Tri Hita Karana dan Keharmonisan Hidup Bersama

Om Swastyastu. Om Awigenamastu Namo Siddham. Om  Annobadrahkrtavoyantu Visvatah. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru 

Umat se-dharma se-nusantara. Pesan dharma kali ini mengangkat tema “Pentingnya Ajaran Tri Hita Karana Sebagai Dasar Keharmonisan Dalam Kehidupan Bersama”

Mpu Tantular dalam karyanya Kitab Sutasoma menyatakan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (“Berbeda-beda, tetapi pada hakekatnya adalah satu, tidak ada kebenaran yang kedua).

Sebuah contoh, di pagi hari Pak Made  pergi ke kantor mengenakan seragam guru, lalu disebutlah ia dengan “Pak Guru”. Sepulang dari kantor, ia mengganti pakaiannya lalu pergi ke pasar untuk berjualan, maka disebutlah ia “pedagang”. Ketika sore hari, ia kembali ke rumah untuk berkumpul bersama anak dan istrinya, disebutlah ia “ayah dan suami”. Yang disebut Pak Guru, pedagang, ayah, dan suami adalah satu, yaitu Pak Made.

Kita simak petikan sloka yang tertulis dalam Bhagawad Gita: Sloka IV Adyaya 11 sebagai berikut: Ye yatha mam prapadyante, Tams tathai ‘va bhajamy aham, Mama vartma ‘nuvartante, Manusyah partha sarvasah. (Jalan manapun yang ditempuh manusia kepada-Ku semuanya Ku terima. Dari mana-mana mereka semua menuju jalan-Ku, wahai putra parta.)

Umat sedharma. Manusia, selain sebagai makhluk individu, sekaligus sebagai mahluk sosial, yang tidak akan terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Untuk menciptakan kehidupan yang tentram dan damai, maka kita harus menjaga hubungan yang harmonis yang dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan Tri Hita Karana. 

Sebagai umat Hindu tentunya kita telah diajarkan tentang ajaran Tri Hita Karana. Yaitu, tiga hal yang harus diharmoniskan oleh setiap umat Hindu khususnya dan umat manusia pada umumnya. 

Pertama, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan. Bagaimana caranya? Untuk dapat mengharmoniskan hubungan dengan Tuhan, caranya dengan melakukan semua ajaran-Nya sesuai kaidah kitab Suci Weda. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah dengan cara bersembahyang. 

Pada tingkatan yang lebih tinggi, kita dapat melakukan Meditasi untuk menyatukan diri dan tanda syukur kita ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca. Di samping itu, upaya mengharmoniskan hubungan dengan Tuhan bisa dilakukan dengan mencintai dan menyayangi semua makhluk ciptaan-Nya. Pada intinya, hidup ini adalah sebuah pelayanan. Kita tidak boleh memandang  bagaimana statusnya, jabatannya, pekerjaannya atau pun bentuk fisiknya. 

Kedua adalah menciptakan keharmonisan antara manusia dengan manusia lainnya. Dalam bersosial kemasyarakatan sekarang ini terutama di kota besar seperti Jakarta, sifat individualisme sangat terlihat dengan jelas. Sebagai contoh, banyak orang yang tidak mengetahui nama tentangga sebelahnya. Semuanya sibuk dengan urusan dan  kepentingannya masing-masing sehingga komunikasi dengan tetangga sangat jarang. 

Dilihat dari pandangan ajaran Tri Hita Karana, fenomena itu menandakan bahwa keadaan masyarakat tersebut tidaklah harmonis. Mari kita ciptakan masyarakat yang harmonis, rukun dan damai sehingga akan tercipta kesejahteraan bersama.

Coba kita renungkan tentang ajaran toleransi kita, yaitu ajaran Tat Twam Asi. Di mana secara harfiah Tat Twam Asi mengandung arti Aku adalah Dia, Dia adalah Engkau. Artinya, kelihatan sangat sederhana, namun bila kita kaji, ajaran itu memiliki makna yang sangat dalam. Muncullah pertanyaan dibenak kita: “Mengapa Saya dan Anda dikatakan sama, padahal fisik kita berbeda?”

Umat sedharma, kata Aku di sana bukan hanya dilihat dari bentuk fisik kita. Di dalam diri saya dikatakan ada Jiwa (Atman) dan di dalam diri Anda juga ada sang jiwa itu. Oleh karena itu, maka saya dan anda atau pun dia, atau pun mereka adalah sama-sama memiliki jiwa (Atman) yang berasal dari satu sumber utama, yaitu Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. 

Terlebih lagi, salah satu sloka mengatakan bahwa: “Brahman Atman Aikyam”. Artinya, Brahman dan Atman adalah Satu. Dapat disimpulkan bahwa jiwa di dalam diri kita adalah Brahman itu sendiri. Dengan menyadari bahwa di dalam diri orang lain sama dengan diri kita, maka sepatutnya kita saling menghormati dan menyayangi, sehingga tercipta kehidupan yang harmoni, aman, damai, dan sejahtera.

Ketiga, menciptakan keharmonisan antara manusia dengan alam lingkungan. Alam ini telah melakukan pelayanan tanpa pamrih kepada semua mahluk yang ada. Semuanya dia serahkan tanpa meminta imbalan apapun. Semua apa yang kita butuhkan, dia berikan. Namun sebaliknya, sebagai umat manusia dengan ego masing-masing, kita mengeksploitasi tanpa memikirkan bagaimana memeliharanya. Hal itu berakibat akan datangnya maut menghampiri umat manusia. Bencana demi bencana terjadi di mana-mana, seperti Tsunami , Gempa Bumi, tanah longsor, dan banjir bandang di beberapa daerah.

Oleh karena itu, umat manusia, khususnya umat Hindu, harus menyadari untuk berusaha mengharmoniskan kembali hubungannya dengan alam. Marilah kita merawat lingkungan kita untuk menanam tanaman di sekitar rumah, membuang sampah pada tempatnya. 

Umat Sedharma. Dalam upaya menjaga keharmonisan alam semesta ini, umat Hindu senantiasa menjaga keselarasan antara sekala dan niskala, baik secara vertikal dengan Sang Pencipta dan lingkungan alamnya, maupun secara horizontal antar manusianya. Dengan demikian, terciptalah energi positif yang dapat memberikan aura dan nuansa magis-spiritual. Ditambah lagi, dengan semakin digerakkannya konsep Tri Hita Karana menjadikan masayarakat Hindu semakin harmoni dan mandara. 

Umat sedharma. Sebagai kesimpulan, pesan dharma kali ini menggarisbawahi tentang pentingnya ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan bersama sebagai wahana untuk saling introspeksi diri, mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing, sehingga menimbulkan suatu interaksi, hubungan timbal balik antar sesama, bukan untuk memecah, melainkan untuk penyatuan. Yaitu dengan menjadikan ajaran Tri Hita Karana sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan yang paras paros sarpa naya salung – lung sabayan taka.

Mari kita amalkan ajaran Tri Hita Karana agar tercipta keharmonisan dan kedamaian seluruh mahluk, sesuai tujuan Agama Hindu yaitu Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma. Terimakasih. “Tan Hana Wwang Swasty Hayu Nulus”  tidak ada manusia yang sempurna.

Om Santih, Santih, Santih Om 


Made Ayu Yuliandini, S Pd, M.Pd (Rohaniwan Hindu)