Transformasi Digital GusMen Yaqut

Satu dari tujuh kebijakan prioritas Gus Menteri (GusMen) Yaqut Cholil Qoumas di Kementerian Agama adalah transformasi digital, selain penguatan Moderasi Beragama, revitalisasi KUA, kemandirian pesantren, International Islamic Cyber University, religiousity index, dan tahun toleransi 2022. Transformasi digital merupakan keniscayaan di era serba maya di mana seluruh lini kehidupan ditopang oleh teknologi informasi.

GusMen Yaqut dalam beberapa kesempatan menekankan bahwa transformasi digital di Kementerian Agama sebagai keharusan. Meminjam terminologi agama sebagai "fardlu 'ain", tidak ada tawar menawar. Kenapa? Selain kita hidup di era serba teknologi, Kementerian Agama adalah satu-satunya instansi pemerintah yang menjadi referensi paling penting bagi seluruh warga bangsa. Setiap WNI pasti memerlukan Kementerian Agama. 

Dalam selorohnya, GusMen pernah menyatakan bahwa semua urusan warga negara yang hidup di bawah sinar matahari itu menjadi tugas Kementerian Agama. Mulai dari kelahiran, perkawinan, pendidikan, ibadah, kerukunan, kesejahteraan umat, bahkan saat dan pasca kematian, semua berkait kelindan dengan tugas Kementerian Agama.

Saat semua warga negara memerlukan layanan Kementerian Agama, sudah semestinya lembaga ini terus berbenah agar dapat memberikan yang terbaik. Sesuai namanya, agama harus menjadi spirit dalam melayani umat. "Apalagi, kementerian ini memiliki tagline keramat: Ikhlas Beramal," kata GusMen suatu kali.

ASN Kementerian Agama juga dituntut disiplin, serta lebih progresif dan responsif. "Mari kita bangun citra Kementerian Agama yang “nampak tua” ini dengan wajah yang lebih muda, progresif, ceria, dan responsif dalam melayani umat," tegas GusMen dalam kesempatan memimpin upacara 17 September lalu.

Untuk mengubah citra Kementerian Agama, tentu harus didukung oleh teknologi digital. Pelayanan tanpa teknologi akan membawa kita hidup seperti di zaman Dinosaurus. Pelayanan yang masih bersifat manual, lambat, berbelit, dan berbiaya mahal, harus benar-benar ditinggalkan. Kenapa? Karena transformasi digital di semua lini birokrasi akan meniscayakan pelayanan yang mudah dan murah. 

Salah satu aspek paling utama di Kementerian Agama yang mengharuskan transformasi digital sesegera mungkin adalah pentingnya memberikan pelayanan holistik bagi umat beragama. Indonesia sebagai bangsa besar yang multi-kultural adalah laboratorium kerukunan raksana di dunia. Hampir tidak ada negara yang memiliki kemajemukan serumit Indonesia.

Seiring dengan hal itu agar dapat memastikan seluruh keunggulan Indonesia terkelola dengan baik, maka dibutuhkan sistem manajemen pelayanan dan data yang akurat. Sehebat apapun kemampuan SDM tanpa didukung oleh sistem pelayanan publik yang baik dan penyajian data yang akurat, mudah, murah, dan terbuka, maka akan terjadi kerancuan, bahkan kekacauan.

Melihat dinamika kehidupan beragama masa kini, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Indonesia tergantung pada kemampuan pengelolaan umat beragama dengan baik. Dan dalam hal ini, Kementerian Agama menjadi "leading sector". Artinya, masa depan Indonesia juga tergantung efektifitas kerja dan fungsi Kementerian Agama. 

Jika Kementerian Agama mampu menghadirkan sistem pelayanan masyarakat (internal dan eksternal) yang serba cepat, murah, mudah, dan transparan berbasis teknologi (transformasi digital), maka masa depan Indonesia pun akan sangat cerah. Namun, kebijakan besar ini dibutuhkan komitmen, keseriusan, dan keberanian mengambil langkah-langkah tidak biasa (extra-ordinary) untuk melampui target-target normal yang ingin dicapai. 

*Layanan SuperApp*

Terobosan GusMen untuk merealisasikan program prioritas "transformasi digital" adalah penyediaan layanan SuperApp yang mudah diakses, lengkap, dan user friendly. Aplikasi berbasis Android dan iOS ini merupakan layanan digital yang mengintegrasikan seluruh aplikasi layanan yang dikelola oleh setiap unit eselon I Pusat. 

Saat ini sedang dimatangkan untuk menjadi aplikasi impian (dream application) yang menyediakan data-data dan layanan keagamaan dan pendidikan keagamaan. Selama ini layanan masih terpisah-pisah dan berada dalam unit-unit Satker yang belum terintegrasi (terpusat), hingga menyulitkan bagi publik untuk mengakses secara mudah dan berkesinambungan. 

Misalnya, layanan data perkawinan diolah melalui aplikasi SIMKAH, data pendidikan melalui aplikasi EMIS dan SIMPATIKA, data kepegawaian melalui SIMPEG, data masjid-musalla melalui SIMAS, dan lainnya. Masing-masing aplikasi ini menyediakan data sesuai unitnya, yang belum diintegrasikan melalui sistem yang utuh.

