mampu mengelola perbedaan dengan tepat, lalu mendorong agar para siswa mampu menghargai perbedaan, juga dengan tepat. Para siswa harus dilatih untuk mampu saling menghargai.    

Dengan berbagai perkembangan dan tantangan yang ada saat ini, terutama dalam kaitan moderasi beragama, apa harapan dan nilai dasar yang ingin dicapai madrasah ke depannya?  

Dalam pandangan saya, madrasah harus menjadi wajah peradaban Indonesia. Ini poin pentingnya. Madrasah harus bisa menjadi inti sari penghargaan kearifan lokal agar mampu merangkai kebhinekaan yang ada. Guru dan tenaga kependidikan (tendik) harus berwawasan nasional. Dari sinilah akan tercipta kerukunan beragama dan kebanggaan terhadap nasionalisme sebagaimana yang diperjuangkan para ulama dan pemuka agama kita dahulu. 

Madrasah harus siap untuk berdaya saing secara global dan memiliki karakter keislaman, keindonesiaan, dan kearifan lokal yang kuat sebagai pondasi wajah peradaban Indonesia.