Uposatha

“ …tasmā hi nārī ca naro ca sīlavā, aṭṭhaṅgupetaṃ upavassuposathaṃ.
puññāni katvāna sukhudrayāni, aninditā saggamupenti ṭhānan”ti. 
“…Oleh karena itu seorang perempuan atau laki-laki yang bermoral setelah menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor, dan setelah melakukan jasa yang menghasilkan kebahagiaan, pergi tanpa cela menuju alam surga” Uposatha Sutta (Anguttara Nikaya 3.70)

Kesempurnaan diri dalam ajaran Buddha salah satunya dibangun dari kesempurnaan moral atau perilaku. Dalam jalan mulia berunsur delapan, moralitas yang benar terbagi menjadi tiga faktor yakni ucapan benar, perbuatan benar, dan mata pencaharian benar. Ketiganya menjadi landasan kesempurnaan moralitas untuk terbebas dari penderitaan. 

Kesempurnaan moralitas tentu saja tidak diperoleh dengan begitu saja tetapi melalui proses latihan yang panjang dan memerlukan waktu yang tidak singkat. Latihan menjadi kunci menuju kesempurnaan ini. Pengendalian diri dalam ucapan, perbuatan, dan mata pencaharian yang tidak merugikan siapapun dan justru sebaliknya memberi manfaat bagi siapapun adalah prinsip utamanya. Itulah yang harus dilatih sepanjang kehidupan. 

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari meskipun seseorang telah secara prinsip memegang latihan ini tetapi karena kurangnya ‘awareness’ dapat saja jatuh dalam pelanggaran moral. Oleh karenanya kesadaran akan moralitas ini perlu dilatih lebih intensif. Dalam tradisi Buddhis dikenal istilah uposatha (bahasa Pali) atau Upavassatha (bahasa Sanskerta) sebagai hari penting untuk mawas diri, melihat ke dalam mengamati pikiran, membersihkan kotoran batin dan menjaga diri dalam delapan aturan moral (atthasila).

Dalam cara pandang umum sering dimaknai sebagai hari berpuasa. Inilah hari di mana umat Buddha dapat melatih secara intensif kesempurnaan moralitas, menjalani setiap aktivitas dengan kesadaran agar tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan. Umat Buddha dapat melatihnya pada setiap bulan gelap (tanggal 1 penanggalan bulan) dan bulan purnama (tanggal 15 penanggalan bulan) serta di sela-selanya sehingga dalam satu bulan setidaknya kita bisa melatih selama empat kali. 

Dalam Uposatha Sutta (Anguttara Nikaya 3.70) latihan kesempurnaan moralitas yang dianjurkan oleh Guru Agung Buddha dalam menjalani uposatha adalah uposatha para ariya yakni hal-hal yang dilakukan oleh para Arahat.  Uposatha ini didasari dengan renungan kehidupan Arahat yang menghindari dan meninggalkan delapan hal yakni: membunuh; mencuri; aktivitas seksual; berbohong; minum-minuman keras; makan setelah tengah hari; menikmati hiburan dan berhias (menari, menyanyi, bermain musik, melihat tontonan, memakai wewangian dan menghias diri); dan tidur di tempat yang tinggi dan mewah. Para Arahat setelah menghindari dan meninggalkan delapan hal itu mendapatkan manfaat besar oleh karenanya jika hal ini ditiru maka seseorang juga akan mendapatkan manfaat besar dari praktik uposatha ini.

Agak berbeda dengan puasa secara umum, Uposatha adalah latihan hidup berkesadaran dengan menjaga kemurnian diri dalam delapan cara hidup para Ariya. Tanpa kesadaran, awareness, mawas diri maka menjalani uposatha seperti menjalani kewajiban saja bahkan yang timbul dalam pikiran bukan ketenangan dan kegembiraan tetapi keterpaksaan. Hal itu menjadi tidak sejalan dengan ajaran Buddha bahwa praktik sila adalah untuk mencapai kebebasan dari penderitaan. Praktik sila dalam uposatha hendaknya didasari dengan kesadaran sehingga menghasilkan ketenangan dan kejernihan dari kotoran batin. 

Selamat menunaikan latihan uposatha bertepatan dengan Hari Asadha 2566 BE (Buddhist Era) tanggal 13 Juli 2022. Semoga berkah kebahagian senantiasa terlimpahkan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.