Pada saat yang sama, setiap aplikasi tersebut sejak awal dibangun bukan berdasarkan masterplan yang jelas. Masing-masing unit membangun berdasarkan "imajinasi" dan kebutuhan mikro dengan pendekatan yang berbeda-beda. Sehingga, antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain tidak memiliki corak dan sistem data-base yang sama. Dalam tataran integrasi sistem, hal tersebut menyulitkan dalam implementasinya. 

Demikian juga dalam maintenance data, baik aspek inputing, processing, maupun presenting data dan layanan, belum dikelola dengan optimal. Di sinilah titik krusial pengembangan SuperApp yang mencoba terus diupayakan agar semua aplikasi dapat "ditundukkan" dalam sistem data-base yang sama. Sehingga, antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain dapat "saling komunikasi" yang memudahkan untuk penyajian datanya.

Program transformasi digital GusMen Yaqut diarahkan pada SATU DATA KEMENAG. Outputnya adalah tersedianya satu data keagamaan dan pendidikan keagamaan yang mudah diakses oleh siapapun sebagai dasar kebijakan publik, basis analisis, dan pengembangan program pembangunan bidang agama. Salah satu contoh penting yang akan dicapai diantaranya SATU DATA KUA dan konektifitasnya antar KUA untuk memperkuat program revitalisasi KUA sebagai pusat layanan keagamaan terdepan, cepat, murah, dan inklusif.

Selain itu, ada keinginan besar dari pengelolaan data dan layanan berbasis digital tersebut agar mampu menyajikan data profiling individu. Sebagai contoh: seorang jamaah haji yang telah mendaftar dapat terlacak data-data perkawinannya, riwayat pendidikannya, berapa anak-anaknya, sekolah di madarasah atau pesantren mana, lalu terlacak di mana tempat dia membayar zakat, jika dia pernah mewakafkan sebagian hartanya diketahui siapa Nazhirnya, dan seterusnya.

Jika dia seorang ASN, apa golongan dan pangkatnya, kapan dia pensiun (purna tugas). Dia juga akan diketahui kompetensinya, Diklat apa saja yang telah diikuti. Apabila dia pernah mendapatkan hukuman disiplin, apa bentuknya, kapan, dan seterusnya. Jika dia pegawai berprestasi, apa saja penghargaan yang pernah didapat, dan bagaimana cara mengakselerasi agar yang bersangkutan dapat ditempatkan pada pos yang tepat, mudah didorong untuk memberikan apresiasi atas prestasinya.

Tentu, puncak impian pengelolaan data dan layanan tersebut masih membutuhkan nafas panjang. Setidaknya, setiap aplikasi penyaji harus menginput satu identitas berupa NIK yang dapat disinergikan dengan Kementerian Dalam Negeri. Jika setiap aplikasi memiliki satu kesamaan data pokok, maka data profiling akan mudah disajikan.

Namun demikian, jika dilihat dari aspek kesiapan "transformasi digital" Kementerian Agama sejatinya telah memenuhi empat syarat utama, yaitu people, actions, collaboration, and technology. People, bahwa dari sumber daya manusia, Kementerian Agama memiliki resourches yang melimpah, baik di Kanwil, Kemenag, KUA, madrasah, maupun PTKN. Hanya saja saat ini dibutuhkan orkestrasi agar SDM ini dapat berperan optimal dalam menunjang transformasi digital. 

Actions. Transformasi digital merupakan satu-satunya cara Kementerian Agama untuk menyelesaikan inovasi yang benar-benar efektif. Dari budaya kerja yang terus dikembangkan di internal aparatur Kementerian Agama, dibutuhkan support system yang dapat menjembatani upaya-upaya kreatif sehingga akan menghasilkan kinerja yang optimal.

Collaboration. Transformasi digital merupakan jalan lapang Kementerian Agama untuk dapat berkolaborasi dengan stake holders. Data-data keagamaan dan pendidikan yang tersaji dengan baik, mudah diakses, dengan kualitas yang kredibel, akan memudahkan sinergitas untuk mencapai target-target yang diinginkan. Era digital meniscayakan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak.

Technology. Dari segi technology equipment, Kementerian Agama telah memiliki peralatan yang memadai untuk melakukan transformasi digital. Kesiapan teknologi bukan hal sulit karena telah tersedia berbagai media teknologi murah dan canggih yang mampu mengcover kepentingan transformasi digital di semua lini kehidupan.

Uraian di atas telah menggambarkan betapa "transformasi digital" GusMen Yaqut bukanlah hal sulit dan akan benar-benar menjadi jawaban konkrit bagi kebutuhan Kementerian Agama, bahkan bangsa ini secara umum. Saatnya semua pihak bergerak, berkontribusi bagi terwujudnya layanan yang cepat, mudah, dan murah sebagai implementasi nilai-nilai agama dan memuliakan sesama. Kalau bukan saat ini, kapan lagi? Wallahu a'lam

Thobib Al-Asyhar, Plt. Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI.