Tri Kaya Parisudha dan Toleransi Umat Beragama

Om Swastyastu. Om Anobhadrah kertavyantu viswatah. Bapak ibu umat sedarma sekalian yang berbahagia. Mimbar Hindu kali ini membahas pesan dharma tentang “Pentingnya Toleransi Antar Umat Beragama”. Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. 

Ada banyak agama di Indonesia, namun tujuannya sama, yaitu memuja Tuhan Yang Maha Esa, walau dengan sebutan yang berbeda-beda. Sikap toleransi perlu diterapkan di antara semua perbedaan. Dengan menghargai dan menghormati agama atau kepercayaan orang lain, secara tidak langsung kita sudah memuliakan agama sendiri, begitu juga sebaliknya. 

Semua agama dan kepercayaan mengajarkan kebaikan. Maka, agama bukan untuk menyerang orang lain tetapi untuk meredam ego yang ada dalam diri kita masing-masing. Tidak ada suatu agama dan kepercayaan yang mengajarkan suatu kejelekan pada penganutnya. 

Dalam Agama Hindu, banyak sumber ajaran yang mengandung pesan toleransi. Misalnya, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, Tri Pararta, Wasudewa Kutum Bhakam yang dibingkai dalam konsep Tat Twam Asi, dan lainnya. Ajaran Tri Kaya Parisudha menitikberatkan pengendalian tiga hal, yaitu pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan. 

Terkait pengendalian pikiran, dalam pustaka Sarasamuccaya sloka 80 dikatakan: Ikang manah ngarannya, ya tika witning Indriya, maprawerti ta ya ri subha asubha karma, matanngian ikang manah juga prihen kartiinya sekareng. (Yang disebut pikiran itu adalah sumber dari segala nafsu. Pikiran itu dapat membuat manusia bisa berbuat baik ataupun buruk. Maka dari itu, sesegera mungkin kendalikanlah pikiran kita itu. Jadi sangat penting kita mengendalikan pikiran kita terlebih dahulu). 

Dalam sekar alit dengan memakai pupuh sinom, juga ada suatu gita yang mengulas tentang pentingnya pengendalian pikiran: Siksa dewa ngamong manah, anak sebet kadi tatit, pesun manah dadi karsa, tatiga punika cening. (Kontrol lah selalu pikiranmu, karena pikiran itu kecepatannya melebihi kecepatan petir. Ketika panca indria diikuti oleh pikiran, maka akan berwujud sebuah keinginan. Tiga hal itu yang harus dikendalikan yakni pikiran, perkataan, dan perbuatan).

Tentang pengendalian perkataan, dalam Kekawin Nitisastra yang mana wiramnya Kusuma Wicitra, dikatakan: Wasita nimittanta manemu Laksmi, Wasita nimittanta Pati kepangguh, Wasitha nimittanta  manemu Duhka, Wasita nimittanta manemu Mitra. (Dengan kata-kata, kita bisa menemukan kebahagiaan. Dengan kata-kata, kita bisa menemukan kematian. Dengan kata-kata, kita bisa menemukan kedukaan. Dengan kata-kata, kita bisa menemukan sahabat). 

Sedangkan terkait pengendalian tingkah laku, dalam falsafah Jawa dikatakan:  Ala ulah ala tinemu (perbuatan buruk yang kita lakukan maka buruk pulalah yg kira tuai). Ayu kinardi  ayu pinanggih (perbuatan baik yang kau lakukan, maka kebaikan pulalah yang kita rasakan).

Bapak ibu yang dikasihi Brahman. Tiga hal ini hendaknya kita budayakan, kukuhkan dalam diri kita masing-masing agar tercipta kedamaian. Setiap peristiwa bisa dijadikan contoh, agar kita dapat mengontrol pikiran, perkataan, maupun perbuatan, sehingga  tidak menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain.  Kalau sudah tau dicubit itu sakit, maka janganlah mencubit orang lain

Bapak ibu umat sedharma yang budiman. Menjadi keharusan bagi umat Hindu untuk bertoleransi. Mari, kita menjadikan keberagaman dan perbedaan ini menjadi suatu hal yang indah, seperti halnya sekian warna pelangi yang mempesona dan indah dipandang. Om Santih Santih Santih Om. 

Ketut Sudaria, S.Pd.H, M.Pd (Rohaniwan Hindu)