Tuhan Menjadi Penolong di Masa yang Sukar

Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja. Merupakan suatu kebahagiaan bila kita dapat beribadah kepada Tuhan. Terlebih lagi hari kedatangan Tuhan Yesus sudah semakin dekat. Kita harus semakin bersemangat dalam mempersiapkan diri, bagaikan lima gadis bijaksana yang membawa pelita yang menyala dan juga minyak dalam buli-buli mereka untuk menantikan mempelai laki-laki datang.

Janganlah kita seperti lima gadis yang bodoh, sekalipun membawa pelita tetapi mereka menganggap ringan dalam menanti kedatangan mempelai laki-laki sehingga mereka tidak membawa minyak. Marilah kita bersemangat beribadah untuk menerima Firman Tuhan, sekalipun kadang-kadang Firman Tuhan itu tajam bagaikan pedang yang bermata dua saat mengoreksi dosa kita.

Sebelum kedatangan Tuhan Yesus sebagai Mempelai Pria Sorga, akan datang masa yang sukar sebagaimana dituliskan pada 2 Raja-Raja 6:24-33, di mana terjadi kelaparan yang sangat hebat di Samaria ketika Benhadad, raja Aram, dengan seluruh tentaranya mengepung. Penduduk Samaria dalam keadaan tidak berdaya hingga mereka mengalami kelaparan. Pada saat raja Israel berjalan di atas tembok, datanglah seorang perempuan datang meminta pertolongan kepada raja. Namun karena demikian hebatnya kelaparan, raja pun tidak dapat menolong.

Bila kita baca di 2 Raja-Raja 6:28-30 disebutkan, “Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki. Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya." Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya.” Melalui ayat ini dapat kita bayangkan betapa ngerinya keadaan yang terjadi pada saat itu. 

Masa-masa sulit yang pernah terjadi di Samaria juga dapat terjadi di hari-hari akhir sekarang. Krisis perekonomian sedang membayangi banyak negara yang mengakibatkan kejahatan juga bertambah dan krisis perekenomian terutama masalah pangan merupakan masalah yang paling berat melebihi kebutuhan yang lainnya. Pada saat hal ini terjadi, tidak ada manusia yang dapat memberikan pertolongan, bahkan setinggi seorang raja yang mempunyai kekuasaan yang besar pun tidak dapat menolong. 

Pertolongan kita hanya dari Tuhan melalui kuasa Firman-Nya, sebagaimana disebutkan “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.” Saat ini merupakan kesempatan yang baik selagi keadaan masih baik-baik saja, untuk mencari Firman Tuhan, bagaikan mengumpulkan “gandum” sebagai cadangan makanan bila masa kelaparan datang. Jika sekarang kita mau “mengumpulkan” Firman Tuhan, maka Tuhan pasti menjadi pertolongan kita. Dia tidak pernah kekurangan cara untuk menyatakan pertolongan-Nya, karena melalui Firman-Nya sanggup mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada. 

Roma 4:17 menuliskan: “seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.”

Janganlah kita sekarang merasa tidak perlu Firman Tuhan apalagi mengabaikannya, tetapi baiklah kita merasa membutuhkan Firman Tuhan senantiasa dalam hidup kita setiap hari. Kita akan merasakan kuasa Firman Tuhan menjadi nyata jika kita mau percaya. Tanpa percaya maka kita tidak akan pernah mengalami kuasa Firman Tuhan. Pada 2 Raja-Raja 7:1-20 dituliskan, Tuhan berfirman melalui Elisa bahwa besok akan ada kelimpahan makanan, hingga sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria. Tetapi ada seorang perwira, ajudan raja, yang tidak percaya dengan berkata: “Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?”

Keesokan hari sebagaimana Firman Tuhan, Tuhan membuat tentara Aram lari ketakutan karena mendengar seolah ada pasukan yang besar yang akan menyerang mereka. Mereka melarikan diri dan meninggalkan segala harta benda dan makanan di perkemahan mereka. Sementara itu di pintu gerbang kota Samaria terdapat empat orang kusta. Mereka memberanikan diri mendatangi perkemahan tentara Aram dan mendapati bahwa perkemahan itu telah ditinggalkan.

Keempat orang kusta ini segera kembali ke kota Samaria untuk memberitahukan kabar baik ini. Maka keluarlah penduduk Samaria ke perkemahan tentara Aram dan terjadilah kelimpahan makanan sebagaimana yang sudah difirmankan Tuhan melalui Elisa. Tuhan sanggup membuat mujizat tetapi hanya bagi orang yang percaya. Perwira, ajudan raja, yang tidak percaya hanya dapat melihat mujizat itu namun dia tidak ikut mengalaminya, karena dia mati terinjak-injak penduduk kota pada saat dia mengawasi pintu gerbang.

Betapa sangat disayangkan jika kita sudah mendengar Firman Tuhan, mendengar segala janji-janji-Nya, tetapi karena kita tidak mau percaya maka pada saat janji Firman Tuhan itu digenapi, kita hanya dapat melihatnya tetapi tidak ikut merasakan atau mengalaminya. Percayalah! Bukalah hati kita untuk Firman Tuhan, karena sesulit apapun keadaan kita, Tuhan sanggup menolong dengan cara-Nya yang ajaib. Oleh kuasa Firman-Nya, sanggup mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada, asal kita percaya. Jika kita mau bersungguhsungguh hidup di dalam Tuhan dan percaya serta menerima Firman-Nya di dalam hati kita, maka kita pasti merasakan pembelaan dan pemeliharaan Tuhan. 

Dalam kisah di atas, musuh dikalahkan merupakan bukti pembelaan-Nya dan makanan berlimpah merupakan bukti pemeliharaan-Nya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. Haleluya! Amin.

 

Pdt. Frengkie Jehaziel Tangka, M.M. (Gereja Tabernakel Tubuh Kristus, Malang)