Tuhan, Kepada Siapakah Kami Akan Pergi?

Suatu ketika, saya pernah melihat dan mendengarkan sebuah kesaksian seseorang yang dulunya beragama tertentu pindah dan masuk agama lain di salah satu channel Youtube. Orang tersebut menceritakan dengan berapi-api bagaimana dulunya ia adalah seorang agama tertentu yang “setia dan taat”. Ia terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan orang muda, bahkan sempat memerankan salah satu pemain drama kisah tokoh agama tertentu.

Tetapi, seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan kedewasaannya, ia bersaksi bahwa suatu saat ada kekosongan batin dan kemudian ia memutuskan untuk berpindah dari agama tertentu ke agama lain yang sebelumnya telah berdiskusi dengan teman-teman seagamanya maupun teman-teman yang agama lain dan menghasilkan permenungannya yang panjang.

Injil Yohanes 6:60-69 hari ini juga memberikan kesaksian dan pengalaman yang kurang lebih mirip sama dengan kisah cerita tadi, yaitu bagaimana para murid Yesus yang selama ini mencari dan mengikuti, serta melihat banyak mukjizat-Nya, tetapi akhirnya kecewa dan meninggalkan Yesus karena ternyata pribadi Yesus dan ajaran-ajaran-Nya tidak sesuai dengan keinginan dan harapan, bahkan tidak menyenangkan hati dan pikiran mereka: “perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60); “mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia” (Yoh 6:66).

Tampaknya, para murid yang sudah mengikuti Yesus ke mana-mana itu belum bisa menyelami dan mengerti dengan benar tentang siapakah Yesus itu. Hal ini dapat terjadi karena mereka seringkali membangun perspektif atau gambaran-gambaran tentang pribadi Yesus menurut selera alam pikiran dan keinginan mereka saja. Sehingga, ketika pribadi Yesus yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan dan harapkan, lantas mereka pergi dan meninggalkan Yesus.

Kita pun akan jatuh pada sikap perilaku sama seperti para murid yang meninggalkan Yesus, ketika kita memiliki gambaran tentang pribadi Yesus menurut pikiran dan keinginan kita sendiri. Dalam kehidupan, seringkali kita mau mendikte Tuhan, memaksa Tuhan bertindak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Dan ketika keinginan dan harapan kepada Tuhan Yesus tidak terjadi atau tidak terpenuhi, maka lalu kita marah, mengumpat, putus asa, bingung, membenci, dan akhirnya mencari jalan pintas meninggalkan Tuhan Yesus dan menganggap masalahnya selesai.

Apakah meminta dan mengharapkan sesuatu berkat dan karunia untuk menopang kehidupan kita dari Tuhan Yesus itu tidak baik? Tentu hal itu sesuatu yang sangat baik dan luhur. Tetapi ketika permintaan dan pengharapan kita kepada Tuhan Yesus tidak terjadi atau belum terjadi atau bahkan sudah terjadi, tetapi berbeda dan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, baiklah kalau kita tetap menerima semua peristiwa yang ada sebagai kasih dan karunia Tuhan Yesus kepada kita.

Hendaklah kita dapat membuka hati dan pikiran yang jernih, bersikap tenang, serta dapat merenungkan, serta mencari makna dari sesuatu yang kita terima. Apapun itu, diterima sebagai rencana dan kehendak Tuhan Yesus yang terbaik kepada kita. Bukan sebaliknya, dengan tegar hati terus memaksakan keinginan dan kehendak kita kepada Tuhan Yesus supaya memenuhi keinginan kita.

Begitulah seharusnya seseorang beriman Katolik yang benar dan dewasa kepada Tuhan Yesus. Senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Entah itu menurut ukuran kita tidak baik atau tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Seraya tetap berdoa dan berpasrah dalam menjalani kehidupan kita dan selalu percaya bahwa Tuhan Yesus memiliki rancangan yang baik, rencana yang indah bagi kita anak-anak-Nya. Karena Allah sejak awal mula menciptakan-menghendaki manusia dapat hidup dalam kelimpahan dan berbahagia bersama-Nya.

Marilah kita beriman dengan rendah hati, tulus, dan setia serta sikap percaya seperti Simon Petrus, yang berkata: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah”.

Kita memohon kepada Tuhan Yesus agar mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk membimbing, menolong, dan menarik serta mengarahkan kita dalam beriman kepada-Nya. “Tuhan Yesus adalah jalan, kebangkitan, dan kehidupan. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6).

Dialah roti kehidupan kekal yang telah turun dari surga yang sudah dikaruniakan oleh Allah Bapa-Nya kepada kita. Mari kita senantiasa hidup dengan penuh syukur, menerima kasih karunia Allah itu dengan menjadi “ragi, garam, dan terang dunia” melalui apapun profesi, tugas dan karya kita masing-masing.

Fransiskus Kariyanto (Pembimas Katolik Provinsi Jawa Tengah)


TERKAIT

Belenggu Individual

Berbaktilah!

Belenggu bagi Gharavasa