Umat Buddha Supaya Maknai Hari Raya Waisak Dengan Beribadah

Semarang, 24/4 (Pinmas) - Umat Buddha supaya dapat memaknai Hari Raya Waisak 2550, yang jatuh 13 Mei 2006, dengan melaksanakan ibadah di Vihara maupun secara nasional di komplek Candi Borobudur, kemudian di tengah keluarga, kata Ketua Pengurus Cabang Majelis Agama Buddha Treravada Indonesia Kota Semarang, D. Henry Basuki. Dalam pembinaannya dihadapan umat Buddha di Vihara Tanah Putih Semarang, Minggu, ia mengatakan, umat Buddha hendaknya dapat menunjukkan jatidirinya di Vihara, di masyarakat maupun di rumah, dan perilaku berhari raya menyesuaikan dengan kebiasaan di tempat tinggal.

Memaknai Hari Raya Waisak 2550, umat Buddha hendaknya dapat menempatkan dirinya sebagai seseorang berhari raya, katanya. Ia menjelaskan, eksistensi agama Buddha pernah lenyap sejak akhir abad ke-15, muncul kembali awal abad ke- 20 dengan datangnya Bhikkhu Narada yang secara tekun mengajarkan kembali ritual agama yang "hilang" sekitar 500 tahun. Bertitik tolak Perayaan Waisak 1953 di Borobudur menandai eksisnya kembali agama Buddha di Bumi Indonesia.Pengakuan Hari Raya Waisak, kata dia, merupakan salah satu tolok ukur eksistensi agama Buddha yang diperjuangkan oleh pemuka agama Buddha sebagai hari raya resmi."Kalau pada saat ini kita rayakan Waisak dalam libur nasional, umat Buddha hendaknya dapat memperoleh manfaat akan hari raya tersebut dengan menempatkan jatidirinya sebagai umat Buddha Indonesia," katanya.Mengenai upacara Waisak Nasional 2550 di Candi Borobudur, menurut dia, umat Buddha hendaknya dapat menentukan pilihannya, hadir di Borobudur atau berada di basis Vihara.

Nilai peribadatannya sama. Bagi mereka yang tepat Hari Waisak tidak dapat memperoleh manfaat libur karena pekerjaannya, peribadatan Waisak tetap wajib dilaksanakan. "Kita dapat melaksanakan tugas maupun peribadatan secara bergantian," katanya.Menyinggung rangkaian acara Waisak 2550 di Borobudur, kata dia, acara dimulai 11 Mei 2006 dengan pengambilan air dari Umbul Jumprit, dekat Parakan. Tanggal 12 Mei 2006 pengambilan api alam dari Merapen, sedangkan ucapara ritual menyongsong detik waisak dilaksanakan di dalam Candi Mendut, 13 Mei 2006 pukul 13.00 WIB.Prosesi atau kirap keagamaan dimulai pukul 14.30 WIB dari halaman Candi Mendut, menyinggahi Candi Pawon menuju Pelataran Barat Candi Borobudur. Di Pelataran Candi tersebut dilaksanakan Puja Bakti hingga senja, dilanjutkan dengan dharmasanti (resepsi) di zona II kawasan candi Boroburudur, katanya. (Ant/Ba)