Umat Buddha Perlu Maknai Hari Waisak Sebagai Kedamaian

Semarang, 13/5 (Pinmas) - Ketua Pengurus Cabang Majelis Agama Buddha Teravada Indonesia Kota Semarang, D. Henry Basuki mengharapkan, umat Buddha supaya dapat memaknai Hari Waisak sebagai berkah dan kedamaian bagi seluruh alam semesta. Selain itu mempertebal keimanan dan keyakinan secara agama, melaksanakan kehidupan sesuai dengan dharma, serta menjaga kerukunan intern umat Buddha, antara umat Buddha dengan umat beragama lain serta kerukunan umat beragama dengan pemerintah, katanya pada silaturrahmi Waisak umat Buddha dan tokoh agama di Semarang, Sabtu.

Ia mengatakan, semua pihak perlu meningkatkan aktivitas spiritual yang akan mewujudkan keteguhan batin dan juga ketenteraman masyarakat. Kemerosotan moral dikarenakan kurangnya pemahaman agama serta tidak adanya pemahaman budaya."Marilah kita pertahankan kerukunan dengan sesama umat Buddha serta sesama umat beragama. Kerukuran umat akan terjalin bila dilandasi dengan moral etik yang merupakan penjabaran adanya kerjasama dengan dilandasi pengertian serta toleransi, karena menghargai sesama bukannya merasa dirinya lebih baik dari pihak lain," katanya.

Kalau hal ini dapat dilaksanakan oleh masing-masing individu, maka akan terwujud kerukunan serta kesejahteraan bagi bangsa yang majemuk ini, katanya. Menurut dia, moral etik itu pada dasarnya sudah ada dalam hati setiap manusia, tetapi karena sering melupakan kaidah-kaidah agama dan tidak ada pengendalian, maka moral etik itu menjadi tertutup.Ia mengatakan, umat Buddha di seluruh dunia hari ini 13 Mei 2006 memperingati Hari Waisak 2550 dengan detik Waisak pukul 13.50.50 WIB Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa yang bersamaan yaitu saat kelahiran Pangeran Siddharta di bawah pohon Sala di Lumbinia pada 623 SM, saat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung di bawah pohon Bodhi di Gaya pada 588 SM, mulai saat itu disebut Buddha dan saat panibbana (wafat) Sang Buddha di bawah pohon Sala di Kusinegara pada 543 SM.

Ketiga peristiwa itu diperingati pada hari dan detik yang sama. Umat Buddha mengenang peristiwa agung tersebut sebagai penghormatan atas kebesaran Sang Buddha, sekaligus mengenangnya untuk dikaji, karena melalui Sang Buddha dapat mengenal kenyataan mulia yang tergelar dalam alam semesta ini, katanya. (Ant/Ba)